Mohon tunggu...
Fika Fatiha
Fika Fatiha Mohon Tunggu... Lainnya - Beriman, Berilmu, Beramal

Menulis Karena Ga Bisa Menggambar

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Bagaimana Seharusnya Guru di Indonesia? (Refleksi Hari Pendidikan Nasional)

2 Mei 2022   12:30 Diperbarui: 2 Mei 2022   15:09 87 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Melihat berbagai macam perubahan dan tingkah laku sang anak, tentunya tidak terlepas dari sosok pengajar yang di lihat, di gugu dan di tiru. Pengajar tidak hanya berbicara mengenai profesi, tetapi pengajar merupakan subjek ataupun orang yang memberikan pengajaran baik secara sengaja maupun tidak sengaja kepada sang anak. 

Contohnya, bila kita melihat pada saat bayi lahir ke bumi. Bayi yang baru lahir masih bersifat suci, tidak mengerti apa-apa selain menangis, tersenyum dan sedikit menggerakan tubuhya karena itu merupakan bawaan lahiriah.

Tumbuh kembang sang bayi beserta pemikirannya di tentukan oleh orang terdekatnya, tak heran bila pernyataan “Ibu ataupun orang tua adalah madrasah pertama bagi anaknya”, karena memang yang mengajarkan pertama kali bagaimana anak tersebut dapat berbicara, berjalan, bertutur kata yang baik adalah orang terdekatnya, biasanya orang tersebut adalah Ibunya atau orang tuanya.

Peranan sang Ibu ataupun Orang Tua dalam mendidik anak tentu terbatas. Sang Ibu misalnya, tidak mungkin bisa mengajarkan seluruh aspek ilmu pengetahuan kepada sang anak. Oleh sebab itu, di samping perlu pengauatan pendidikan yang baik di dalam keluarga, umumnya, orang tua akan memasukkan sang anak ke lingkungan di luar keluarganya, yaitu lingkungan Sekolah. 

Di dalam lingkungan Sekolah, sang anak akan dikenalkan kepada seseorang yang mengajarkan ilmu pengetahuan yang mungkin belum di pelajarinya di rumah. Sosok pengajar tersebut adalah seorang Guru. Guru dalam lingkungan Sekolah merupakan sosok yang dianggap telah memiliki ilmu pengetahuan dalam mengajarkan seorang anak.

Ilmu pengetahuan tersebut tidak serta merta hanya tahu, tetapi seorang Guru juga dianggap harus bisa mengerti tentang cara mengajar yang relevan dan bisa bijaksana dalam menghadapi perbedaan latar belakang muridnya.  

Lantas bagaimanakah Guru di Indonesia? Sebelum kita menjawab fenomena yang terjadi mengenai Guru di Indonesia, ada baiknya kita melihat beberapa pelajaran penting tentang peranan Guru yang sangat berpengaruh terhadap peradaban.

Mungkin di pelajaran PPKn, IPS maupun sejarah, kita pernah mendengar bahwa Jepang pernah di bombardir wilayahnya oleh Amerika Serikat yang kita sebut sejarahnya sebagai Perang Dunia Ke-II. Dua Kota besar di Jepang Hirosima dan Nagasaki di bom oleh Amerika yang membuat seluruh aspek penunjang kehidupan di Jepang baik dari segi ekonomi, kesehatan maupun wilayahnya hancur tak terkendali.

Dalam kondisi tersebut, Kaisar Jepang bernama Hirohito justru malah menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa saat pertama kali mendengar negaranya luluh lantah oleh bom nuklir. Hal itu menimbulkan pertanyaan para jenderal di Jepang ‘mengapa bukan mereka yang notabene dipertanyakan?’ 

Padahal sudah tugas para Jenderal-lah untuk menjaga Kaisar dan Negaranya bukan para Guru. Tetapi, Hirohito, sang Kaisar  beranggapan bahwa  Jepang telah jatuh dan hal itu dikarenakan mereka (para Jenderal) tidak belajar. Jepang memang kuat dari segi persenjataan dan strategi perang. 

Tapi nyatanya mereka tidak mengetahui bagaimana cara untuk memenangkan Jepang dengan kekuatan yang ada. Kaisar berpendapat kalau mereka semua tidak dapat belajar bagaimana mungkin mereka akan mengejar ketertinggalan mereka dan bangkit lagi dari keadaan setelah negaranya hancur oleh bom nuklir?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan