Fitrah Ilhami
Fitrah Ilhami

Penulis buku, personil nasyid Fatwa Voice, guru, dengan situs blog: www.fitrahilhami.com

Selanjutnya

Tutup

Humor

Ngayal

12 Oktober 2018   07:38 Diperbarui: 12 Oktober 2018   08:05 749 0 0

"Ada pesenan buku lagi, Bang?" Sambil nyuapin si kecil makan, istri bertanya padaku.

Aku mengangguk sembari tetap membungkus buku pakai kertas kado.

"Kirim ke mana?"

"Ke Merauke."

"Papua?"

"Iya, bener." Aku mengangguk lagi.

"Wah, berarti buku Abang ini udah dipesan dari Sabang sampai Merauke, ya?" Istri tersenyum.

"Hehe... Alhamdulillah. Udah, nih. Tinggal kirim." Aku menimang-nimang paketan berisi delapan judul buku. Lalu, tiba-tiba aku nyeletuk,

"Kalau berada di zaman Daulah Umayyah dan Abbasiyah, mungkin kita bisa kaya, Neng."

"Kok bisa?" Kening istri berkerut.

"Soalnya masa itu adalah masa dimana negara sangat menghargai penulis. Tiap buku akan ditimbang, dicek beratnya, lalu negara akan menukarnya pakai emas seberat buku itu. Makin berat buku, makin banyak emas yang diberikan negara ke penulis. Terus buku tersebut akan jadi milik negara dan diletakkan di perpustakaan Pusat."

Jadi teringat pelajaran sejarah Islam. Saat Islam menguasai 2/3 dunia. Dimulai abad ke-7 Masehi, tatkala Eropa berada dalam kegelapan, kebodohan dan hidup dalam kungkungan mitos-mitos, bumi Islam sudah terang benderang oleh cahaya ilmu. Dan Al-Quran lah sumber inspirasi bagi para ilmuwan untuk membuat penemuan.

Ketika Al-Quran menyebutkan tentang bagaimana kuasa Allah menerbangkan burung, pemikir muslim bernama Ibnu Firnas lalu mencoba meneliti anatomi burung, dan akhirnya ia berhasil membuat prototipe pesawat terbang untuk pertama kalinya di tahun 852 Masehi.

Para pemikir betul-betul dimuliakan oleh negara. Maka, berbondong-bondonglah mereka ke majelis-majelis ilmu. Beramai-ramailah mereka memenuhi perpustakaan pusat. Tak ada percakapan kecuali membicarakan ilmu pengetahuan. Seru. Bahkan, bertengkar pun mereka sangat elegan. Berseteru lewat karya.

Masih segar dalam ingatan, ketika pemikir besar Islam, Imam Al-Ghazali tidak setuju dengan pandangan filsafat tokoh besar lain bernama Ibnu Rusyd.

Imam Al-Ghazali lantas membuat buku berjudul, "Tahafut Al-Falasifah" (Kerancuan pemikiran para filosof). Buku ini segera menjadi booming. Laris dibaca oleh rakyat yang memang selalu lapar ilmu.

Tak terima namanya disudutkan, Ibnu Rusyd segera mengambil sikap untuk membalas Imam Al-Ghazali. Bukan dengan melaporkan Imam Al-Ghazali ke Bareskrim, melainkan membuat buku tandingan berjudul, "Tahafut At-Tahafut" (Tanggapan terhadap buku Tahafut Al-Falasifah).

Gila, buku karya Ibnu Rusyd ternyata juga viral. Dibaca dan dibicarakan seantero negeri.

Ketidakcocokan ide kedua tokoh besar itu, ternyata membawa berkah bagi khazanah keilmuan negeri Islam. Di tangan mereka, perseteruan berubah menjadi ilmu pengetahuan.

Sayang, masa itu sudah lewat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2