Florensius Marsudi
Florensius Marsudi karyawan swasta

Sedang belajar...

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Kalau Engkau Cinta, Mengapa Engkau Pergi?

17 Juli 2018   02:07 Diperbarui: 17 Juli 2018   02:05 386 9 6

Sebenarnya aku tak layak menuliskan tulisan ini. Tapi hatiku mendorongku untuk menggoreskan rasaku itu di media ini. Aku tak memiliki maksud apa-apa, aku hanya ingin berbagi rasa.

Coba engkau bayangkan. Engkau yang sudah pernah kupeluk dengan mesra, bahkan pernah kucium (sekalipun mencuri-curi, maaf), selang sekian waktu, hanya karena alasan status, engkau merasa jengah terhadap diriku.

Ya, kuakui aku hanya anak babu. Babu yang mungkin hanya menjadi kesed (alas pembersih kaki) bagi orang lain, namun martabatku tak serendah alas kaki itu. Mengapa bisa begitu? 

Kutahu kacamatamu terlalu sempit dipakai, dan terlalu kabur digunakan untuk memandang. Kesempitan dan kekaburan itulah yang mungkin membawamu pada keputusan: pergi dariku.

Berulang kali, kau katakan, "Mas, aku mencintaimu, mas aku sayang kamu....kamu segalanya..."  
Kala itu, aku seperti mabuk arak sekendi. Mabuk  aku mendengar kata manismu. 

Tapi...itu sudah berlalu. Saat itu aku hanya bisa memahami diri, sekaligus menghibur diri.

Setelah itu, kuberharap dapat mengetahui keadaanmu, sekalipun kau pergi. Ya pergi dengan sejuta kenangan. Ku berharap dirimu mendapatkan yang lebih baik dariku. Dirimu bahagia. Sekata, bahagia.

Entahlah, dunia berkata lain. Dunia bergulir sesuai waktunya, bukan waktuku, bukan waktumu.  Cintamu dikaparkan di jalan oleh lelaki pujaanmu. Pekerjaanmu diberhentikan di persimpangan menanjak. Anak-anakmu kesandung masalah.  Mereka merana di balik tembok yang terawasi. 

Aku bisa berasa apa?

-------------
coretan flo, ujung kampus 17/7/2018