Fransescorner
Fransescorner

Penulis buku "Matamatika", blogger www.fransescorner.com dan berprofesi sebagai Guru di Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Murid Puber vs Guru Tegas

27 Mei 2015   19:50 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:32 144 0 0

Menjadi wali kelas di kelas 2 SMP merupakan tantangan tersendiri bagi setiap Guru. Demikian juga halnya yang dialami oleh Pak Sis. Saat rapat kerja untuk tahun ajaran baru, Kepala Sekolah mengumumkan bahwa Pak Sis sebagai wali kelas 2E dan ditambah dengan catatan bahwa murid – murid di kelas 2E adalah kumpulan murid yang nilainya pas – pas an dan sikapnya bermasalah. Tentu saja berita ini bagaikan petir di siang bolong. Tanpa harus ada pernyataan dari Kepala Sekolah pun sebenarnya menjadi wali kelas 2 SMP sudah cukup berat tantangannya. Umur murid kelas 2 SMP seringkali disebut sebagai masa puber dimana banyak murid mulai berubah baik secara fisik maupun psikis.

Saatnya tiba masuk kelas hari pertama di tahun ajaran baru, Pak Sis bertemu dengan para “murid” istimewanya. Seperti biasa pertemuan pertama diisi dengan perkenalan dan pembentukan struktur organisasi kelas.  Hari pertama berjalan sangat aman terkendali, namanya juga hari pertama. Seminggu berlalu dan “murid-murid” Pak Sis masih aman terkendali. Namun saat memasuki minggu kedua, Pak Sis mulai mendapat keluhan dari tiga Guru langsung. Dimana keluhan tiga Guru tersebut seperti nyanyian vokal grup, isinya sama yaitu kelasnya berisik. Seperti biasa Pak Sis pun menanggapi keluhan tersebut dengan senyum dan ucapan terima kasih. Tanpa harus berkoar – koar, beliau mendatangi beberapa siswa yang sedang istirahat dan menanyakan bagaimana keadaan kelas. Dengan semangat 45, beberapa siswi mengatakan “wah seru Pak tadi kelas kita rame banget, Guru Bahasa Inggris dikerjain satu kelas abisnya salah ketika mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris, melafalkan The Best bilangnya Ndhe Bes (Aksen Jawa)”. Lalu dengan tenang Pak Sis menanggapi, “wah seru sekali sepertinya, saya jadi ingin masuk ke kelas Bahasa Inggris”.

Tanpa sepengetahuan para murid, akhirnya Pak Sis melakukan SIDAK dan ketika masuk kelas semua siswa langsung terdiam. Dan dengan cepatnya Ibu Guru Bahasa Inggris langsung curhat ditempat sambil menunjuk seorang biang kerok kelas tersebut sembari melontarkan kata “minus” saja Pak Sis biar ga naik kelas. Jelas saja murid yang dibilang biang kerok tidak terima, namun dengan penuh ketegasan Pak Sis hanya berkata “STOP, pulang sekolah kamu bertemu saya”. Kemudian Pak Sis pun permisi dan meninggalkan kelas tersebut. Saat istirahat, seperti biasa Pak Sis mengunjungi kelasnya dan bertanya kepada beberapa muridnya tentang keadaan kelas. Masih dengan semangat 45 salah satu siswa menjawab “aman Pak semenjak Pak Sis SIDAK kelas jadi tenang”. Lalu Pak Sis pun mengatakan “bagus kalau begitu semoga lebih oke kelas kita ke depan.” Tibalah waktu pulang sekolah dan tibalah pula Pak Sis bertemu empat mata dengan sang biang kerok (katanya). Pertemuan ini unik karena Pak Sis hanya menginstruksikan “Ceritakan semua yang kamu lakukan selama ini sampai Guru Bahasa Inggris menjulukimu biang kerok dan tuliskan seperti kamu mengarang dalam pelajaran Bahasa Indonesia”. Sang murid pun menuliskannya sambil menemani Pak Sis koreksi ulangan. Hampir satu jam berlalu, akhirnya selesai juga tulisan karya sang biang kerok. Dengan santai pun Pak Sis membaca isi tulisan siswa tersebut, disana tertulis bahwa Ibu Guru Bahasa Inggris menyebalkan karena bisanya hanya menyuruh siswa mengerjakan soal dan itu membuatnya bosan. Dari tulisan sang biang kerok ini, Pak Sis menanggapi dengan pernyataan “setiap orang punya kelemahan termasuk kamu dan saya, namun bisakah kita melihat sisi baik dari orang lain khususnya Guru Bahasa Inggrismu? Jadilah lebih baik.”

Jika ditelaah lebih dalam lagi, kisah Pak Sis ini kaya akan banyak makna. Pertama, beliau tidak menghakimi atau mentertawakan rekan Guru dan para murid spesialnya. Kedua, beliau selalu menyempatkan mampir dan bertegur sapa walaupun sejenak dengan tujuan mengetahui langsung bukan berdasar pada kata “katanya”. Pada dasarnya, murid itu butuh sapaan apalagi kalau memasuki masa – masa puber. Ketiga, menghadapi “murid” istimewa dilakukan dengan memanggil secara personal dan tidak banyak berkata – kata dan masih banyak lagi makna lainnya yang dapat digali bersama. Selamat menggali dan menemukan sisi baik.