Mohon tunggu...
Fiska Aprilia
Fiska Aprilia Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen "Kehilangan" Adek, Kamu Baik-baik

13 Januari 2019   20:01 Diperbarui: 13 Januari 2019   20:12 116
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Hidung anak itu kembang kempis, matanya berkaca-kaca, pipinya merona seperti habis dicubit. Sudah tiga hari anak itu terpaku di jendela kamar menyerupai lukisan dari halaman rumah. Lelaki itu tak kunjung datang. Tangan anak itu lesu, seperti ingin ditimang-timang di udara terik halaman rumah. 

Lelaki itu sungguh manis, mengemas kenangan dengan cara sederhana. Bila aku akan bercerita, mungkin tidak akan cukup seharian, tentang bagaimana mereka, di halaman belakang rumah, tertawa bahagia. Hidung dipencet lalu timbul lagi, permen rasa anggur dibalik boneka beruang putih, wacana akan naik biang lala di pasar malam, bahu penopang saat anak itu menangis, mengusap-usap kepala anak itu dengan lembut, aku bisa merasakan kehilangannya.

"Kakak Abang kemana?" Pertanyaan yang selalu membuatku tak habis pikir. Berbohong dengan anak kecil lebih menyiksa. Ia kembali memandang jendela. Mengusap jendela dengan tangan gendut, yang baru ia gapai kalau naik koper.

Kontak itu sebenarnya masih ada di media sosial. Demi kebaikan hati aku masih memilih diam. Aku tak mau memulai untuk menghubunginya. Bagaimana bisa, padahal aku dan dia sudah tidak ada hubungan lagi. Sebetulnya tidak apa kalau hati ini sudah tidak rapuh. Ada kemungkinan dengan berat hati, aku akan meminta dia duduk di sofa rumahku. Bermain pesawat-pesawatan, seperti biasa dengan anak itu.

Membiarkan mereka bermain bersama, aku bisa memutuskan duniaku sejenak, mengumpat di kamar yang bikin aku sesak nafas oleh karbondioksida terbuang banyak. Sementar udara mengendap tak berpeluang menerobos celah-celah jendela yang sengaja kututup rapat. Lampu kamar aku matikan sehingga langit-langitnya kelihatan mendung. Dipenuhi oleh cemilan-cemilan dan gelas-gelas bekas teh hangat. 

Ku kira dengan cara seperti itu hatiku merasa tenang, tetapi pada akhirnya aku malah tenggelam dalam kesedihanku sendiri. Mengkhayal lelaki itu memanggil-manggilku dari ruang tamu. Seperti biasa, kala kami masih menjalin hubungan. Hampir tiap pulang kuliah dia mampir ke rumah, berteriak memanggilku untuk turun ke lantai satu. 

Setelah beberapa saat ia bersama anak itu di halaman rumah tanpa sepengetahuanku, dia sudah sampai. Asisten rumah tangga kami menyiapkan mangkuk untuk wadah makanan yang dibawa olehnya. Martabak, bakso, atau cemilan kecil, berganti-ganti dibekalinya, kecuali permen, pasti akan selalu ada. Intuisi anak itu lebih tajam kalau dia datang. Segera berlari ke pelataran rumah dan menyambut hangat dengan rengkuhan. 

Menuntunnya ke halaman rumah berporos pohon beringin dengan ranting rumit. Ada tempat duduk dibawahnya yang teduh.  Lalu aku akan mandi berpakaian rapi menyusuri taman di mana jejak-jejak kebersamaan begitu menakjubkan. Dia memberi es krim kesukaanku dan menyeka es yang  berantakan dari pipiku. Sungguh aku usahakan bayang-bayang dia larut searah jarum jam sehingga terbiasa melewati waktu.

Kini, anak itu menarik lengan bajuku. Berharap mendapat kasih sayang serupa seperti sebulan lalu, dan diriku akhirnya selalu terjerat dalam kebohongan tak terselesaikan. Mengaku tak tahu ia berada dimana, padahal aku selalu bertemu dengannya di kampus, bersama pacar barunya.

Di akhir putusnya hubungan kami, dia pernah berkata kapanpun ia akan mampir, kalau nanti anak itu menginginkannya datang. Kini aku mementingkan hati yang belum sembuh, karena belum ikhlas ia mudah berganti hati. Bagaimana kalau sampai dia datang kesini? aku takut jika pandangannya mematikan. Misalnya saja, nanti, aku punya kesempatan memiliki ruang sejenak saat mengantarkan anak itu kepadanya, atau misalnya aku malah ikut berbaur karena anak itu memintaku ikut bermain bersama, atau sederhananya saja, aku memilih bersih-bersih rumah tak menghiraukan mereka. Tetapi tetap sisa-sisa aroma tubuh itu yang masih terisap, aku ingat! Lagipula utamanya tak etis. 

Dia sudah memiliki pacar. Aku tahu betul pasti lelaki itu meminta izin kepada pacarnya kalau ingin main ke rumahku, sama seperti sikapnya kepadaku saat kami masih berpacaran, selalu meminta izin kalau ingin menghubungi mantannya sewaktu itu, jika ada kepentingan. Selama ini, bisa ku tebak pacarnya sebagai mahasiswa angkatan baru tahun ini, tidak tahu kalau aku adalah mantan-nya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun