Mohon tunggu...
Fitriah Junita
Fitriah Junita Mohon Tunggu... Blogger

Go on and inspire others.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Tumbuh dari Luka

15 Mei 2021   12:48 Diperbarui: 15 Mei 2021   12:53 35 3 1 Mohon Tunggu...

Belakangan, rasa sakitnya muncul lagi. Aku yang sebelumnya terbiasa mengerjakan segala aktivitas dari pagi hingga menjelang tidur malam, tiba-tiba seperti kehilangan tenaga. Tidak berselera melakukan apapun, pernah dalam sehari hampir dihabiskan untuk tidur. Dipikir mungkin karena lagi jenuh, jadi kuputuskan untuk pergi ke suatu tempat. Tapi begitu kembali ke rumah, hal itu tetap terjadi. Emosi jadi meluap, obrolan sederhana jadi terasa menyesakkan. 

Menyiksa, tapi aku tak tahu harus mulai dari mana. Syukur masih tersisa tenaga barang sekedar menyelesaikan tugas yang baru saja diberikan. Suatu saat, ada tawaran kelas online yang membahas soal innerchild. Cukup menarik, pikirku. Setelah mendaftar dan menandainya di kalender, aku kembali tenggelam dalam aktivitas. Lebih tepatnya memaksakan diri bergerak. Tak bisa begini terus-terusan.

Aku sadar, luka ini butuh ditangani. Tapi tahu diri kalau belum ada uang, ditambah situasi keuangan sedang anjlok. 

Sejak kesibukan ini satu per satu datang, kurasakan gejolak emosi yang mau tidak mau harus ditahan. Mendapat posisi yang cukup berpengaruh di lingkungan membuat diri terpaksa siap siaga. Tak peduli apakah situasi mental sedang baik atau tidak, aku sebisa mungkin harus ada di setiap kesempatan. Ada saat dibutuhkan. Mengambil jatah istirahat tidak bisa asal.

Satu dua kali dilakukan, masih aman. Tapi aku tak kuat kalau kejadian ini berulang. Sampai kelas online kuikuti di hari yang telah ditentukan, banyak sekali insight yang didapat. Terlebih ada latihan untuk menyembuhkannya perlahan secara mandiri. 

Tak mau berlama-lama, esok harinya kucoba melakukan apa yang diberikan di kelas itu. Sejurus kemudian badanku terguncang, air mata mulai menetes tanpa diminta. Ada gelagak amarah yang sepertinya meronta ingin dikeluarkan. Gambar-gambar kejadian masa lalu itu terputar jelas di otakku. Ekspresi mereka yang menyebalkan, omongan menyakitkan, beserta perlakuan mereka ternyata belum seutuhnya pergi dari memori. 

Kuteruskan mengajak bicara diri dengan air mata yang terus keluar. Luka ini terlalu perih, tapi aku sudah berniat untuk sembuh. Tidak mau lagi menanggungnya. Sesekali teringat kalimat dukungan yang datang, bacaan yang ada di lemari, tulisan yang kadang menjadi penguatku saat lelah Butuh waktu setengah jam untuk kembali ke keadaan semula. Kuusap air mata, mencuci muka, mencoba tersenyum di depan kaca. 

Sembari berkata ke diri sendiri, "No matter. Dirimu sudah berusaha bertahan dengan luka itu sampai sekarang, pasti nggak mudah jalanin itu semua. Tapi kamu mau dan akhirnya ada di tahap ini. Sekarang karena punya niatan untuk sembuh, yuk belajar nerima semuanya sebagai bagian dari hidupmu. Semua udah tergariskan, nggak mungkin ini kebetulan. Luka ini tanpa sadar bikin kamu tumbuh jadi lebih baik, lebih kuat, dan lebih tegar. Makasih, aku."

Sudah lama sekali tak bisa melampiaskan emosi yang selama ini terpendam. Rasanya lega sekali. Bisa tersenyum setelah sekian lama kehilangan semangat beraktivitas, seperti sebuah keajaiban untukku. Seakan beban terangkat perlahan. Aku mengerti sekarang. 

...

Sudah hampir sepekan setelah mencoba mempraktikkan terapi sederhana yang diberikan. Memang masih jauh dari sempurna, tapi bagiku sudah cukup mengubah persepsiku soal luka. Luka yang dulu sangat dibenci, sekarang sedang kucoba menjadikannya hal yang normal adanya. Setiap kali ia datang, kuimbangkan dengan mengingat hal baik yang bisa diambil dari sana. Setelahnya aku akan tenang. Tumbuh dari luka, why not?

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x