Mohon tunggu...
fleo
fleo Mohon Tunggu...

sedikit memberi pencerahan

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Membangun Jakarta?

7 Februari 2019   07:05 Diperbarui: 7 Februari 2019   12:06 0 1 2 Mohon Tunggu...
Membangun Jakarta?
jakarta-information-5c5b8bde677ffb769d29f568.jpg

Jakarta, merupakan kota metropolitan yang terbesar di Indonesia & menjadi tumpuan ekonomi lebih dari 8 juta penduduknya. Lebih dari 10 juta unit kendaraan mengalir kesana-kemari di jalanan Jakarta setiap harinya. Kereta komuter mengantarkan hampir 1 juta orang ke kantornya setiap pagi & satu juta orang yang sama kembali ke rumahnya pada sore harinya.

Sudah tidak asing lagi di telinga kita, kampanye "merdesa" yang mengajak perantau-perantau untuk mempertimbangkan pulang ke daerah asalnya. Oleh sebab itu, selalu dikatakan bahwa Jakarta sudah sesak, terlalu padat & "overload". Seolah-olah para perantau menjadi biang kepadatan & "instabilitas" di jakarta?

Sepeda Motor menjadi biang kemacetan? sampah ato manusia yang mendatangkan banjir?

Tidak salah, memang kambing hitam sangat diperlukan ketika kebijaksanaan sudah punah dari peradaban.

Sejujurnya, perlu kajian lebih mendalam & rinci mengenai kemacetan, sampah, dan porsi kepadatan di jalanan jakarta. Dari situ akan ditemukan, siapa & kendaraan apa yang memberikan kontribusi lebih besar kepada kepadatan jalan, sampah, polusi, & kemacatan. 

Demikian juga dengan ukuran ketebalan endapan sungai yang mengurangi daya tampung air, nah dari mana endapan itu berasal? mengapa ada endapan di sana? apa solusinya?

Pernahkah dihitung kontribusi ekonomi penduduk "perantauan" kepada Jakarta secara riil? jujur, semua orang tau, Jakarta akan "limbung" kalau semua penduduk perantauan yang menggerakkan roda perekonomian meninggalkan Jakarta. 

Nah, bagaimana relevansi pendapat yang mengatakan bahwa penduduk musiman (perantauan) adalah kelompok yang paling bertanggungjawab atas kepadatan, kekumuhan, bahkan kejahatan di Jakarta?

Pertanyaannya, apa yang telah diberikan Jakarta kepada para pejuang-pejuang ekonomi itu (yang dengan rela "menghidupkan" kota)?

Apakah taman? jalan raya? rel kereta? ruang hijau/ bermain? ataukah lahan perumahan sudah terjangkau dan layak?

Menyalahkan realitas sunguh bukan pekerjaan yang baik. Pekerjaan semacam itu harus kita hindari untuk bisa melangkah maju & mengumpulkan alternatif penyelesaian setiap masalah yang kemudian harus dilaksanakan. 

Kenapa kita tidak berpikir untuk membangun Jakarta saja, menjadi lebih besar & kuat, agar Jakarta lebih siap menjadi tumpuan ekonomi 10 juta orang? Bagaimana mengatasi ketimpangan pendapatan di Jakarta? mana yang harus dimulai lebih dulu, mengatasi kelebihan debit air atau kemiskinan? atau kemacetan? tidak mudah memang...

Meningkatkan daya tampung saluran air, disiplin jalan raya, rumah murah, & kebijakan arah pengembangan kota harus akuntabel dan efisien yang pada gilirannya semua itu akan menigkatkan daya topang ruang & struktur perekonomian Jakarta. 

Karena sesungguhnya, tidak ada jalan lain kecuali membangun, membangun & terus membangun Jakarta untuk menyediakan lahan lebih luas, jalan yang lebih panjang, saluran air yg lebih dalam, rumah dan pekerjaan bagi lebih banyak orang yang menggantungkan mimpinya di langit Jakarta. Inilah pekerjaan rumah kita bersama. Ayo kerja, kerja, kerja.

Cintai Jakarta, maju terus Indonesia !