Mohon tunggu...
Humaniora

"Didik, Didikan, Pendidik, Pendidikan untuk Siapa dan Apa?"

21 Juli 2016   11:20 Diperbarui: 21 Juli 2016   12:06 81
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Ketika mendengar seruan Pak Menteri Anis Baswedan dalam slogan "Gerakan Mengantar Anak Sekolah". Hati diselimuti aura pertanyaan yang timbul secara alamiah, hadir dengan terpacu kencang, menyeruak, memaksa, mendobrak untuk berteriak "Didik, didikan, pendidik, pendidikan untuk siapa dan apa" ?.

"Untuk siapa dan apa" ?

Ya. Pertanyaan ini secara absurt keluar dari benak para orang tua.

Tentu ini akan menjadi pertanyaan buat kita semua. Untuk menyelam lebih dalam baiklah kita menelaah satu persatu dari pertanyaan di atas.

Pertama, Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan informal, pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.

Dalam perkembangan peserta didik ia mempunyai kemampuan untuk berkembang ke arah kedewasaan. Pada diri anak ada kecenderungan untuk memerdekakan diri. Hal ini menimbulkan kewajiban pendidik dan orang tua (si anak didik) untuk setapak demi setapak memberikan kebebasan dan akhirnya mengundurkan diri. Jadi, pendidik tidak boleh memaksakan agar peserta didik berbuat menurut pola yang dikehendaki pendidik. Ini dimaksud agar perserta didik memperoleh kesempatan memerdekakan diri dan bertanggung jawab sesuai kepribadiannya. Pada saat ini telah dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab sendiri.

Nah, dari penelaahan di atas dapat tergambar jelas seorang peserta didik mempunyai kemampuan lahiriah yang sudah ada. Peran orang tua sebagai penopang pondasi awal peserta didik sangat- sangat dibutuhkan. Secara tidak langsung proses membentuk, mengoles, mewarnai adalah proses bagaimana awal peserta didik ditempa. Landasan kasih sayang dari orang tua adalah awal karakter anak akan terbentuk, perlu keuletan, ketelitian untuk kemaksimalan peserta didik.

Kedua, hal yang terpenting dalam proses menghadirkan karakter yang potensial terhadap peserta didik adalah bagaimana didikannya. Lagi- lagi peran orang tua sangat dibutuhkan sebagai pondasi awal untuk menopang peserta didik. Seperti sudah disinggung di atas orang tua harus jeli membaca kemampuan, harus cermat melihat potensial pada peserta didik. Hal ini akan mudah ditemukan jika orang tua selalu senantiasa hadir disetiap kesempatan anak membutuhkannya. Bisa juga orang tua dapat menemukan dengan mudah melalui konsultasi, membangun komunikasi yang baik dengan guru sang peserta didik. Otomatis orang tua tentu mengetahui potensi dan seyogianya harus dibina, dioles sesuai potensinya.

Ingat ! Orang tua tak perlu memaksakan kehendak yang ada dalam dirinya untuk sang peserta didik. Hal ini dilakukan supaya peserta didik tak merasa dia melakukan sesuatu karena terpaksa. Hadirkan olesan yang terasa santai, dan sang peserta didik menikmati.

Ketiga, tugas seorang pendidik seperti sudah dipaparkan di atas adalah bagaimana menghadirkan, sekaligus mengembangkan potensi yang terlihat pada peserta didik. Nah, hal ini andil besar terdapat pada orang tua yang menjadi orang pertama dalam diri sang peserta didik. Hadirkan komunikasi, hadirkan kemauan untuk membantu, hadirkan kepedulian. Tanpa disadari ini adalah rangsangan stimulus secara tak langsung.

Keempat, Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga atau keluarga dan masyarakat, karena itu pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Pendidikan ini memang tugas bersama. Tapi, mau tak mau orang tua adalah awal pendidikan berlangsung untuk anak, terkhusus pendidikan katakter. Sikap dan kelakuan orang tua adalah gambaran atau cermin datar yang memantul. Hadirkan sikap dan kelakuan sehingga menghadirkan kebanggaan buat orang tua sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun