Mohon tunggu...
Fitriyani Sinaga
Fitriyani Sinaga Mohon Tunggu... PEMBELAJAR | Menulis bila Senggang | Pendaki Gunung | Ruanghutani.blogspot

Ketik saja nama lengkapku di Google, daripada kamu kepo lewat rubrik ini karena akun Kompasianaku banyak, bukan hanya ini. Hello, mari berbagi Informasi tentang Sosial, Kultur budaya, Hutan dan Lingkungan hidup. Saya Naga, seorang pembelajar yang menyenangi membaca dan menulis Jurnal ilmiah. Acap kali juga ngopi dengan penjaga toilet, satpam dan tukang parkir di pinggiran jalan . Kadang mendaki gunung dan memancing ikan dilaut. Masa kecilku Sering nongkrong di sawah bersama petani dan mengembala kerbau di Ladang. saya juga kadang senggang di ForesterAct.com| www.Kesah.id | Mongabay.id |www.Fkkm.org| CSF.or.id | Spotify.Ngaji budaya&Hamparan kata Fitriyani Sinaga| Kompas.id Fitriyani Sinaga| Times Indonesia.Fitriyani Sinaga| BorneoCorner.com| Kompasiana.Fitriyani Sinaga| Forest Space| Ruanghutani.blogspot.com| Kumparan.Fitriyani Sinaga | Youtobe Fitriyani Sinaga | Youtobe Borneocorner Creatif | Weibo akun.Nagaf3 | Bila sedih kadang berPuisi dan menulis cerpen untuk dimemgobati luka | YUK BERTEMU, LEBIH ASIK

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Episode 2: SINAR LANGIT

2 Maret 2021   23:28 Diperbarui: 3 Maret 2021   01:35 31 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Episode 2: SINAR LANGIT
medium.com

Perbincangan itu lama sudah tak kuulang kembali denganmu. Aku pun tak tau harus mengawali obrolan ini dari mana, tapi suatu saat ku kan temui dan mecoba meyakinkanmu lagi.

"Haaah..." sontak dia kaget tak percaya mendengar penjelasanku.

Kadang aku pun tak percaya dengan keputusanku sendiri, bisa di katakan gila dan tak berpikir panjang.

"Episode 1: Perkenalan" https://www.kompasiana.com/fitriyanisinaga/603e49b4ea4d9634e9733d42/episode-1-perkenalanBaca Episode sebelumnya


Mungkin jika orang-orang  mengetahui ini mereka akan beranggapan sama.


"Siaaaal...kenapa harus terulang kembali dengan keadaan yang berbeda?" gumamku tiap bertemu dengannya.


" Hangat terikmu tak kusangka menembus tulang rusukku membakar jantungku memaksa kencang memompa laju darah menuju saraf otakku",

Kalimat ini sepertinya cocok untukmu matahariku.
"Apakah aku terlalu berlebihan memanggilmu dengan kata matahariku? Apakah boleh kutambahkan kata aku dalam namamu?"  pertanyaan yang sampai sekarang belum sempat tersampaikan olehku.

Bukan pengecut atau pun takut untuk mengatakannya tapi ungkapan perasaanku waktu lalu yang menjadikan batas antara kita. Sesatku kala itu tak mengakhiri ceritaku hari ini.

Datang sesosok sinar tua bukan bulan atau pun bintang entah aku menyebutnya apa,  tapi dia mengenalkan dirinya bahwa masih dekat dengan matahariku.

"Hei kau..." sapanya.
"Iya, pak tua" sebutku, seperti biasa aku selalu tak sopan dengan siapa pun.

"Hahaha... kau sebut aku apa? Pak tua?" tawa kecilnya sembari tak percaya ada yang menyebutnya pak tua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x