Dzulfikar
Dzulfikar Freelance writer

Content creator, Full Time Blogger, Freelancer, SEO Geek. For inquiries contact me dzulfikar.alala[at]gmail[dot]com | bangdzul.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Jadi Pekerja Lepas Itu Berat, Biar Aku Saja

21 Februari 2018   10:13 Diperbarui: 28 Februari 2018   08:33 1354 17 12
Jadi Pekerja Lepas Itu Berat, Biar Aku Saja
Illustrasi/pexel.com

Awalnya tidak terpikirkan sama sekali oleh saya untuk menjadi seorang freelancer, apalagi saat ini profesi seorang freelancer masih kurang begitu dipahami oleh masyarakat awam. Sedihnya ya dicap jadi seorang pengangguran hahahaha.

Contohnya saja ketika saya berbelanja di warung ataupun membeli soto betawi di tempat langganan saya dekat rumah. Saya selalu kesulitan untuk menjawab ketika ditanya "Lagi libur bang?"

Nggak mungkin dong saya menjawab "iya lagi libur". Lama-lama mereka pasti bertanya-tanya, masa libur setiap hari hahaha.

Meskipun terlihat sangat menyenangkan dari luar, tetapi sebetulnya proses menjadi seorang freelancer itu membutuhkan beberapa modal selain mental tentunya.

Bukan bermaksud untuk menggurui, tetapi saya ingin sedikit berbagi bagaimana saya mempersiapkan diri untuk terjun dalam dunia freelancer khususnya sebagai seorang content writer sembari menjalani profesi sebagai part time blogger.

1. Business Plan

Jujur untuk masalah business plan, saya masih meraba-raba. Maklum lah dulu saya belum pernah mendapatkan mata pelajaran atau mata kuliah entrepreneurship. Sepertinya perlu juga nih saya kursus lagi buat bikin business plan.

Yang jelas saya punya mimpi untuk mendirikan sebuah wadah atau semacam komunitas yang mewadahi semua content writer sehingga bisa menjual jasanya dengan harga yang sepadan.

Fyi, ada lho content writer yang berani menjajakan jasanya dengan harga Rp 5.000 - 10.000/tulisan. Entah bagaimana itu kerjanya ya. Rasanya kalau buat saya, berat banget dengan harga segitu. Tapi, hidup itu memang keras sih. 

Eh, btw kalau soal kualitas tulisan jangan dibandingkan antara harga RP 10.000 dengan harga Rp 100.000 per-tulisan ya hehehe... istilah kerennya gak apple to apple.

2. Marketing

Bekerja sendiri artinya harus memahami bagaimana caranya memasarkan produk sendiri terutama produk jasa sebagai seorang jasa penulis. Salah satu yang saya persiapkan adalah dengan mengumpulkan berbagai pengalaman dari lomba menulis dan juga beberapa contoh tulisan yang saya kumpulkan dalam bentuk portofolio digital.

Cara seperti ini tentu saja lebih mudah ketika ada seseorang yang ingin bekerja sama atau mencari informasi apa yang bisa saya kerjakan untuk perusahaan mereka. Yang jelas saya harus bisa mengemas tampilan menjadi lebih bagus dan profesional di mata calon klien saya.

3. Financial Planner

Inilah salah satu kelemahan generasi milenial ketika menghadapi dunia glamour yang penuh dengan godaan. Beruntung saya masih dididik dalam lingkungan yang cukup konvensional sehingga masih memikirkan investasi dibandingkan dengan menambah pengalaman.

Satu sisi saya bersyukur berkat didikan setengah konvensional dan setengah milenial itu (bahasa apa ini hahaha) akhirnya setelah memiliki rumah pribadi, kini saya bebas melenggang untuk menentukan destinasi-destinasi indah di luar sana. Eh tapi, itu juga atas bantuan mertua kok hahaha.

Benar, menurut data survei di salah satu berita online, generasi milenial yang mampu membeli rumah itu rata-rata masih dibantu oleh orang tua/mertuanya. So, buat yang mau cari calon, menikah itu bukan sekadar menikah dengan anaknya doang, tapi juga mencari kecocokan dengan calon mertua hahaha, berat dah dari freelancer ke mertua. 

Ngomong-ngomong, gara-gara dapat hadiah ke Macau, benar-benar membuat saya ketagihan traveling ke luar negeri. Feel-nya memang terasa beda ketika menyusuri destinasi di luar negeri meskipun masih banyak tempat wisata di tanah air yang tak kalah menarik.

Nah, saya mulai banyak belajar nih tentang financial planner. Bagaimana mengatur keuangan untuk masa depan terutama saat ini saya sudah memiliki tanggungan dua orang anak yang butuh pendidikan, kesehatan dan juga kebutuhan bermain. Di sisi lain gimana caranya biar bisa tetap traveling. Gak perlu jauh-jauh ke luar negeri juga sih, tapi kalau bisa sih boleh juga hahaha.

Selain itu juga, jika sudah memasuki usia kepala tiga, saatnya membekali diri dengan investasi masa depan. Banyak yang menyarankan untuk berinvestasi pada logam mulia dan properti. Namun, saat ini rasanya saya malah tertarik mengembangkan bisnis baru di bidang kuliner sebagai salah satu opsi jika sedang sepi orderan nulis hehehe.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2