Mohon tunggu...
Fitry Wahyuni
Fitry Wahyuni Mohon Tunggu... Mahasiswa Hubungan Internasional '19, Universitas Islam Indonesia.

Email: fitrywahyuni66@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Benua yang Berbeda

18 September 2020   12:24 Diperbarui: 18 September 2020   12:29 23 4 1 Mohon Tunggu...

Yogyakarta, 18 September 2020

Malam semakin larut, sudah hampir 3 jam aku memandangi dinding kamarku. Berbagai macam peristiwa terlintas dalam kepalaku. Ya, inilah kebiasaan burukku di malam hari, memikirkan berbagai macam hal yang tidak perlu. Aku berusaha memejamkan mata dan mengakhiri berbagai macam pikiran negatif yang sedang berlalu-lalang di kepalaku. Saat mataku mulai terpejam, secara tiba-tiba salah satu nama terlintas dipikiranku, Leo. Dia adalah teman kelasku saat duduk di bangku SMA. Sekarang dia sedang menempuh Pendidikan di salah satu universitas ternama di Inggris.

Dulu saat masih duduk di bangku SMA, dia salah satu teman yang sering membantuku dalam mengerjakan tugas. Dia anak yang cerdas, baik, dan sangat berkarisma. Leo merupakan teman angkatanku yang sangat dikagumi banyak orang, baik guru, teman angkatan, sampai adik kelas. Sebagai teman kelasnya, aku merasa tidak ada hal spesial yang harus dikagumi dari seorang Leo. Meskipun sebenarnya dia sedikit berbeda dengan teman cowok yang lain. Selama 3 tahun di bangku SMA, aku tidak pernah mendengar dia dekat dengan seseorang. Aku juga tidak pernah melakukan percakapan yang begitu serius dengannya, dia sedikit misterius.

Hingga pada suatu hari di kelas 12 dia mengajakku mengobrol. Saat itu para guru sedang melakukan rapat, semua jam pelajaran dikosongkan. Kami pun memutuskan untuk mengobrol di depan kelas, dia menceritakan banyak hal, mulai dari teman, keluarga hingga seseorang yang selama ini dia kagumi. Dia juga beberapa kali meminta pendapatku terkait masalah yang sedang dia hadapi.

Aku sangat senang dia menceritakan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah ia ceritakan kepada orang lain. Tak terasa kami sudah mengobrol selama hampir 3 jam. Bell pertanda waktu untuk pulang pun telah berbunyi. Akhirnya kami menghentikan pembicaraan dan memutuskan untuk pulang. Tidak ada lagi percakapan serius antara kami setelah hari itu, semua kembali seperti biasanya. Kami juga sudah mulai sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional.

2 bulan kemudian kami merayakan hari kelulusan sekaligus perpisahan. Perasaan sedih dan bahagia barbaur menjadi satu. Setelah acara selesai, aku pun menghampirinya untuk memberikan ucapan selamat sekaligus perpisahan. Mungkin hari itu adalah hari terakhir aku melihat Leo.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x