Digital

Privatisasi Infrastruktur Telekomunikasi di Indonesia

14 Oktober 2018   00:51 Diperbarui: 14 Oktober 2018   05:40 603 1 1

Istilah privatisasi mulanya muncul dalam pembahasan perdagangan pasar dunia sudah sejak lama. Namun, privatisasi juga memiliki arti tersendiri dalam bidang komunikasi dan media. Jika dalam bahasa perdagangan privatisasi berarti pengalihan tanggung jawab dari publik ke privat (perorangan), maka dalam lingkup komunikasi berarti siapapun yang memiliki modal dan sumber daya yang tinggi atau besar, diperbolehkan untuk menciptakan media. Media yang dimaksud disini contohnya seperti stasiun televisi, koran dan sebagainya.

Di Indonesia, privatisasi mulai muncul sejak era Orde Baru, pada masa kepemimpinan Soeharto dimana pada saat itu Soeharto memperbolehkan stasiun televisi swasta (maupun siapapun yang memiliki banyak modal) untuk mendirikan cabang stasiun tv misalnya seperti MNC Group yang kini memiliki empat stasiun televisi Nasional FTA (free-to-air) perseroan, yakni RCTI, MNCTV, GTV, iNews. Saat ini, bukan hanya MNC Group saja yang memiliki banyak cabang stasiun televisi, ada TransCorp yang memiliki Trans TV dan Trans7, dan lain-lain.

 Sudah banyak media yang diambil alih oleh para pemilik modal untuk dijadikan kepemilikannya, sehingga satu orang bisa memiki banyak sekali media atau stasiun tv. Hal ini tentu berhubungan dengan konglomerasi media, dimana konglomerasi media adalah suatu keberagaman kepemilikan media oleh satu orang saja yang pada akhirnya konglomerasi media ini akan berakibat pada komersialisasi media. Dari pada memberikan informasi yang mendidik, para pemilik media cenderung lebih mengutamakan keuntungannya. Contoh, sinetron-sinetron di stasiun televisi tertentu yang cenderung mengajaran hal yang aneh-aneh pada masyarakat atau khalayak khususnya anak-anak.

Pada akhirnya, semakin banyak stasiun televisi yang berkembang di seluruh dunia, konglomerasi media ini juga memberikan dampak yang cukup signifikan. Contohnya stasiun TV BBC (British Broadcasting Corporation) dan CNN (Cable News Network) dimana kedua stasiun televisi ini sudah memiliki banyak cabang di tiap negara, bahkan di Indonesia yang kini sudah ada CNN Indonesia. Cabang stasiun inilah yang disebut dengan media lintas negara. 

Meskipun menjadi cabang di Indonesia, CNN tetap akan menyiarkan berita-berita luar negeri atau lintas negara yang biasanya disebut dengan International News. Kita sebagai penikmat dan peminat program-program siaran televisi memang bisa mendapatkan informasi seputar luar negeri, namun disisi lain aktivitas kita yang hanya dengan menonton saja ini dapat memberikan pemilik stasiun televisi menikmati kekayaannya pula.

Satu hal yang pasti, banyaknya variasi program dan cabang stasiun televisi swasta baik itu dari dalam negeri maupun luar negeri, perlu bagi kita untuk dapat memilah dan menggunakannya secara bijak agar kedepannya tidak mengakibatkan dampak buruk bagi kita. Privatisasi, konglomerasi media hingga media lintas negara memang merupakan suatu dampak yang ditimbulkan oleh semakin berkembangnya infrastruktur telekomunikasi di dunia. 

Pemikiran-pemikiran manusia yang tak pernah berhenti memberikan inspirasi kreatif, semakin memajukan dunia dalam perkembangan teknologi yang semakin mutakhir. Tidak sedikit pula masyarakat yang ingin turut andil dalam perkembangan infrastruktur telekomunikais dunia, karena semakin ke depan, persaingan akan semakin meluas. Begitu pula dengan para pemilik media yang harus mempersiapkan cara untuk tetap terus menarik perhatian khalayak jika suatu saat nanti muncul media baru yang cenderung lebih maju dari miliknya. Begitulah perkembangan zaman, jika lengah maka kita akan tertinggal oleh perkembangan teknologi.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.mnc.co.id/about-us (diakses pada 13 Oktober 2018 pukul 10.51)

 Thussu, Daya Kishan. 2000. International Communication (Continuity and Change). Hodder Headline Group: London