Mohon tunggu...
FITRA ANDRIYAN
FITRA ANDRIYAN Mohon Tunggu... Koki - Jurnalis

Hobby menulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Degradasi, Rapuhnya Moral, Mental, dan Spiritual Membuat Seseorang Mengambil Jalan Pintas

6 Oktober 2022   17:06 Diperbarui: 6 Oktober 2022   17:16 79 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Belakangan kita sering melihat ataupun mendengar kejadian-kejadian,baik itu dari media televisi,media online,bahkan tidak menutup kemungkinan itu terjadi di depan mata kita.

Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat saat ini membuat kita harus bersikap waspada serta melakukan proteksi sedini mungkin di mulai dari diri sendiri,keluarga serta lingkungan di tempat kita berada,untuk menciptakan rasa aman tentram serta saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lainnya.

Sering kita di suguhkan oleh berita tentang tindak kejahatan Mulai dari aksi pencurian, perjudian, prostitusi terselubung,perbuatan asusila serta peredaran narkoba dan bentuk bentuk kejahatan lain nya yang sepertinya tak pernah kunjung musnah dari bumi Pertiwi ini.

Adanya pergeseran nilai tentang sebuah kebaikan atau kebenaran serta lingkungan sosial yang acuh memperburuk situasi yang ada.perspektif tentang "kebaikan"adalah sesuatu yang relatif,dan keburukan adalah sesuatu yang "absolute"membuat paradigma tersendiri pada tatanan pranata sosial yang ada saat ini.

Bagi para segelintir orang "jalan pintas" demi mendapatkan materi yang lebih banyak adalah pilihan yang paling mudah untuk di ambil,tanpa memikirkan aspek sosial,budaya,serta moral dan pranata yang berlaku di masyarkat itu sendiri.celakanya terhadap resiko yang akan di dapat dari keputusan tersebut adalah opsi kedua dalam benak para pelaku kejahatan.

Pola pola seperti ini biasanya terjadi ketika seseorang sudah mulai skeptis terhadap apa yang terjadi pada dirinya ataupun lingkungan sekitarnya sehingga melahirkan apatisme atas keadaan,yang kemudian berkembang menjadi sifat impulsif sehingga membentuk doktrinisasi secara otonomi pada diri para pelaku yang kemudian nekat mengaplikasikan nya padahal mereka sadari sebetulnya itu adalah sebuah pelanggaran.

Disinilah Peran para pemangku kepentingan seperti pemerintah, para tokoh agama,tokoh masyarakat, para cendekia serta yang paling penting adalah peran keluarga untuk lebih pro aktif lagi dalam melakukan pengawasan, pencerahan serta pencegahan untuk membendung hal hal tersebut agar keberlangsungan bangsa ini tidak menjadi lebih buruk,demi generasi yang akan datang. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan