Dzulfikar
Dzulfikar Freelance writer

Content creator, Full Time Blogger, Freelancer, SEO Geek. For inquiries contact me dzulfikar.alala[at]gmail[dot]com | bangdzul.com

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Bolehkah Memotret Korban Kecelakaan?

10 Oktober 2018   23:38 Diperbarui: 11 Oktober 2018   13:57 3109 14 13
Bolehkah Memotret Korban Kecelakaan?
Arbain Rambey memberikan tips dan trik fotografi jurnalistik/dok.pribadi

Pertanyaan itu memang cukup menggelitik, apalagi saat ini setiap orang bisa mengambil foto ataupun merekam video dengan menggunakan kamera ponsel kapanpun dan dimanapun.

Mengambil foto korban kecelakaan ataupun korban bencana alam bagi sebagian orang dianggap melanggar etika sosial. Meskipun tidak ada peraturan baku, tetapi memotret orang yang sedang mendapatkan kemalangan dianggap menunjukkan rasa kurang empati.

***
Setahun yang lalu, saya pernah menegur paman saya yang mengambil foto jenazah nenek saya yang sedang dikafani. Saat Itu ada kekhawatiran jika fotonya viral dan dikomentari netizen Yang Maha Benar.

Namun, kemudian paman saya mencoba menenangkan saya. Itu pun ia lakukan setelah berhasil mengambil satu foto.

"Ini hanya untuk dokumentasi kok, supaya bisa dilihat oleh Bapak (Kakek saya)" tuturnya.

Tadinya saya ingin meminta supaya foto itu dihapus. Tetapi karena dia sudah menyatakan demikian, akhirnya saya pun tidak memperpanjang hal tersebut.

Setahun sudah berlalu, saya pun sudah lupa jika paman saya pernah mengambil gambar nenek saya saat dikafani.

Hingga saat ini saya tidak pernah melihat foto-foto nenek saya di sosial media dalam kondisi dikafani. Artinya memang foto tersebut tidak pernah diunggah oleh paman saya ke sosial media.

Kekhawatiran saya bukan tanpa alasan, karena foto punya banyak cerita tergantung persepsi orang yang melihatnya. Itulah kenapa saya melarang siapapun di ruangan itu untuk mengabadikan almarhumah saat dikafani.

Namun, setelah saya pikir-pikir, mungkin apa yang saya lakukan itu tidak tepat. Apalagi setelah mendapatkan penjelasan dari Arbain Rambey.

Malahan ia sering memotret korban kecelakaan dan korban-korban lainnya dengan kondisi yang amat mengenaskan. Bahkan saat ditugaskan dalam kondisi bencana sekalipun tugas dia tetaplah menjadi seorang juru potret. Bukan sebagai relawan yang menolong korban.

Ia memilih untuk tidak menolong korban saat ia punya kesempatan dan momen yang tepat untuk mengabadikan korban-korban yang ada di lokasi bencana.

Mungkin terdengar egois sekali. Tapi, itulah seorang fotografer media cetak.

Arbain punya alasan kuat mengapa ia lebih memilih memotret dibandingkan harus menolong korban.

"Tangan saya cuma punya dua, kalau saya membantu korban paling hanya satu dua orang yang bisa saya tolong. Kalau saya memotret, ada ratusan bahkan ribuan foto yang bisa saya abadikan" ujarnya.

Dan momen tidak bisa diulang lagi. Maka, dalam kesempatan bencana sekalipun tetap ia manfaatkan untuk mengabadikannya.

Arbain beralasan bahwa fotonya justru perlu diketahui oleh dunia. Arbain merasa sangat perlu mengabadikan kondisi bencana atau korban-korban bencana sesuai dengan kondisi yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

Dari foto itulah akan tersiar kabar bencana memang benar terjadi. Foto itulah yang berjasa hingga dunia tahu bahwa ada bencana. Foto itulah yang menggerakkan orang untuk menjadi relawan, foto itulah yang membuat para dermawan merogoh koceknya dalam-dalam untuk membantu para korban.

Selain foto, kini video pun sangat diperlukan untuk merekam detik-detik dahsyatnya bencana itu terjadi. Mengapa?

Pertama, video bisa jadi dokumentasi autentik sehingga bisa menjadi contoh dan pelajaran bagi generasi yang akan datang. Bahwa bencana itu memang pernah datang seperti yang terjadi di Palu.

Menurut para peneliti, hilangnya sebuah desa di Petobo sebetulnya sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Tapi, hal tersebut diketahui hanya berasal dari cerita dari mulut ke mulut dan tak pernah diketahui alasan pasti selain dikaitkan dengan mistis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2