Mohon tunggu...
Fery Pratama
Fery Pratama Mohon Tunggu... Administrasi - Mahasiswa

Saya sekarang masih menjadi mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Malang. dengan mengambil jurusan Hukum Tata Negara.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Indonesia, Negara Mayoritas Islam yang Tidak Hancur Ketika Dimasuki Demokrasi

28 Agustus 2017   20:35 Diperbarui: 29 Agustus 2017   09:01 5626
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Berbicara mengenai Indonesia tidak jauh dari betapa pluralnya negara ini. Terlepas dari beberapa kemelut yang terjadi dinegeri ini yang tengah diperbaiki, mulai dari kasus korupsi sampai kasus perubahan terhadap sistem negara ini dengan menerapkan syari'at Islam secara sebenar-benarnya yang diusung oleh beberapa golongan ormas-ormas Islam yang mencoba untuk menrongrong negara ini dengan melupakan bahwa persatuan dan kesatuan harus tetap dijunjung tinggi daripada ego masing-masing baik yang katanya berjuang demi agama, suku bahkan yang berjuang demi  kemaslahatan dirinya sendiri.

Disamping itu semua indonesia patut berbangga bahwa negara Indonesia adalah satu-satunya negara yang penduduknya mayoritas Muslim yang tidak hancur ketika dimasuki sistem demokrasi. Sebenarnya disamping Indonesia terdapat negara Turkey yang penduduknya mayoritas Muslim tetapi Turkey merupakan negara Sekuler sehingga agama tidak berpengaruh terhadap pemerintahan berbeda dengan Indonesia yang menyatakan sebagai negara yang beragama sesuai dengan Pancasila sila pertama yang berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa". 

Sedangkan negara-negara mayoritas Muslim lainnya seakan susah untuk menerapkan Demokrasi di negara mereka sebut saja Afganistan yang 99%  penduduknya menganut agama Islam yang menerapkan demokrasi dalam sistem pemerintahannya, tetapi negara tersebut malah menjadi daerah konflik berkepanjangan. 

Demokrasi seakan-akan menjadi momok bagi negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Oleh karenanya, negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim lebih memilih menerapkan sistem Monarkhi, sebut saja negara Malaysia, Brunei, Arab Saudi. Tetapi itu tidak berlaku bagi negara kita Indonesia ini walaupun penduduknya mayoritas Muslim tetap memakai sistem demokrasi dan tidak ada konflik yang terlalu berkepanjangan dikarenakan sistem ini.

Jika ditinjau lebih dalam mengenai keadaan diatas, sepatutnya kita membahas dua hal. Pertama,kecocokan demokrasi dengan negara yang mayoritas penduduknya Muslim jika menggunakannya sebagai sistem pemerintahan negara tersebut. Kedua,keberagaman negara ini mempengaruhi keberhasilan sistem demokrasi di negara Indonesia.

Demokrasi dan negara yang berpenduduk mayoritas Islam

Demokrasi menurut Abraham Lincoln adalah pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Sedangkan menurut Hanry B. Mayo demokrasi adalah suatu sistem ysng  menunjukkan bahwa kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan pada prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana kebebasan politik. 

Jadi demokrasi adalah suatu pola pemerintahan dimana kekuasaan untuk memerintah berasal dari mereka yang diperintah atau pola pemerintahan dengan  mengikut sertakan secara aktif semua anggota masyarakatnya dalam pengambilan keputusan oleh mereka yang diberi wewenang. Sistem ini terlihat begitu sempurna untuk dipakai semua negara tak terkecuali oleh negara-negara yang  mayoritas penduduknya muslim. 

Tetapi itu semua tidak sesuai dengan realita yang terjadi sebenarnya pada negara-negara yang berpenduduk mayoritas Islam, demokrasi seolah-olah menjadi momok bagi keutuhan negara mereka. Kita ambil contoh saja negara-negara arab yang sedang bergejolak sampai saat ini, misalnya Afganistan menerapkan sistem demokrasi juga tetapi apa yang terjadi pada negara mereka? Negara mereka menjadi negara konflik berkepanjangna, lain halnya dengan negara Mesir, negara ini mulai goyah dan terjadi konflik karena ingin mengubah cara pemelihan pemimpinya yang berdasarkan keturunan sehingga ditaktor menjadi pemilihan yang lebih demokratis dan akhirnya pecahlah konflik dinegara tersebut, dan masih banyak lagi negara yang mayoritas penduduknya muslim yang mengalami masalah tersebut.

Hal tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa negara yang penduduknya mayoritas islam tidak bersahabat dengan sistem demokrasi atau bahkan bisa dikatakan bermusuhan. Hal tersebut bisa saja didasari oleh sejarah Islam itu sendiri bagaimana Islam juga mencapai kejayaan dengan pemerintahan yang menganut sistem Monarkhi, sebut saja kerajaan Umayah, Abbasiyah dimana pada saat itu Islam sanggup disebarkan sampai ke Eropa dan meraih masa kejayaannya. 

Walaupun sebelum kerajaan tersebut tepatnya pada masa Nabi SAW dan masa sahabat mereka mengajarkan demokrasi. Itu bisa dilihat dengan kejadian menjelang Nabi wafat beliau tidak menunjuk langsung siapa penggantinya semua urusan itu diserahkan pada rakyatnya.  Tetapi dengan lamanya kerajaan Islam setelah itu berkuasa seakan menunjukkan bahwa sistem monarkhi lah yang cocok dengan orang Islam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun