Fery Nurdiansyah
Fery Nurdiansyah pegawai pemerintah

hanya tekad yg bisa merubah diri kita menjadi lebih baik.\r\nPedoman yg kita yakini akan dapat manjadikan tiang yg kokoh buat diri kita.\r\nSebuah angan angan yg menjadi tujuan kita.\r\ndan kasih sayang yg dapat mamberikan kita semangat dalam kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Harus Ada Aturan Main untuk Pemberian Diskon pada Konsumen

12 Maret 2018   18:11 Diperbarui: 13 Maret 2018   18:42 1182 3 0
Harus Ada Aturan Main untuk Pemberian Diskon pada Konsumen
Ilustrasi (mercbus.pl)

Pada dunia bisnis, sangat erat kaitannya produsen dengan pedagang, terutama pedagang pengecer (ritel) sebagai pihak yang berhadapan langsung dengan konsumen, namun tidak menutup kemungkinan produsen sendiri langsung berhadapan dengan konsumen. Oleh karena itu, ritel merupakan ujung tombak dalam memasarkan suatu barang untuk sampai kepada konsumen. Karena berhadapan langsung dengan konsumen maka ritel berupaya dengan berbagai praktik-praktik atau kiat-kiat cara menjual untuk menarik konsumen agar membeli produk yang dijualnya.

Praktik-praktik cara menjual ritel marak di berbagai pertokoan/mall agar omzet penjualannya dapat meningkat. Pada satu sisi, keadaan ini menguntungkan bagi konsumen karena konsumen memiliki kesempatan yang lebih baik dalam memilih produk yang akan dibelinya dengan harga bersaing. Namun demikian di sisi lain, apabila informasi yang kurang memadai mengenai suatu produk maka konsumen akan salah mengambil keputusan dalam menentukan pilihannya. Untuk itu, konsumen perlu mendapatkan perlindungan yang cukup agar terhindar dari ekses negatif dari praktek cara menjual yang dilakukan oleh bisnis ritel.

Cara menjual yang banyak dilakukan ritel yaitu dengan diskon harga untuk berbagai pilihan merk produk. Penawaran dengan harga diskon ini mengharapkan sedikit margin keuntungan, perputaran produk yang cepat. Di samping itu, dengan pemberian diskon bertujuan untuk menjadi daya tarik bagi konsumen untuk menentukan kebutuhannya.. Strategi dari ritel adalah dengan mengiklankan produk secara gencar dengan memberikan produk bermerk terkenal dengan harga yang cukup rendah.

Diskon adalah cara menjual barang/jasa yang ditawarkan kepada konsumen dengan potongan harga, biasanya dengan persentase dari harga barang/jasa yang bersangkutan, dan konsumen sudah tidak bisa menawar lagi.

Diskon biasanya terdapat pada pusat pertokoan atau perbelanjaan seperti mall, hypermarket, mini market dll, dalam prakteknya, cara ini dianggap paling baik untuk memancing konsumen membeli produk barang yang ditawarkan. Konsumen berpandangan bahwa barang yang dijual dengan pemberian diskon mutunya lebih baik ketimbang barang yang dijual secara obral. Pandangan masyarakat seperti itu ditangkap oleh penjual untuk menentukan strategi' penjualan. Pemberian diskon oleh pelaku usaha ritel seringkali tidak reasonable,misalnya hypermarket membagikan katalog barang yang diberi diskon kepada masyarakat, hal ini dilakukan secara terus-menerus dengan diskon besar-besaran.

Sadar atau tidak, masyarakat telah terpedaya dengan adanya cara menjual dari pelaku usaha dengan menggunakan diskon sebagai salah satu strategi untuk menarik perhatian konsumen. Tipu daya ini membuat psikologis setiap konsumen sangat ingin melihat ataupun membeli barang yang telah di diskon. Sebagai contoh harga barang 100 ribu dan diberikan diskon 25% sehingga harga beli menjadi 75 ribu padahal bulan/hari sebelumnya barang tersebut memang 75 ribu.

Pemberian diskon umumnya pada kisaran 20% sampai dengan 70% dengan periode waktu tertentu pemberian diskon adalah setiap hari, pada saat hari raya, ulang tahun perusahaan ritel, liburan semesteran, akhir tahun atau pada saat promosi produk tertentu dengan menjual barang baru. Lamanya pemberian diskon, biasanya 2 hari sampai 7 hari. 

Akan tetapi ada juga ritel yang "nakal" melakukan praktek cara menjual dengan cara tipu muslihat ritel karena potongan-potongan harga pada item barang tertentu biasanya dilakukan bersamaan dengan menaikkan harga barang kebutuhan konsumen lainnya untuk menutup kerugian dari produk barang yang di-diskon. Pemberian diskon seringkali juga dilakukan untuk menjual barang yang sudah kedaluarsa. Oleh sebab itu, konsumen perlu mewaspadai pada produk-produk yang didiskon, apakah produk-produk diskon merupakan, barang produk lama/cuci gudang, barang cacat, barang sisa ekspor/impor dan barang bekas.

Apakah ada "Aturan Main"mengenai diskon harga barang? Melihat carut marutnya cara menjual dan kini diskon sudah merajalela dalam dunia perdagangan yang kurang sehat. Pengaturan beberapa negara dalam upaya untuk melakukan prevensi dan pengawasan (surveillance) praktek cara menjual (sales and marketing methods)produk barang dalam bisnis ritel di beberapa negara yang dianggap sudah lebih maju dan sudah lebih mapan dalam pengaturan dan mekanisme prevensi dan pengawasan terhadap praktek cara menjual tersebut.

Di Indonesia sendiri aturan mengenai cara menjual seperti diskon telah diatur pada Undang-Undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), yaitu Pasal 11 Huruf F, yaitu Pelaku usaha dalam hal penjualan yang dilakukan melalui cara obral atau lelang, dilarang mengelabui/menyesatkan konsumen dengan: menaikkan harga atau tarif barang dan/atau jasa sebelum melakukan obral. Padahal cukup jelas sanksi yang di dapat yaitu pidana 2 tahun atau pidana denda paling banyak 500 juta (Pasal 62 UUPK).

Serta Peraturan Menteri Perdagangan No. 20/2009 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pengawasan Barang dan/atau Jasa, yang mengatur mengenai barang beredar dan Peraturan Menteri Perdagangan No 35/2013 tentang Pencantuman Harga Barang dan Tarif Jasa yang Diperdagangkan, mengatur mengenai keharusan pelaku usaha ritel untuk mencantumkan harga barang. Akan tetapi sampai saat ini belum berjalan secara efektif oleh karena belum ada pedoman teknis mengenai pengaturan cara menjual dengan diskon. Lebih lagi perilaku pelaku usaha ritel yang inovatif dalam pemasaran untuk menjual, tidak diikuti dengan regulasi yang baik, menjadi potensi kerugian konsumen semakin tinggi.

Diskon di Amerika, Australia dan Singapura?

Melihat negara lain seperti, Di Amerika Serikat (AS) Pemerintah bersama Kongres berperan dalam upaya perlindungan terhadap konsumen dengan mengesahkan Undang-undang dan kebijakan-kebijakan implementatif lainnya. Umumnya substansi peraturan dan kebijakan tersebut dimaksudkan untuk melindungi konsumen dari promosi barang yang bersifat mengelabuhi (deceptive) dan menyesatkan (misleading)oleh pelaku usaha melalui tindakan commercial speech. 

Dalam melakukan tindakan commercial speech untuk menjual dan mempromosikan produknya, pelaku usaha dibatasai oleh undang-undang (Act) dan regulasi Negara, antara lain yang utama adalah: (1). Federal Trade Commission (FTC Act); (2). The Lanham Act; (3). Unfair Deceptive Act Practices (UDTPA) dan (4). Peraturan dan Kebijakan Perlindungan Konsumen lain yang relevan.

Menurut undang-undang di Amerika serikat, diskon kuantitas harus ditawarkan sama untuk semua pelanggan dan tidak melebihi penghematan biaya yang diperoleh penjual karena menjual dalam jumlah besar. Penghematan ini meliputi pengurangan biaya penjualan persediaan dan pengangkutan. Diskon ini meliputi pengurangan biaya penjualan, persediaan, dan pengangkutan. Diskon ini dapat diberikan atas dasar tidak kumulatif (berdasarkan tiap pesanan yang dilakukan) atau atas dasar kumulatif.  Diskon ini memberikan insentif bagi pelanggan untuk membeli lebih banyak dari seorang penjulal dan tidak membeli dari banyak sumber.

Di Australia aturan mengenai langkah-langkah prevensi dan pengawasan (surveilance) terhadap praktek cara menjual (sales and marketing methods) barang dalam bisnis ritel diatur dalam Trade Practices Act1974, khususnya dalam Part VC yang mengatur tentang bentuk-bentuk unfair trade practices khususnya yang relevan dengan praktek cara menjual barang dalam bisnis ritel. Salah satu peraturan (Misleading ordeceptive conduct) menyebutkan pelaku usaha tidak diperkenankan untuk terlibat atau melakukan aktivitas dan tindakan penjualan atau pemasaran barang yang dapat menipu (deceive) dan menyesatkan (misleading) konsumen.

Di Singapura Dalam melakukan prevensi dan pengawasan serta pengaturan terhadap praktek cara menjual barang dalam bisnis ritel, Pemerintah dalam hal ini Kementrian Industri dan Perdagangan (Ministry of Industry and Trade- MIT) Singapura bekerja sama secara sinergis dengan Singapore Retailers Association(SRA), dengan domain peranan dan tugas sebagai berikut: (1). Pemerintah melalui MIT mengeluarkan regulasi pokok tentang hal tersebut yang terdapat dalam the Consumer Protection (Fair Trading) Act khususnya Second Schedule yang mengatur praktek-praktek perdagangan tidak adil, (2). Singapore Retailers Association (SRA) sebagai Self Regulating Organization(SRO) yang mewakili semua unsur pelaku usaha terkait mengeluarkan SRA Code ofPractice (CoP)sebagai aturan internal bersama yang wajib ditaati.

Apabila pelaku usaha melakukan pelanggaran terhadap aturan-aturan di atas dan konsumen dirugikan hak-haknya maka konsumen pertama-tama harus menyelesaikan sengketa tersebut dengan pelaku usaha secara langsung. Kemudian pelaku usaha juga wajib mempersiapkan dan menyediakan penyelesaian sengketa konsumen dengan cara mediasi sebagai platform penyelesaian sengketa konsumen.

Terhadap pelaku usaha yang berkali-kali melakukan pelanggaran maka pengadilan dapat mengeluarkan injuction, beberapa berisi perintah pengadilan untuk menghentikan usahanya. Namun demikian sebelum diberikan sanksi berupa injuction, pelaku usaha diberikan kesempatan untuk menempuh cara non-litigasi melalui Voluntary Compliance Agreement (VCA) antara pelaku usaha dengan SRA.

Dengan demikian banyak sekali pelaku usaha maupun konsumen tidak mengetahui mengenai aturan main potongan harga atau yang kita dikenal 'Diskon', sehingga pencantuman harga diskon adalah hanya sebagai penarik minat konsumen secara psikologis dan menarik keuntungan semata. Sehingga untuk menimbulkan persaingan usaha yang sehat dalam berbisnis akan sulit tercapai.