Mohon tunggu...
Firyal Nada Paradise
Firyal Nada Paradise Mohon Tunggu... Mahasiswi

Mahasiswi yang masih belajar

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Mau Move On Kok Susah?

21 Mei 2019   15:49 Diperbarui: 21 Mei 2019   16:12 0 0 0 Mohon Tunggu...
Mau Move On Kok Susah?
banyubeningku.blogspot.com

Pada kenyataannya, hidup tidak selamanya berjalan mulus sesuai dengan yang kita harapkan. Ada hambatan menghadang di setiap lika-likunya. Seperti teori medan psikologis yang diilustrasikan oleh Kurt Lewin sebagai berikut:

Interpretasi terhadap ilustrasi teori medan psikologis terhadap contoh konkret, yakni ketika setiap manusia memiliki tujuan atau kebutuhan yang ingin diraih atau dipenuhi - tentunya tidak didapatkan dengan cara instan atau secara tiba-tiba tergapai, bukan? 

Terdapat niat (sebagai daya pendorong atau motif) mendasar yang kemudian diimplementasikan menjadi berbagai usaha (berupa kegiatan) untuk mengantarnya sampai kepada tujuan. Namun, di tengah perjalanan, seringkali kita dihadapkan dengan hambatan tak terduga. Entah dari faktor eksternal (lingkungan, kebudayaan, tuntutan peran, dsb) dan atau faktor internal (kematangan, motivasi, kondisi mental, dsb) dengan bermacam intensitas, menjadi tantangan tersendiri bagi setiap individu.

Kemungkinan pertama yang akan terjadi saat individu telah mengatasi hambatan-hambatan tersebut dan berhasil mencapai tujuan atau kebutuhan, maka gairah untuk mencapai tujuan yang serupa akan berkurang. Misalnya, ketika kita lapar (motif), kita akan mencari cara untuk mendapatkan makanan (memenuhi kebutuhan lapar tadi), tetapi ternyata sedang tidak ada makanan yang tersedia atau tidak sesuai selera (hambatan). Namun, karena motivasi (didasari rasa lapar) lebih besar, maka mungkin saja kita berusaha mencari alternatif lain, seperti memasak sendiri, order melalui ojek online, dsb. Jika proses pemuasan rasa lapar itu telah usai, maka mungkin kita tidak lagi memiliki selera (motif) untuk menambah porsi makan makanan berat, kenyang menjadi penyebab. Kebutuhan terpenuhi, sehingga motivasi untuk makan pun (sementara) berkurang.

Dalam perspektif lain, sangat memungkinkan bagi individu ketika pencapaian berhasil ia peroleh, justru meningkatkan gairah untuk mencapai tujuan lain yang mungkin bahkan lebih besar atau menantang. Misalnya, ketika individu ingin mengembangkan kemampuan intelektualnya (motif), ia butuh untuk masuk (secara bertahap) ke dalam jenjang pendidikan yang lebih tinggi (lebih besar dan menantang) sehingga mendukung proses belajarnya. Seperti siswa SD ke SMP, siswa SMP ke SMA, siswa SMA ke perguruan tinggi, dst. Tujuan-tujuan individu tersebut akan semakin meningkat (berkembang dan bervariasi) demi menunjang proses aktualisasi diri selama masa hidupnya.

Dibalik gemerlap kesuksesan seorang manusia atas terlaksananya berbagai tujuan, tentu melewati proses yang sangat panjang. Penuh dengan peristiwa menyenangkan - kepuasan, sukacita, dan perayaan. Pun dengan peristiwa atau pengalaman tidak menyenangkan yang tidak kalah banyak. Karena tidak selamanya merasakan euforia, maka seseorang dilatih untuk terbiasa melakukan pengorbanan. Pengorbanan pilihan, waktu, pikiran, energi, dsb.

Saat menjalani kehidupan sehari-hari, kita cenderung untuk melupakan kejadian atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Hal ini sesuai dengan penjelasan Michael C. Anderson dan Simon Hanslmayr tentang motivated forgetting theory (teori motivasi individu untuk melupakan).

"When reminded of negative events, we are not disposed of properly against them and we deliberately limit their tenure at awareness. This process is familiar to most people; A reminders evoke a brief glimpse of memory and feeling, suddenly followed by an attempt to remove unwanted memories from consciousness. We do this to protect our emotions country, to protect our sense of ourselves, and sometimes just to concentrate on what needs to be done" (Anderson dan Hanslmayr, 2014: 279)

Mereka mengatakan bahwa ketika teringat peristiwa yang tidak menyenangkan, kita secara hati-hati berusaha membatasi (menekan) atau menyingkirkan ingatan tersebut agar tidak muncul dalam tingkat kesadaran. Kita melakukan hal tersebut untuk menjaga perasaan (mood) tetap baik sehingga dapat kembali berkonsentrasi kepada tujuan yang harus diselesaikan.

Lantas, realitasnya, mengapa saat mencoba melupakan justru semakin teringat? 

Berkaitan dengan Taylor mengemukakan:

"Penjelasan teoritis untuk proses ini menyatakan bahwa saat Anda berusaha menekan suatu pikiran, Anda pada saat yang bersamaan berusaha mencari hal-hal yang mengalihkan pikiran Anda dan juga secara otomatis memonitor lingkungan untuk mencari petunjuk-petunjuk yang mungkin ingin Anda lupakan. Itulah mengapa, meski Anda berusaha keras, Anda justru semakin memikirkan hal-hal yang ingin Anda tekan atau lupakan." (Taylor, dkk., 2012: 94)

Wegner dalam (Taylor dkk, 2012: 94) mengatakan bahwa menekan pikiran itu sulit, dan banyak upaya untuk menekan pikiran akan gagal dan bahkan menimbulkan efek samping. Efek samping yang dimaksut, seperti dari semakin memikirkan hal-hal yang berusaha dilupakan, kewaspadaan yang meningkat, sampai melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia. Disiplin diri untuk mengelola emosi (perasaan) itu baik, tetapi jika terlalu keras (berlebihan) pada diri sendiri, sejatinya juga tidak baik.

Solusi apa yang bisa dilakukan?

Setiap individu memiliki perbedaan strategi penerapan mengatasi suatu kegagalan. Namun, yang pasti, hal fundamental yang perlu kita yakini adalah bahwa kegagalan pada suatu waktu bukan kondisi yang permanen. Kegagalan tidak mendefinisikan siapa diri kita. Jika hari ini 'gagal', bukan berarti hidup kita gagal sepenuhnya. Kegagalan tersebut hanyalah bagian kecil dari banyaknya chapter dalam kehidupan kita.

Meskipun solusi penerapan bersifat subjektif, tetapi dari bermacam-macam strategi tersebut memiliki kesamaan umum, seperti:

  1. Mengambil pelajaran dengan mengkaji ulang peristiwa 'negatif' tersebut.

Mencoba untuk tidak terlalu fokus berlarut pada kesalahan yang dilakukan, tetapi lebih fokus kepada pengapresiasian atas usaha dan kerja keras kita untuk dapat melewati titik itu. Mengkaji hal-hal yang dapat dikontrol -- ada dalam diri kita -- untuk kemudian diperbaiki dan dikembangkan.
Ketika suatu saat berpapasan dengan hambatan yang mirip, kita telah memiliki bekal sehingga dapat lebih baik dalam menanggapi atau mengatasinya. Agak klise memang, tapi mau tidak mau, solusi alternatif tersebut yang dapat kita terapkan demi menunjang kebutuhan aktualisasi diri kita. Taylor (2012: 95) mengatakan bahwa orang yang mengkaji ulang pengalaman buruknya akan lebih merasakan emosi positif, lebih bisa berhubungan baik dengan orang lain, dan secara fisik lebih sehat.

2. Lihat kegagalan sebagai peluang

Peluang untuk bangkit. Menjadikannya sebagai batu lompatan menuju pribadi yang lebih baik di segala aspek. 

"Every problem is a gift. Without a problem, we would not grow

---Anthony Robbins

Terkadang kegagalan atau penolakan justru membukakan jalan lain yang mengantarkan kita pada 'hadiah' (yang bahkan) bernilai jauh lebih baik dari harapan kita. Dihadapkan dengan penolakan kira-kira sakitkah? Sakit. Kecewa? Pasti. Namun, tidak berlebihan jika mengatakan bahwa karena ada masalahlah kita menjadi dewasa. Menjadi lebih open-minded. Melihat berbagai peluang untuk terus berproses. Menjadi lebih bijaksana dalam setiap melangkahkan kaki kepada tujuan baru. Bukankah karena masalah kita akhirnya belajar? Bukankah karena masalah, kita menemukan berbagai ilmu dan wawasan baru? Bukankah karena masalah juga, hidup kita jadi lebih berwarna dan memiliki kisah untuk diceritakan kepada generasi yang akan datang?

Selalu ingat bahwa, Tuhan tidak pernah tidur. Tidak pernah sedetik pun Dia meninggalkan kita. Tak peduli kapan dan dimana, Dia selalu siap untuk mendengar, membantu, dan melindungi. Pertanyaanya, kita mau atau tidak menerima uluran tangan-Nya?

Jadi, jangan biarkan rasa takut atau kecewa itu menggagalkan kita menggapai mimpi-mimpi besar kita. Keep the faith. Usaha, doa, dan berserah. Tuhan selalu punya caranya sendiri untuk tak berhenti membuat kita takjub. He always has perfect timing. Tidak untuk sekarang bukan berarti tidak untuk selamanya. Betul?

Move on, but let it flow naturally. And, enjoy the journey!


Glosarium (sumber KBBI)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x