Mohon tunggu...
Fitria atika
Fitria atika Mohon Tunggu... Jurnalis - mahasiswi IAIN JEMBER

TARGET = TEKAD

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Berhenti di Kita, Mulai dari Kita

24 Oktober 2021   20:32 Diperbarui: 24 Oktober 2021   20:41 44 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Kenapa kita harus berhenti?
Apa yang akan kita mulai?
Dan kenapa harus kita yang memulai?
Apakah berhenti mencintai seseorang yang hanya memberi harapan, dan memulai mencintai seseorang yang bisa memberi kepastian???
Oh tidak.
Bukan soal perasaan ya guys, kebiasan subjek bucin mulu ni saya.

Langsung pada topik di atas aja.
Kita semua pasti tahu, bahwa indonesia dikenal dengan ragam budaya, dan gemar gotong royongnya.
Dewasa saat ini apa kabar semua itu?
Masih baik kah? Atau kalian mulai tidak mengenalinya?

Saat berada di lampu merah, tetapi jalanan sepi. Apa yang akan kalian lakukan? Lanjut jalan atau menunggu lampu hijau?
Saat kalian memakan makanan yang terbungkus, kemudian tinggal bungkusnya saja. Apakah kalian akan langsung membuang bungkus itu di sekitar kalian atau mencari tempat sampah? Atau saat kalian mencari tempat sampah kemudian tidak menemukannya, bungkus itu akan kalian simpan atau buang sembarangan saja?
Saat kalian memiliki janji dengan seseorang, akankah kalian datang lebih dahulu atau datang saat setelah pikiran kalian berdebat bahwa kalian perlu datang saat semuanya sudah kumpul?

Saya tidak mau menjawab pertanyaan itu semua, karena saya juga butuh menjawab hal itu pada diri saya sendiri. Silahkan jawab semua pertanyaan itu pada diri kalian masing-masing.
Jangan jawab, "halah, orang indonesia aja".
Kita, saya dan kalian pembaca blog saya pasti tahu itu semua.
Apalagi sekarang yang sedang viral di indonesia, warganya suka ngutang gk di bayar-bayar. Yang ngutang lebih galak dari pada yang ngutangin. Yang ngutang hidupnya terlihat hura-hura dari pada yang ngutangin.
Itu semua bukan budaya kita.

Kemudian bagaimana cara menyadarkan mereka? Bagaimana cara merubah mereka?
Kenapa harus mereka?
Kita tidak perlu merubah mereka, kita hanya perlu merubah diri kita masing-masing.
"Tapi saya tidak pernah melakukan hal itu semua, saya buang sampah pada tempatnya, saya patuh pada peraturan, saya menepati janji." Ok! Pertahankan! Jangan sampai orang di sekitar kamu mempengaruhi kebiasaan baik itu.

Orang indonesia memiliki kebiasaan melakukan hal yang orang di sekitarnya lakukan. Itu semua terlihat dari kentalnya budaya nenek moyang yang sampai saat ini masih terlihat. Pasti kalian pernah mendengar atau melihat "aku lihat nenek/ibu aku melakukan itu, katanya orang dahulu, iih itu pamali dan banyak kata-kata atau perbuatan lainnya". Karena mereka terbiasa mendengar dan melihat, sehingga itu menjadi hal yang wajar.

Kita adalah penerus masa depan, masa depan bangsa ini tergantung dengan diri kita.
Tidak perlu bersusah payah bagaimana cara merubah kebiasaan buruk orang lain! Bagaimana cara menyadarkan orang lain!.
Kita hanya perlu berhenti melakukan hal yang tidak semestinya, dan memulai hal yang seharusnya.
Karena nyatanya, orang indonesia banyak yang tidak berani memulai. Tapi saat ada yang memulai, pasti akan ramai orang yang ingin mengikutinya.

Coba buktikan berhenti saat lampu merah, pasti orang yang datang setelah kita akan berhenti juga.
Coba buktikan buang sampah pada tempatnya, orang lain akan malu saat melihat lingkungan bersih untuk membuat sampah sembarangan.
Coba buktikan saat berkumpul di jam yang telah di tentukan, orang yang datang terlambat akan malu dan merasa bersalah.

Jika bukti itu tidak berhasil. Setidaknya kita tidak sama dengan orang-orang itu.
Berhenti mesinfati orang lain, dia ini itu. Mulai dengan mensifati kita sendiri, jangan begini begitu.
Tidak perlu menyalahkann orang lain, kita juga pasti punya salah.
Berhenti fokus menilai orang lain, mulai menilai diri sendiri.

Ayokkk para pembaca yang baik, saatnya hentikan hal yang tidak semestinya di kita, dan mulai hal-hal yang seharusnya dari kita.

Semua isi blog ini tidak ada niatan untuk menyinggung siapapun. Karena saya sebagai penulis juga masih belajar menerapkan itu semua.
Tidak ada proses yang instan, semuanya bisa dilakukan jika perlahan-lahan, step by step.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan