Mohon tunggu...
Fithriya Alexandria Datuela
Fithriya Alexandria Datuela Mohon Tunggu... Konsultan - Mototompiaan, Mototabian, bo Mototanoban.

Totabuanku Bolaang Mongondow, Lipu' ta ki no lotanganku.

Selanjutnya

Tutup

Diary

Pray For Semeru | Catatan Seorang Demonstran (Soe Hok Gie)

6 Desember 2021   05:36 Diperbarui: 6 Desember 2021   08:09 143 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa di era Soekarno dan Soeharto. Pada 52 tahun lalu, tepatnya pada 16 Desember 1969, Gie meninggal dunia di kawasan puncak Gunung Semeru (3.676 mdpl), Jawa Timur. Gunung Semeru masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau TNBTS. Beberapa sumber menyebut, Soe Hok Gie meninggal di gunung api tertinggi di Provinsi Jawa Timur karena menghirup gas beracun, tepat beberapa jam sebelum ia genap berusia 27 tahun.

Pemikiran Soe Hok Gie tertuang dalam tulisan-tulisannya yang tersebar luas di media cetak pada masa. Buah pikirnya mempengaruhi sikap mahasiswa Indonesia dan kelompok kritis. Soe Hok Gie memandang pemerintahan Orde Lama di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno tidak mempedulikan penderitaan rakyat. Sikap kritis Soe Hok Gie kian kencang saat masuk Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto. Soe Hok Gie tetap menuangkan gagasannya ke dalam buku, catatan harian, maupun puisi. Semua itu menjadi pembakar daya kritis mahasiswa.

inshot-20211206-062820861-61ad3e1d75ead679390cf862.jpg
inshot-20211206-062820861-61ad3e1d75ead679390cf862.jpg
Soe Hok Gie bicara tentang ketidakadilan, kemunafikan, rasa cintanya terhadap negara, serta memprotes kerusakan sumber daya alam dan lingkungan di Indonesia. Soe Hok Gie memprotes tanpa tendensi ingin mendapatkan keuntungan pribadi atas sudut pandangnya yang berani. Ide-ide Soe Hok Gie mengilhami lahirnya banyak intelektual muda di masa kini. Soe Hok Gie dikenang bukan saja karena kegiatan politiknya, juga idealisme kemanusiaan, serta kecintaannya terhadap Indonesia tanpa belenggu identitas rasial yang disandangnya.
inshot-20211206-054622391-61ad3e4b62a70425af67b2a2.jpg
inshot-20211206-054622391-61ad3e4b62a70425af67b2a2.jpg
Soe Hok Gie, seperti dicatat dalam buku Soe Hok Gie: Zaman Peralihan (2005: 293), meninggal dalam kegelisahan. Dia menghadapi kenyataan bahwa teman-teman aktivis mahasiswanya sesama tokoh angkatan 66, gemar memburu hal-hal yang bersifat duniawi ketimbang menyatukan pikiran pasca-perubahan. Bahkan, sebelum berangkat mendaki Gunung Semeru, Soe Hok Gie sempat mengirimkan kosmetik, kain sarung, dan kebaya kepada sejumlah wakil mahasiswa di DPR-RG sebagai bentuk sindiran.
inshot-20211206-060919918-61ad3e7e75ead65a3e73abb4.jpg
inshot-20211206-060919918-61ad3e7e75ead65a3e73abb4.jpg
PRAY FOR SEMERU | TEMPO 76 MERDEKA 04/12/2021

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan