Sigit Santoso
Sigit Santoso Karyawan Swasta

fair play, suka belajar dan berbagi pengalaman http://fixshine.wordpress.com https://www.facebook.com/coretansigit/

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Demokrasi Riang Gembira

11 Agustus 2018   11:05 Diperbarui: 11 Agustus 2018   12:00 290 1 0
Demokrasi Riang Gembira
Jokowi dan KH Ma'ruf Amin resmi mendaftar ke KPU (gambar news.detik.com)

"Saya ingin agar bersama-sama menjadikan proses pemilu ini benar- benar menjadi kegembiraan berdemokrasi. Dimana setiap orang berdemokrasi dengan penuh riang gembira,"

Kalimat tersebut di atas adalah petikan sambutan Jokowi usai mendaftarkan diri sebagai capres dan cawapres bersama KH Ma'ruf Amin

Saya sangat mengapresiasi pesan tersebut. Pesan yang tertuju untuk tim relawan Jokowi-Ma'ruf Amin sekaligus kubu lawan. Mengapa ?

1. Politik itu pertarungan kepentingan

Dalam koalisi mau menang sendiri berarti dukungan tidak solid. Jika tidak solid, mudah dikalahkan. Pemilihan KH Ma'ruf Amin sekaligus drama pembatalan Mahfud MD bisa jadi membuat baper segolongan relawan. Kekecewaan itu manusiawi. Namun, kekecewaan itu tidak akan ada artinya untuk kepentingan yang jauh lebih besar, kemenangan yang hakiki yaitu persatuan dan kesatuan saudara sebangsa setanah air Indonesia. 

Maka tetap bergembiralah Jokowi memilih ulama yang moderat dan pemersatu.

2. Bagi kubu lawan Jokowi, mari bertarung adu gagasan, adu prestasi membangun negeri 

Karena soal agama yang pernah menjadi sentimen dari sisa-sisa luka "penistaan agama oleh Ahok" sudah selesai. Tak elok memilih pemimpin dengan saling menjatuhkan. Rakyat harus ditawari pilihan yang terbaik dari pilihan terbaik, bukannya yang terbaik dari terburuk.

Mari beriang-riang dalam demokrasi karena boleh berbeda warna, tapi kecintaan kita terhadap satu Indonesia adalah satu.

GOLPUT ? Ya janganlah, meski bisa juga berpendapat golput adalah pilihan juga. Tapi, kalau anda hidup dengan segalanya dari bumi Indonesia masak tidak mau menjadi bagian dari proses penting negara ini. Kalau anda mengeluh ? Anda tak bisa lepas tanggung jawab karena membiarkan proses terpilihnya pemimpin yang salah. Kalau anda diam nurut-nurut saja, ya sama saja anda mendukung juga pemimpin yang salah bisa terpilih.

"...Kang, tapi saya ga sreg sama cawapresnya," suara sebelah saya menyentil.

"..Lha kamu ikut mikirin siapa cawapresnya ga kemarin ?"

Pasti jawabannya enggak. Itu sama saja ke restoran cepat saji semisal KFC, Mc Donald, lalu begitu liat menu yang ditawarkan nanya ke pelayannya

" Mbak ada nasi pecel ga ?"

Pesta demokrasi itu adalah obral prestasi, bukan emosi. Sederhana.

Serius sekaligus Sportif.