Mohon tunggu...
Fery. W
Fery. W Mohon Tunggu... Berharap memberi manfaat
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Penikmat Aksara, Musik dan Tontonan. Politik, Ekonomi dan Budaya Emailnya Ferywidiamoko24@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Mengenal Kain Gringsing, Kain Khas Bali yang Sarat Filosofis

6 Oktober 2019   07:08 Diperbarui: 6 Oktober 2019   18:37 1058 25 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengenal Kain Gringsing, Kain Khas Bali yang Sarat Filosofis
Kain tenun gringsing yang menggunakan teknik ikat ganda dari Desa Tenganan, Bali (Dok. Travel.komaps.com)

Bali, siapa tak kenal pulau yanng satu ini bahkan ada yang lebih kenal Bali dibanding Indonesia, dikenal sebagai pulau wisata dengan keindahan alamnya, hype hiburan malamnya dan jangan lupa budayanya yang masih terpelihara dan diamalkan dengan baik.

Pulau Dewata begitu julukannya, hampir setiap daerah di Bali memiliki ragam budaya lokal. Termasuk di dalamnya hasil karya sandangnya yang sangat khas, terdapat kain tenun khas Bali yang bernama kain gringsing, dibuat dengan teknik double ikat yang tak dimiliki oleh kain tenun manapun di Indonesia ini.

Proses pewarnaan kain tenun ini sangat rumit dan dapat memakan waktu lebih dari satu tahun melalui 3 kali proses pewarnaan, dengan menggunakan bahan pewarna alami. Secara keseluruhan waktu yang dibutuhkan untuk membuat sehelai kain gringsing sekitar 2,5 tahun.

Kain gringsing merupakan kain yang disakralkan oleh masyarakat Tenganan Pengrisingan. Desa Tenganan sendiri berada di Kabupaten Karang Asem  yang merupakan wilayah Bali Aga, sebutan bagi masyarakat keturunan Bali asli yang belum mendapat pengaruh Majapahit dan belum tercampur oleh klen lain.

Sistem pemerintahan Desa adat Tenganan diatur dalam tatanan aweg-aweg desa yang wajib ditaati oleh seluruh masyarakat desa adat Tenganan yang sesuai dengan konsep Tri Hita Kirana. Yaitu sebuah konsep agar kehidupan masyarakat selaras dan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan manusia.

Masyarakat Tenganan memiliki budaya yang sangat luar biasa dan mendalam, salah satunya adalah pembuatan kain gringsing ini. Kain itu digunakan pada setiap upacara adat maupun upacara keagamaan. Tradisi ini tetap bertahan hingga sekarang.

sumber: rachnasandika.com
sumber: rachnasandika.com
Kain gringsing sarat akan makna, gringsing sendiri berasal dari kata gring yang artinya sakit. Dan sing yang artinya tidak. Jadi gringsing berarti tidak sakit atau terhindar dari sakit

Kain gringsing mengandung makna sebagai penolak bala, yaitu mengusir penyakit yang bersifat jasmani maupun rohani. Masyarakat percaya bahwa kain gringsing memiliki kekuatan magis yang dapat melindungi mereka dari musibah sakit.

Proses dan Teknik Pembuatan

Seluruh pengerjaan kain gringsing dilakukan dengan tangan alias handmade. Benang yang digunakan dipintal oleh pintalan tangan alat pintal tradional, dengan bahan kapas biji satu yang hanya tumbuh di Pulau Nusa Penida.

Setelah selesai dipintal, benang tersebut direndam selama lebih dari 40 hari sampai dengan maksimal satu tahun dengan memakai minyak kemiri. Dan minyaknya diganti setiap 25-49 hari. Semakin lama benang itu direndam semakin lembut dan kuat struktur benangnya.

Setelah itu baru masuk dalam proses pemintalan dengan teknik double ikat artinya proses penataan benang, pengikatan, dan pewarnaan dilakukan pada sisi lungsi (panjang) dan pakan (lebar). Teknik tenun ini hanya terdapat di tiga negara di dunia. Selain di Tenganan teknik ini juga dilakukan di India dan jepang.

Dalam satu helai kain gringsing hanya memiliki 3 warna saja, yaitu kuning, merah, dan hitam yang disebut tridatu. Pewarna alami untuk warna merah merupakan campuran dari akar pohon mengkudu dengan kelopak pohon kepudung putih.

Warna kuning, minyak buah kemiri berusia lebih dari 1 tahun, dicampur dengan air serbuk kayu. Dan batang pohon thaum untuk warna hitam. 

Ketiga warna tersebut memiliki filosofi masing-masing. Menurut Bapak Kelian adat Tenganan, Warna kuning pada kain gringsing melambangkan angin, sebagai manifestasi oksigen yang dihasilkan tumbuhan, maka tumbuhan harus dijaga agar kelangsungan hidul manusia pun terjaga

Warna merah sebagai personifikasi dari api yang memberikan energi bagi kehidupan manusia. Warna hitam melambangkan air yang memberi penghidupan untuk seluruh makhluk di muka bumi.

Selain memaknai ketiga warna tersebut sebagai angin, api dan air, juga melambangkan trimurti dalam agama Hindu. Kuning untuk Brahmana sebagai pencipta,  merah untuk Siwa sebagai pelebur, dan hitam untuk Wisnu sebagai pemelihara.

Kain gringsing konon katanya secara keseluruhan memiliki 20 motif, namun yang baru bisa dikerjakan hanya 14 motif saja, yaitu, lubeng, sanan empeg, cecempkaan, cemplong, gringsing isi, wayang, batun tuung.

Motif-motif kuno kain gringsing lainnya yang masih dikenal meliputi: Teteledan, Enjekan Siap, Pepare, Gegonggangan, Sitan Pegat, Dinding Ai, Dinding Sigading, dan Talidandan.

Bagi masyarakat Tenganan, kain gringsing memiliki nilai sakral sebagai simbol keselarasan hidup serta sebagai penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan budaya adiluhung kain tersebut.

Kain Tenun gringsing sekarang sudah dipatenkan oleh pemerintah provinsi Bali ke Kementerian Hukum dan HAM. Hak paten itu berupa Hak Indikasi Geografis.

Usia kain gringsing kuno yang ada dan masih dipakai saat ini mencapai usia 100 tahun. Mengenai harga yang, karena prosesnya yang rumit harga kain gringsing bisa mencapai 25 juta Rupiah per helai.

Sampai hari ini kain ini terus diproduksi bahkan beberapa pengrajin sedang mengembangkan dan terus mencari motif-motif baru kain tenun khas Pulau Dewata ini.

Sumber

detik.com
hurahura.wordpress.com
blog.isi-dps.ac.id

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN