Humaniora

Mendidik Anak Harus Lengkap

12 Oktober 2018   11:55 Diperbarui: 12 Oktober 2018   12:00 146 0 0

Setiap pasangan pasti mendambakan seorang momongan, tak dipungkiri, itulah naluri para setiap pasangan. Bagi anda yang telah dikaruniakan momongan anda harus sangat bersyukur, karena anak adalah salah satu karunia besar Sang Maha Kuasa, yang  tidak semua pasangan mendapat kesempatan memiliki anak. Andalah yang telah dipercaya.

Anak, dalam konsep islam anak bisa menjadi sebuah anugerah juga musibah (ujian),  bagi orang tuanya. Permasalahannya, sudahkah anda mendidik anak dengan  pola asuh yang baik dalam islam?

Sebenarnya masalah pola asuh ini, telah dimulai sejak anak berada dalam kandungan, bahkan sebelum mengandung sebaiknya orang tua bermusyawarah terlebih dahulu. Namun, pada artikel ini, saya akan menyinggung perihal pola asuh keteladanan bagi anak usia dini.

Usia 0-6 tahun adalah masa keemasan, usia 0-3 tahun, merupakan masa kritis. Kesemuanya akan berpengaruh besar pada kehidupannya dimasa selanjutnya.

Pada masa golden age ini, anak bisa diibaratkan bagai kan spons, yang siap menyerap berbagai jenis cairan yang disekitasrnya. Anak berbeda dengan orang dewasa, yang sudah bisa memfilter dirinya, anak akan melakukan apa-apa yang dilakukan lingkungan sekitarnya. Sehingga mereka benar-benar memerlukan bimbingan orang dewasa terdekatnya agar mampu bertumbuh dan berkembang fisik dan psikisnya secara optimal.

Nah, setelah paparan tadi, yuk tinjau lebih dekat lagi, sudah sejauh mana kita mendidik anak dengan keteladanan yang uswatun hasanah?

Seperti cerita berikut, dikisahkan ada sepasang orang tua yang sibuk bekerja, ayahnya bekerja sebagai pegawai kantor swasta ternama dibidang elektronik, dan ibunya seorang marketing handal di perusahaan kecantikan. Setelah mereka dikarunia anak sang ibu memutuskan untuk berhenti bekerja untuk mengasuh anaknya. Alih alih anaknya semakin tumbuh menjadi anak yang aktif, namun kedekatannya dengan sang ayah menjadi renggang karena ayahnya terlalu sibuk sehingga bertemu dengan anaknya pun hanya ketika jam sarapan pagi.

Sebut saja anak ini Danar, berhubung ia hanya sering berinteraksi dengan ibunya saja yang senang dengan dunia kecantikan, sehingga Danar pun  bergelagat seperti perempuan, karena sering melihat ibunya berias ia pun ikut berhias, awalnya sang ibu merasa lucu dengan melihat tingkah anaknya laki-laki meniru dirinya, karena keterbatasan pengetahuan yang dimilikinya, ia membiarkan saja, menganggap itu sebagai hal yang wajar.selanjutnya dalam perihal shalat, Danar pun suka memakai kerudung yang ibunya miliki sebagai mukena tiruan. Kejadian ini baru diketahui ayahnya setelah 2 tahun  kebiasaan ini terjadi. Sang ayah merasa sedih karena dirinya melupakan bagian terpenting dalam hidupnya, mencari nafkah saja tidak cukup, ia juga harus menjadi imam sekaligus pendidik bagi anak-anaknya.

Setelah kejadian itu, akhirnya pasangan suami istri itu mulai mengarahkan lagi Danar untuk menjadi anak laki laki seutuhnya,juga memberikan tauladan terbaik  .

Itulah sedikit penggalan kisah, betapa pentingnya keteladanan yang diberikan oleh kedua belah pihak , agar anak mampu tumbuh kembang optimal.