Dzulfikar
Dzulfikar Freelance writer

Content creator, Full Time Blogger, Freelancer, SEO Geek. For inquiries contact me dzulfikar.alala[at]gmail[dot]com | bangdzul.com

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Narasi Agama Akan Tetap Digunakan untuk Serang Petahana

4 Desember 2018   09:54 Diperbarui: 4 Desember 2018   10:02 227 3 3

Koalisi Adil Makmur yang digawangi oleh Gerindra sepertinya mulai kesulitan dan kehabisan amunisi untuk menyerang Jokowi. Beberapa kali serangan-serangan kepada Jokowi berhasil dipatahkan dengan mulus dengan cara yang cantik nan elegan.

Jadi, wajar saja jika kubu Prabowo mulai ketar-ketir jelang Pilpres yang tinggal menghitung beberapa bulan saja. Apalagi elektabilitas Jokowi masih berada di atas 50 persen berdasarkan survei LSI pada bulan November.

Jabatan sebagai Presiden pun tak serta merta digunakan seenaknya oleh Jokowi dan Keluarganya. Terbukti, tak ada satupun anak-anak Jokowi yang masuk dan terlibat dalam dunia politik.

Alih-alih mengekor orang tuanya memasuki dunia politik, Gibran, Kaesang, dan Kahiyang Ayu serta menantunya Bobi, memilih untuk menjadi seorang entrepreneur. Darah bisnis tentu saja masih diturunkan oleh Jokowi yang sukses mendirikan perusahaan meubel.

Dari sisi ini saja keluarga Jokowi sudah sulit untuk diserang karena tak ada satupun anak Jokowi yang mengemban jabatan apalagi menangani proyek-proyek pemerintah.

Beda dengan saat zaman Orde Baru. Nepotisme begitu kentara dan hanya lingkup keluarga Cendana saja yang bisa mendapatkan proyek serta jabatan strategis. Jadi, kalaupun ada lelucon jika harta keluarga Cendana tak akan habis sampai tujuh turunan mungkin ada benarnya.

Saking sulitnya mencari titik lemah Jokowi, fitnah-fitnah lama itu justru diciptakan berulang-ulang. Seperti menyebut Jokowi keturunan PKI sampai-sampai fitnah keji bahwa Gibran bukanlah anak Jokowi.

Belakangan malah fitnah-fitnah ini dijadikan sebagai bahan guyon di sosial media oleh Kaesang. Apalagi setelah popularitas anak Gibran, Jan Ethes Ethes Srinarendra yang meroket karena ulahnya yang polos.

Secara tidak langsung Kaesang dan Gibran justru mendapatkan simpati dari generasi milenial. Cara mereka menangkis fitnah dan mengolah isu yang menyerang bapaknya dijadikan guyon renyah dan segar. Kadang-kadang juga bernada satire. Kaesang dan Gibran sepertinya sudah tak pernah ambil pusing lagi jika ada akun-akun tak jelas yang menyerang keluarganya.

Habis sudah amunisi untuk menyerang Jokowi. Kini, amunisi tersebut malah diciptakan dari luar. Beberapa percobaan dilakukan dengan menyebarkan hoax. Kasus Ratna Sarumpaet misalnya. Jika tidak terbongkar, bisa jadi reuni 212 jadi lebih besar.

Langkah Jokowi menggandeng KH Ma'ruf pun membuktikan bahwa Jokowi tak pernah mengkriminalisasi ulama. Bahkan menggandengnya untuk sama-sama membangun negara dan bangsa. Belum lagi dengan reuni 212 yang berjalan tertib bukti bahwa pemerintah Jokowi tidak anti terhadap agama.

Adapun ulama yang tersandung masalah hukum itu adalah akibat dari ulahnya sendiri. Mulai dari chat mesum sampai dengan hate speech yang dilakukan saat tengah berceramah di tengah umatnya.

Sayangnya ulama yang tersandung chat mesum pun malah lari ke luar negeri. Beda dengan sosok yang juga dikriminalisasi justru menghadapinya dengan gentle man meski harus meringkuk di penjara.

Saya yakin masyarakat bisa menyaksikan dan menilai sendiri betapa masifnya fitnah dan serangan-serangan bertubi-tubi yang dialamatkan pada Jokowi.

Sulit mendapatkan celah, kini satu-satunya jalan adalah dengan menggalang kekuatan. Momen Reuni 212 dijadikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan elektabilitas Prabowo dan Sandiaga Uno untuk menghadapi Jokowi.

Waktu 4 bulan adalah waktu yang amat singkat. Setiap bulan pasti ada saja isu yang akan dikeluarkan oleh oposisi. Terlebih Presiden PKS menyatakan bahwa membolehkan kampanye negatif di Pileg dan Pilpres. Apapun dilakukan oleh mereka demi memuluskan jalan meraih kekuasaan.

Narasi tentang agama akan tetap menjadi gorengan paling sedap untuk dibenturkan dengan Jokowi. Apapun caranya akan tetap dilakukan meskipun harus memecah belah umat. 

Kiranya ini menjadi warning bagi warga bahwa siapapun yang meraih jabatan dengan jalan seperti ini, tidak akan bisa diandalkan untuk menyatukan bangsa yang plural. Justru bangsa ini bisa jadi malah diambang kehancuran di tangan mereka. Apalagi gelora spirit Orde Baru kentara sekali ingin dihidupkan kembali.