Mohon tunggu...
Dzulfikar
Dzulfikar Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Content Creator

Blogger dan Content Creator. Member Kompasiana sejak Juni 2010. Aktif menulis di blog bangdzul.com dan vlog https://www.youtube.com/@bangdzul/

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Taman Safari Prigen, Bukan Hanya Pusat Konservasi tapi Juga Edukasi dan Terapi

5 Februari 2016   23:01 Diperbarui: 14 Februari 2016   12:23 190
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption caption="Ig @safariprigen"][/caption]Taman Safari bukan hanya ada di Cisarua Bogor dan Bali saja, melainkan sudah sejak tahun 1997 Safari Prigen mulai dibuka untuk umum. Tak berbeda dengan yang lainnya, apa yang ada dalam benak saya pun demikian. Taman Safari sangat lekat sekali dengan Cisarua, Bogor. Padahal Taman Safari Prigen di Pasuruan, Jawa Timur ini merupakan Taman Safari terbesar yang dikelola oleh PT Taman Safari Indonesia.

Sebagai orang tua yang melek internet, saya memang tak terlalu kenal secara dekat Safari Prigen. Apalagi mengunjunginya. Padahal setiap pulang kampung ke Jawa Timur, kami kerap melewati Pasuruan. Tak terlalu jauh dari kota kelahiran ayah, Situbondo, Jawa Timur. Andai kata sejak lama saya mengetahuinya, mungkin kami akan mengagendakan untuk mengunjungi Safari Prigen bersama.

Supaya kenal lebih dekat dengan Safari Prigen, saya akhirnya mendaftarkan diri pada acara Kompasiana Coverage yang diselenggarakan di Beezy Kaffe Jalan Wijaya Timur Kebayoran Baru, Jakarta pada tanggal 30 Januari 2016 yang lalu. Hadir sekitar 24 Kompasianer lainnya yang ikut serta yang penasaran apa sebetulnya yang dijual oleh Safari Prigen dan apa yang membedakan dengan Taman Safari lainnya.

[caption caption="sumber safari prigen"]

[/caption]Beruntung pada kesempatan tersebut hadir person yang paling bertanggung jawab dalam mengenalkan Safari Prigen kepada Kompasianer, salah satunya adalah Ashrully Setia Yudanto selaku Marketing Communication Manager dan perwakilan dari Bali Safari & Marine Park, ibu Siauw Ying.

Pada kesempatan pertama mas Setia menjelaskan kenapa Taman Safari memilih nama Prigen. Prigen merupakan nama kecamatan dimana lokasi Taman Safari Prigen ini berada. Taman Safari merasa harus mengangkat nama Prigen sebagai brand Taman Safari yang berlokasi di Dsa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini. Jangankan kalian, saya saja baru tahu kalau ada Kecamatan Prigen di Pasuruan. Secara tidak langsung ini mengangkat nama daerah juga. Jadi tidak semata Taman Safarinya sendiri yang dikenal.

Taman Safari Prigen ini dikalim sebagai Taman Safari paling besar dari cabang lainnya. Luasnya mencapai 350 hektar. Hingga saat ini koleksi Taman Safari Prigen diperkirakan mencapai 200 spesies satwa dengan lebih dari 3000 beragam koleksi satwa.

Mungkin kalian pernah membaca tentang Taman Nasional Baluran. Nah, habitan dan lingkungan Taman Safari Prigen tidak terlalu jauh berebda dengan Taman Nasional Baluran. Tak ayal beberapa satwanya didatangkan dari Benua Afrika, Amerika, Australia hingga negara seperti India. Tak ketinggalan juga satwa-satwa asal Indonesia di konservasi di Safri Prigen ini.

[caption caption="sumber safari prigen"]

[/caption] Safari Prigen mengakui bukan hanya sekedar bergerak dalam konservasi satwa melainkan juga merupaka lembaga edukasi sekaligus juga taman rekreasi. Kegiatan di luar tak terbilang banyaknya. Safari Prigen pernah terlibat dalam penyelematan satwa yang terlantar dan terlibat bentrok dengan manusia. Salah satu hal yang dilakukan Safari Prigen belum lama ini adalah upaya penyelamatan seekor bayi Dugong yang ditelentarkan oleh induknya. Dugong tersebut dirawat dan dipelihara di tempat asalnya hingga bisa dilepas ke lautan luas. Bahkan pernah juga melakukan 'mediasi' harimau yang terlibat 'bentrok' dengan manusia di Malang Selatan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun