Dzulfikar
Dzulfikar Freelance writer

Content creator, Full Time Blogger, Freelancer, SEO Geek. For inquiries contact me dzulfikar.alala[at]gmail[dot]com | dzulfikaralala.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Ingin Jadi Freelancer? Ini 5 Hal yang Harus Disiapkan

14 Februari 2018   09:59 Diperbarui: 28 Februari 2018   08:38 1684 36 24
Ingin Jadi Freelancer? Ini 5 Hal yang Harus Disiapkan
pexels (dok.pribadi)

Ketika November 2017 lalu saya memutuskan menjadi seorang freelancer, itu loh yang kerjanya bisa di mana aja ala generasi zaman now. Kantornya bisa pindah-pindah. Bisa di coworking space atau di kafe

Awalnya memang ada sedikit ketakutan ketika memutuskan untuk memilih menjadi seorang pekerja bebas tanpa naungan kantor apa pun dan terjebak dalam ruangan sempit.

"Gimana ya bayar listrik yang naik mulu...?"

"Gimana ya bayar internet...?"

"Kalau gak ada internet gak bisa Ngompasiana dong #eaaa"

Pikiran-pikiran itu sempat bergelantungan selama beberapa hari bahkan setelah seminggu saya resign. Tapi, alhamdulillah, setelah hampir genap 4 bulan menjadi seorang freelancer, justru saya mulai menikmatinya.

Saya bisa mengatur jadwal sendiri kapan harus mengejar deadline dan kapan bisa jalan-jalan. Apalagi Januari lalu berbarengan dengan hadiah jalan-jalan ke Macau sehingga saya tak perlu repot izin cuti ke kantor. Wong udah gak punya kantor hahahaha.

Nah, sebelum memutuskan untuk menjadi seorang freelancer, saya banyak membaca beberapa sumber terutama dari beberapa freelancer dan blogger yang memutuskan bekerja secara independen. Kira-kira ini yang saya lakukan sebulan sebelum memutuskan untuk bekerja di rumah.

1. Membicarakan Pada Pasangan

Buat yang masih single tentu saya tahapan ini bisa di skip. Tapi buat yang sudah punya keluarga dan punya anak, tentu tidak mudah memutuskan untuk mencari nafkah dari project-project yang tak tentu. 

Awalnya istri saya pun berat menerima keputusan saya. Seberat rindu Milea pada Dilan hahaha. Bahkan di awal saya berhenti, istri seperti khawatir dan tak nyaman saya selalu berada di rumah

Sempat juga sih istri bingung ketika rekan kerjanya bertanya kenapa saya terlihat seperti tidak kerja. Soalnya hampir tiap pagi saya bisa mengantar istri ke kantor dan kadang bisa jemput pula sore harinya. Sebuah kemewahan yang tidak bisa saya lakukan saat saya masih ngantor.

Meskipun awalnya mungkin istri saya malu, tapi lambat laun istri mulai menerima. Bahwa pekerjaan sebagai freelancer itu bisa dijalani asal memang dipersiapkan segala sesuatunya. 

Menurut saya persiapan mental sih yang paling utama. Menyiapkan mental keluarga mulai dari pasangan, anak sampai dengan mertua dan orang tua. Supaya mereka yakin bahwa apa yang saya lakukan sebetulnya tidak berbeda dengan pekerjaan yang saya lakukan sebelumnya sebagai content writer, hanya tempatnya saja yang berbeda. Toh kalau salary-nya lebih besar kan malah lebih enak kan?

2. Meminta Restu Orang Tua

Nah, ini juga penting. Agar orang tua tidak khawatir berlebihan. Bagaimanapun jangan sampai membuat orang tua terbebani pikirannya karena kita sudah tidak bekerja alias memilih menjadi freelancer

Yang utama tentu saja saya harus menjelaskan mengapa dan alasan saya memilih menjadi freelancer. Setelah itu memastikan bahwa semua akan baik baik saja seperti sedia kala. Jadi, orang tua tak perlu merasa khawatir dengan kondisi keluarga anaknya.

3. Menyiapkan Dana Cadangan 6 Bulan ke Depan

Setelah mendapatkan persetujuan dari pasangan dan restu dari orang tua. Tak kalah penting adalah menyiapkan dana carangan 6 bulan ke depan. Mungkin ini yang berat hahaha.

Jika pengeluaran sebulan kira-kira 3.5 jutaan. Artinya saya harus menyiapkan dana sekitar 21 jutaan untuk mengamankan dapur saya selama 6 bulan ke depan.

Jelas harus ada proteksi di awal. Jangan sampai saatnya anak butuh susu atau istri perlu kebutuhan lainnya, kita jadi tak berdaya gara-gara invoice belum cair hehehe.. balada freelancer memang begini. Selalu bergelut dengan invoice. Awal-awal mungkin kaget, tapi lama-lama enjoy aja kok. Asal kita punya perjanjian hitam di atas putih agar ada rasa aman bagi kedua belah pihak. 

4. Mulai "Jual Diri"

Bulan pertama saya sempat goyah juga sih sebetulnya. Sempat juga melamar ke beberapa perusahaan, khawatir jika penghasilan dari freelancer ini tidak mencukupi uang bulanan. Sempat juga meminta beberapa bantuan teman untuk mencarikan pekerjaan jika ada lowongan. Ketakutan ini saya rasa cukup beralasan, soalnya rasa khawatir itu menular hahaha... Jujur, istri masih ada rasa khawatir dengan pemasukan bulanan. Jadi ketularan deh hahaha.

Hamdalah...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2