Perempuan Sasak
Perempuan Sasak TKI 730 hari

Perempuan Sasak, Lombok.

Selanjutnya

Tutup

Wanita

Mimpi Torean, Jalur Menuju Segara Anak

21 Mei 2018   13:02 Diperbarui: 21 Mei 2018   13:31 228 0 0
Mimpi Torean, Jalur Menuju Segara Anak
Pixabay

Saya pergi ke suatu tempat untuk meliput keadaan penduduk sekitar, karena dengar-dengar kampung tersebut mengalami kekeringan dan menurut teman saya seorang jurnalis yang pernah meliput ke tempat tersebut, banyak dari warga sekitar yang tidak dapat makan.

Akhirnya dengan izin dari atasan, saya pergi ke tempat itu dan bertemu dengan orang yang paling berpengaruh di kampung tersebut, mereka menyebutnya tetua kampung. Lalu kami berbicara panjang lebar tentang kondisi penduduk sekitar, apa yang saya temui? Tidak seperti yang diceritakan oleh teman saya yang seorang jurnalis itu.

Penduduk sekitar sudah sangat mandiri dengan keterampilan yang mereka miliki. Bahkan kampung mereka merupakan pusat oleh-oleh tradisional Lombok yang tidak pernah sepi oleh pengunjung manca negara. Dan saya tiba-tiba begitu fasih berbahasa inggris dengan sangat baik.

Nama kampung itu Torean, semacam membawa ingatan saya pada jalur ke Segara Anak, Rinjani. Orang-orang di kampung itu jika dilihat dari luar terkesan individualis. Tapi begitu memasuki rumah mereka, orang-orang begitu ramai seperti pasar. Rumah mereka multi fungsi, para tetangga yang kekurangan makanan boleh datang ke rumah tetangga lain yang terbilang kaya, lalu makan dan pergi begitu mereka selesai.

Mereka hidup rukun, tidak ada pencuri, apa lagi orang jahat. Mereka juga menggelar dagangan mereka di dalam rumah, orang-orang datang begitu ramai dan tak pernah sepi. Aneh bukan? Disaat orang mencari tempat-tempat yang strategis untuk berjualan, mereka hanya melakukannya di dalam rumah. Tidak ada internet.

Setelah obrolan saya dan tetua kampung selesai, akhirnya saya pamit untuk pulang. Lalu kami bersalaman. Dan tanpa perlawanan dia menarik tangan saya, meniup ubun-ubun saya, saya merasakan nafasnya begitu hangat dan berat. Ia meniup ubun-ubun saya berkali-kali. Lalu entah pada tiupan ke berapa Ia berkata "Sesuatu tidak akan pernah terjadi jika kamu tidak mengizinkannya," saya hanya membalasnya dengan senyum simetris ala Ary Ginanjar. Hati saya bergetar. Perasaan asing, bahagia, sedikit terkejut. Sulit untuk saya jelaskan.

Begitu ke luar dari rumah tetua kampung. Sandal jepit warna orange yang saya pakai hilang. Saya mencarinya sambil berucap, sandal saya hilang! Sandal saya hilang! Lalu seorang perempuan tersenyum pada saya, binar matanya begitu cerah, rambut kemerahan tergerai hingga pinggang. Kulitnya kuning mentega, dengan tinggi badan proporsional. Lalu  sandal saya yang dipakai tanpa sengaja terpental dan hanyut di sungai ketika dia lari hendak menghampiri saya. Perempuan cantik itu hanya tersenyum, seolah tidak sedang berbuat kesalahan pada saya.

Reflek saya lari dan mengejar sandal orange itu hingga tubuh saya basah oleh keringat di tengah teriknya matahari siang. Dalam hati saya bergumam "Kenapa perempuan secantik ini miskin empati, apa yang akan saya pakai untuk pulang" Dia membiarkan saya, bahkan mentertawakan saya menyusuri sungai hingga jauh untuk mendapatkan sandal itu kembali.  Tapi seolah sandal itu bekata "Selamat tinggal nona" Saya hanya melihatnya, tapi saya tidak bisa mengambilnya. Air sungai begitu deras.

Saya menyerah, saya katakan pada perempuan itu. Sandal orange itu begitu berharga bagi saya. Sebab seorang kawan memberikannya tepat di hari ulang tahun saya. Disaat orang-orang lupa, bahkan tidak ingat kapan saya terlahir ke dunia. Dia hanya tertawa dan mengajak saya masuk ke dalam rumahnya.

Rumahnya begitu ramai seperti pasar, seperti rumah yang di dalamnya ada rumah lagi. Saya melihat teman saya Hartati. Teman saya waktu kuliah dulu, dia sedang mencuci panci. "Saya malas mencuci panci di rumah sendiri, tidak ada suara yang saya dengar. Di sini berisik saya suka" Terang saja saya heran dengan jawaban konyol tersebut.

Lalu perempuan yang menghanyutkan sandal saya tadi mengeluarkan beberapa sandal untuk saya coba. Tapi semuanya tidak ada yang cocok di kaki saya. Semuanya begitu kecil. Padahal jelas-jelas ukuran sandal atau sepatu yang saya pakai ukuran paling kecil nomor 36/37.

Perempuan itu menatap saya, seolah menguatkan saya. Semua baik-baik saja tanpa sandal itu. Tapi saya hanya berpikir tidak ingin pulang dengan kaki telanjang. Akhirnya perempuan itu membuka salah satu pintu dari rumahnya yang begitu luas, tanpa ba bi bu Ibu perempuan cantik itu ke luar dan menawarkan saya untuk masuk di butik miliknya.

Di ruangan sebelah para turis asing sedang berbincang-bincang. Ramai sekali. "Saya tahu kamu butuh sandal kan?" Dalam hati saya, apakah orang-orang ini lupa bahasa Sasak sehingga semua orang menggunakan bahasa asing? Semua orang di desa Torean menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan mereka sehari-hari.

"Iya saya butuh sandal untuk pulang," lalu ia memberikan saya satu sandal. Sambil berucap, " Saya tahu kamu suka sandal yang klasik dan hand made. Kamu sudah masuk ke tempat yang tepat" Saya terdiam. Belakangan memang saya sedang mencari sesuatu yang berbahan enceng gondok atau dari batok kelapa. Tapi sungguh bukan sandal yang saya cari. Saya mencari tas. Saya butuh tas yang agak besar.

"Biasanya saya menjual sandal ini seharga Rp 1.350.000 pada turis-turis baik hati yang sedang berbincang di ruangan sebelah"

"Mahal sekali, saya belum mampu membelinya"

"Siapa bilang? Cukup kamu bayar Rp 65.000 saja"

Perempuan cantik yang menghanyutkan sandal saya itu datang. Ia duduk di samping saya. Memberikan saya sejumlah uang, seolah tidak ingin ibunya tahu dia langsung mengarahkan tangannya ke kantong saku baju saya. Saya merasakan genggaman tangan kiri saya penuh oleh uang, entah berapa jumlahnya saya tidak menghitungnya.

Saya langsung memasukkannya ke kantong saku baju saya sebelah kiri. Lalu entah apa juga yang perempuan itu berikan pada saya, seperti serat-serat kayu panjang, tapi tidak keras. Dia berbisik di telinga saya "Ini tidak boleh kamu jual, buat apa saja yang bisa kamu buat dari benda ini dan pakailah untuk diri kamu sendiri"

Ibu perempuan itu menjongkok, dia memasang sandal itu di kaki saya. "Tuh kan pas banget di kaki kamu," saya tersenyum. Kenapa orang-orang di tempat ini memperlakukan saya dengan sangat baik dan aneh.

"Saya adalah antropolog tapi saya memiliki ketertarikan khusus tentang seni, pariwisata dan barang-barang antik seperti Bapak kamu"
Kalimat yang diucapkan membuat saya benar-benar terkejut. Orang-orang di tempat ini seperti bisa membaca pikiran orang lain. Akhirnya saya meminta nomer telepon Ibu tersebut dan anaknya, tapi begitu saya membuka handphone yang ke luar hanya game-game yang di simpan oleh adik saya. Tidak ada menu untuk menyimpan nomor.

Saya mencari selembar kertas kosong dan bolpoin tapi tidak ada. Lalu ketika saya diberikan bolpoin dan buku untuk mencatat nomer handphone mereka, saya terbangun dari mimpi. Bahkan saya belum memastikan apakah sandal yang sudah saya gunakan jadi saya beli atau tidak.

Sebab dalam mimpi saya itu, saya sempat berpikir untuk membeli sandal jepit seharga 15.000. Saya memang terbilang perempuan pelit dalam menggunakan uang, jika bukan prioritas saya tidak akan pernah menggunakannya dikehidupan nyata haa...
Mimpi paling absurd yang pernah singgah dalam tidur saya.