Mohon tunggu...
Arief Firhanusa
Arief Firhanusa Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Pria yang sangat gentar pada ular

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Kenapa Gatot dan Gunawan Sering TA

1 Juni 2015   09:38 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:24 343 18 15 Mohon Tunggu...

Kompasianer pemula, sebut saja FA, tadi malam ketemu saya di sebuah kafe kopi dekat Undip. Namanya pemula, baru empat tulisan dia posting di Kompasiana sejak dia resmi menjadi member, Maret 2015. Tapi, dua bulan ini dia ternyata mengamati.

Salah satu yang memunculkan pertanyaan di benaknya adalah: apa syaratnya agar tulisan masuk "highlight", "trending article", atau "headline". Pertanyaan yang tidak bisa saya jawab lantaran saya memang tidak bisa menjawab, lha wong saya bukan redaktur Kompasiana, editor, atau apapun pejabat berwenang di Kompasiana yang punya hak maupun kewajiban mengangkat artikel jadi headline atau trending article.

Karena buntu -- lantaran saya hanya bilang bahwa headline (HL) maupun highlight mutlak admin yang menentukan, sementara artikel terpilih menjadi trending article (TA) berdasarkan prosentase pembaca, komentar, maupun vote (ditandai dengan penberian bintang) -- dia bertanya masalah yang lebih tajam, lebih serius, yang lebih tak bisa saya jawab.

Diam-diam dia membuat semacam inventarisasi siapa-siapa yang sering nongkrong di TA, termasuk di antaranya Gatot Swandito dan Gunawan. Maklum, FA adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Undip yang kemungkian besar hampir tiap hari dijejali studi tentang literatur dan pengumpulan data.

Pertanyaan itu adalah, mengapa Gunawan dan Gatot Swandito teramat sering ada di trending article?Padahal, menurut dia, artikel mereka biasa-biasa saja. Bahkan banyak tulisan kompasianer lain yang lebih baik. "Apakah karena keduanya ikut dalam rombongan kompasianer yang dipanggil presiden sehingga menaikkan nilai jual dan popularitas?" Tanya laki-laki asal Pati, Jawa Tengah, ini.

Saya mencoba mencermati pertanyaan naif itu secara naif juga. Misalnya saja ini: "Gunawan dan Gatot itu kan rajin menulis. Sehari bisa dua tiga kali mengirim artikel ke Kompasiana. Dengan begitu mereka banyak teman. Karena banyak kawan, maka tulisannya juga dibaca banyak orang. Karena dibaca banyak orang, dikomentari, kemudian diberi vote, ya otomatislah tulisan mereka jadi trending."

"Bukan karena tulisan-tulisan mereka lebih sering mengungkap kelebihan Presiden Jokowi, kan?" Kejar dia.

Kali ini saya menatap paras FA lebih serius. Saya tidak segera menjawab. Usia anak ini kira-kira 21 tahun, tetapi cara bertanyanya mengesankan dia pemirsa TV aktif. Pemirsa TV yang tajin menyantap program berita akan terprogram dan terprovokasi. Jika dia sering menonton Metro TV akan berpola pikir "begini", bila dia kerap nonton tvOne akan terpola jadi "begitu".

Saya akhirnya bilang begini kepadanya, "Trending article tak ada hubungannya dengan Presiden Jokowi, atau siapa saja yang pernah diundang makan oleh orang nomor satu di negeri ini. Pemilihan artikel menjadi TA didorong oleh minat baca publik secara umum maupun kompasianer sendiri."

Karena belum juga puas, saya susul pernyataan yang lebih kongkret mengenai Kompasiana. Kompasiana tak ubahnya segala hal berbau musiman. Ada tren-tren yang mengikutinya. Di dunia musik pernah tren K-Pop, di jagat film pernah ada tren "Masha and The Bear", di kawasan politik ada tren pilkada dan saling ejek antarpengikut partai, di wilayah olahraga ada pula tren soal Menpora dan PSSI. Nah, di Kompasiana juga ada tren Ifana, Pakde Kartono, Ellen Maringka, dokter Wahyu Triasmara.

"Berarti saat ini lagi tren Gatot Swandito, Gunawan, atau Ninoy Karundeng?" Kejar dia. Saya menggeleng tidak, mengangguk juga tidak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x