Mohon tunggu...
Dzulfikar
Dzulfikar Mohon Tunggu... Content Creator

SEO Content Writer yang mencoba menafsirkan ide dengan kumpulan kata yang sederhana. Aktif menulis di blog bangdzul.com dan menvisualisasikannya di vlog youtube.com/dzulfikaralala

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Berapa Sih Gaji Guru Bimbel?

26 Juli 2012   04:52 Diperbarui: 25 Juni 2015   02:36 0 18 6 Mohon Tunggu...

Saya jadi ikut-ikutan nih ngomongin masalah gaji. Setelah gaji produser TV dan royalti penulis buku, saya ingin berbagi pengalaman saya selama 10 tahun menjadi guru bimbel. Meskipun saat ini status saya bukan lagi menjadi seorang guru bimbel. Profesi menjadi guru bimbel sudah saya geluti selama masih berstatus sebagai mahasiswa menginjak semester kelima. Hal tersebut saya lakukan awalnya memang hanya sekedar iseng untuk mengisi waktu luang setelah pulang kuliah. Daripada menganggur di kostan lebih baik ada aktifitas lain, pikir saya. Tempat mengajar yang pertama saya geluti adalah sebuah kursus Bahasa Inggris, LPIA Depok. Selain mengajar di tempat kursus saya juga di kirim ke sekolah-sekolah. Jadi lembaga kursus bekerja sama dengan sekolah. Lembaga kursus mengirimkan gurunya ke sekolah-sekolah sebagai bentuk kerjasama. Di awal-awal mengajar bayaran masih relatif kecil, Rp. 650.000,-/bulan (2004/2005). Setelah beberapa lama di lembaga kursus Bahasa Inggris kemudian saya diajak oleh salah seorang rekan saya yang sudah lebih awal masuk sebuah lembaga bimbingan belajar. Saat itu yang sedang booming adalah Primagama. Kemudian, saya pun mengajar di Primagama Mampang, Sawangan, Depok. Rate pengajar junior saat itu, sekitar tahun 2004/2005, adalah Rp. 25.000/sesi (SD), Rp. 30.000/sesi (SMP), Rp. 35.000/sesi (SMA). Saat ini mungkin berkisar antar Rp. 35.000 - Rp. 50.000,-. Kebetulan sesi mengajar lebih banyak di SMP dan SMA. Untuk pengajar yang lebih senior, rate pembayarannya tentu lebih tinggi. Indikator prestasi dinilai dari kepuasan anak di kelas dan prestasi anak di sekolahnya. Setiap tahun ada penilaian dari Managemen. Tidak disangka, lama-kelamaan ternyata pemasukan dari mengajar mulai menggoda saya untuk menambah jam mengajar. Selain mengajar di bimbel, saya pun memberikan les privat untuk anak-anak tingkat SD, SMP dan SMA. Seiring waktu berjalan akhirnya saya dikenalkan lagi oleh teman saya pada sebuah lembaga privat bernama SKM UI. Lembaga ini hanya menangani anak-anak yang membutuhkan pembelajaran personal di rumah mereka masing-masing. Pembayarannya lebih besar dibandingkan di lembaga bimbingan belajar. Satu sesi dipatok Rp. 100.000,-ย  Tentu saja hal ini yang membuat saya berpaling dari lembaga bimbingan belajar. Lama kelamaan saya lebih banyak menerima privat dibandingkan penawaran jam mengajar di bimbel. Tidak munafik bahwa bayaran dari lembaga privat lebih menggiurkan dibandingakan dari lembaga bimbel. Tapi ternyata pemasukan di lembaga privat malah tidak menentu meskipun besarannya terbilang lumayan. Terkadang siswa privat ada acara sehingga membatalkan jadwal. Sebulan rata-rata ada empat kali pertemuan. Sesi pertemuan dilakukan sepekan satu kali. Jika ada dua anak yang di ajari, maka satu bulan saya sudah mengantongi Rp. 800.000,- Nah, tapi permasalahannya itu tadi. Jadwal belajar lebih banyak tergantung pada kesediaan anaknya. Jika anaknya sedang ada acara keluarga atau tidak mood belajar, maka dipastikan tidak ada pemasukan. Teman saya yang mengajar eksakta, ada yang sampai mengajari lima orang anak dalam satu pekan. Bahkan bayaran pengajar eksakta lebih besar dibandingkan dengan bayaran ilmu bahasa atau ilmu sosial. Katakanlah satu sesinya Rp. 150.000,- artinya dalam satu bulan dia bisa mendapatkan Rp. 2.960.000,- Setalah masuk masa PPL kemudian saya konsentrasi pada PPL. Hanya beberapa jadwal di bimbel saja yang masih saya pegang. Kebetulan setelah PPL saya masuk ke bimbel yang berbeda. Jalur pulang dari tempat PPL, saya mendapatkan sebuah bimbel yang berasal dari Bandung, yaitu Sony Sugema College. Begitu saya diterima di SSC, dimulailah karir pertama saya di lembaga bimbingan belajar. Ketika masuk saya masih berstatus sebagai guru kontrak. Kemudian setahun kemudian setelah lulus kuliah, saya diangkat menjadi guru tetap. Ketika masih di SSC bayaran yang di berikan sudah jauh dari cukup. Untuk guru junior sekitar Rp. 2.000.000 sampai dengan Rp. 2.500.000,- Ini berbeda sekali dengan teman-teman yang merintis karir di sekolah negeri yang hanya mendapatkan bayaran antara Rp. 500.000 - Rp. 750.000,-/bulan. Berkat itulah saya bisa menikah dengan biaya sendiri dan alhamdulillah bisa membeli motor secara cash sebagai alat transportasi utama untuk berangkat ke kantor. Sampai saat ini alhamdulillah sudah banyak nikmat yang saya dapatkan dari profesi saya sebagai guru bimbel. Terakhir saya dapat membeli sebidang tanah yang direncanakan untuk membangun sebuah rumah. Tidak terlalu luas memang hanya sekitar 115 m2 di daerah Pamulang, Tangerang Selatan. Kebetulan sekali lokasinya cukup strategis dan dekat sekali dengan jalan raya. Jabatan terakhir saya di SSC adalah seorang Manager Akademik dan bertanggung jawab terhadap kegiatan akademik di tiga buah cabang. Gaji terakhir saya cukup lumayan sekitar 4,5jt. Gaji itu belum ditambah bonus di akhir tahun jika target kelulusan UN, kelulusan siswa di SNMPTN dan pencapaian target siswa bisa tercapai. Bonus terbesar yang pernah saya dapat adalah dua kali gaji. Apalagi bonus di berikan satu bulan menjelang lebaran. Artinya saya langsung dapat gaji tiga kali lipat. Kondisi ini jelas berbeda dengan bimbel lain. Saya pernah mendengar jika seorang manager cabang di salah satu bimbel bahkan diberikan saham sekitar 10 %. Dari segi kesejahteraan seorang guru bimbel memang lebih baik dibandingkan dengan guru sekolah. Sekali lagi tidak semua lembaga bimbel demikian. Ada beberapa bimbel kecil yang kondisi keuangannya mungkin belum sampai seperti itu. Yang jelas guru bimbel memang motor utama sebuah bimbel. Jika guru tersebut lari, maka bimbel akan kehilangan penggeraknya. Maka dibutuhkan SDM yang benar-benar bekualitas dan sebanding dengan apa yang diapatkan. Untuk menjadi seorang guru bimbel tidak dibutuhkan akta IV. Dari jurusan teknik dan ilmu murni pun bisa. Bahkan biasanya ilmunya lebih mendalam dan lebih disukai oleh anak-anak. Apalagi tingkat kesulitan soal SNMPTN sudah hampir setara dengan soal-soal olimpiade. Menjadi guru bimbel pun lebih santai, tidak perlu repot membuat analisis SK KD, RPP, Lesson Plan dan segala tetek bengek administrasi seperti di sekolah. Cukup membawa diri, bisa mengajar dengan baik dan atraktif, jika disukai oleh siswa akan menjadi nilai plus karena akan disayang oleh owner dan managemen. Alhamdulillah, selama bekerja uang yang saya dapatkan saya bagi-bagi baik untuk keluarga, orang tua dan mertua. Jika ada sisa saya tabung dan membeli beberapa keperluan untuk mendukung pekerjaan. Disamping itu juga saya menabung untuk pendidikan anak saya. Karena saya sadar bahwa biaya pendidikan akan semakin tinggi di tahun-tahun mendatang. Tidak lupa juga saya menyisihkan uang yang saya peroleh untuk di sedekahkan. Semakin banyak uang yang saya sedekahkan justru dikembalikan oleh yang Kuasa berkali-kali lipat. Maka saya tidak pernah ragu untuk bersedekah mana kala ada kesempatan. Insya Alloh rezeki yang kita dapatkan akan menjadi berkah. "Banyak jalan menuju Roma". Masih banyak jalan yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan rezeki yang halal. Bahkan ketika saya berkonsultasi dengan ibunda, beliau menyarankan untuk Kerja Otak dan bukan Kerja Otot ketika saya megutarakan berniat berbisnis dalam bidang kuliner. Kerja Otak inilah yang sudah di contohkan Kompasianer kita bapak Johan Wahyudi dan Om Wijaya Kusuma dengan Menulis Buku. Salam @gurubimbel

KONTEN MENARIK LAINNYA
x