Mohon tunggu...
Finaira Kara
Finaira Kara Mohon Tunggu... Mahasiswi | Blogger | Author

It's Me! Mari berpuisi! Aku akan membuatmu jatuh cinta dengan tiap serpihan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Kopiwriting: Sinergisitas untuk UMKM Mengglobal dalam Era Ekonomi Digital

13 September 2019   19:42 Diperbarui: 13 September 2019   20:05 0 5 3 Mohon Tunggu...
Kopiwriting: Sinergisitas untuk UMKM Mengglobal dalam Era Ekonomi Digital
Foto bersama Blogger Kompasiana yang turut hadir dalam acara bersama CEO Kompasiana (Nurulloh)

Kali ini Fin muncul secara melankolis dengan backsound lagu "walau badai menghadang" di Vargo Kitchen, Rabu lalu (11/9/2019).

Fin nggak akan bahas soal status #BloggerJomblo kali ini, meski statusnya juga masih sama seperti hari-hari kemarin. Fin lagi ada di acara  JNE Kopiwriting  yang diadakan oleh JNE bersama Kompasiana di beberapa kota secara roadshow, Malang salah satunya yang menjadi kota keempat. Dan akan berlanjut ke Kota Yogyakarta, lalu diakhiri di Kota Cirebon. JNE Kopiwriting Malang ini lagi bahas soal UMKM lokal yang harus bergerak menuju era digital.

Dari topik pembahasannya, sepertinya Fin bakalan nyambung, karena jurusan kuliah yang bersahabat dengan pembahasan perekonomian. (Emang kuliah di Fakultas Ekonomi, mau nggak bersahabat gimana?)

Acara sore ini dihadiri oleh beberapa rekan Blogger Kompasiana dan juga media. Diawali dengan sambutan pembuka oleh bapak Windhu Abiworo selaku Kepala Cabang JNE Malang, "menggali potensi pengiriman ke luar negeri tanpa syarat ribet. Pengin kecepatan dan ketepatan pengiriman, sehingga kesempurnaan pengiriman bisa dinikmati UMKM."

Membuka lembaran sejarah sejenak terkait JNE, sejak tahun 1990 JNE sendiri sudah berdiri sebagai perusahaan nasional. Cakupan bisnisnya kian dikembangkan, mulai dari jasa pengiriman makanan khas daerah, penjemputan di bandara, pengiriman uang/money remittance, pendistribusian, dan usaha jasa pengiriman. Kemudian pada tahun 2014, JNE mengoptimalisasi aplikasi mobile dan telah membangun 250 kantor operasional dan memiliki lebih dari 7000 outlet di seluruh Indonesia. (Banyak, ya, Fin jadi ingat ada outlet JNE di dekat rumah Fin. Hampir selalu ramai dengan lalu-lalang orang, baik mengirim, mengambil, atau Pak Kurir-nya, hehhe.)

Mengakhiri sambutan dari Pak Windhu, kalimat ini adalah sebuah visi yang patut diteladani dan ditiru semangatnya, "JNE berfokus pada apa yang kita bawa untuk dunia di masa datang."

Pak Windhu yang tengah memberikan sambutan - dokpri
Pak Windhu yang tengah memberikan sambutan - dokpri
Dipandu oleh Mbak Raisa, acara Kopiwriting disambung dengan ngobrol sersan bersama tiga narasumber yang menginspirasi untuk kian memajukan bisnis UMKM di Indonesia, terutama Malang Raya, untuk kian meningkatkan langkah hingga ke pasar global. Sebelum ngobrol dan kenalan lebih jauh ke topik utama dari kegiatan Kopiwriting ini, peserta disuguhi dengan video tentang JNE dan sebuah buku yang menurut Fin ... Bombarda! Buku berjudul Scale Up dengan sampul warna kuning, yang akhirnya pengin banget Fin beli, sebagai bahan diskusi di kelas nanti dan memperbaiki bisnis pribadi.

"Semangat harus kita andalkan, sebenarnya ini adalah eranya UKM," ujar Bu Tri Widyani Pangestuti, yang juga hadir dalam kegiatan, selaku Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Malang.

Menurutnya, perkembangan UKM yang luar biasa dari tahun ke tahun apalagi di Kota Malang. Beliau mengibaratkan UMKM seperti gadis cantik, yang didatangi kumbang, karena saking banyaknya. Sehingga sangat menunjang, jika Malang menjadi bumi UMKM. Sebesar 116 ribu usaha, 90% merupakan usaha mikro. Hal ini juga ditunjang dengan visi misi Pak Walikota, dengan ekonomi kerakyatan. Di mana ekonomi kerakyatan harus dikembangkan menjadi ekonomi kreatif, yang dapat membuka peluang.

Hal ini bukan hanya harus dilakukan oleh UKM-nya saja, tetapi setiap sisi termasuk stakeholder juga harus membangun sinergi, supaya UKM bisa lebih berkembang dan lagi di era ekonomi digital ini, UKM juga bisa melek terhadap teknologi dan go digital secara global. Tantangannya apa? Dari beragam sisi, termasuk packaging, kualitas produk, standardisasi, dan juga dalam sisi pemasarannya. Ada beberapa gap yang terjadi, hingga komoditi susah dikenali. Akhirnya produk berakhir hanya dalam lingkup skala pasar terdekat.

"Kita tahu masalahnya, tapi nggak tahu solusinya," papar Pak Dias Satria, salah satu narasumber yang turut hadir, sebagai pemilik dari Kopi Jago, produk UKM yang berhasil menembus pasar modern dalam waktu yang cukup mengejutkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x