Mohon tunggu...
Efwe
Efwe Mohon Tunggu... Cuma sekedar berbagi

Penikmat tulisan dan tontonan

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Haruskah Seperti Ini?

22 Mei 2019   07:44 Diperbarui: 22 Mei 2019   08:42 0 10 5 Mohon Tunggu...
Haruskah Seperti Ini?
Jeffryns/detik.com

Akhirnya kericuhan terjadi juga setelah para pengunjuk rasa mencoba menerobos barikade kawat berduri di depan Kantor Bawaslu. Bentuk provokasi yang dilakukan oleh para pengunjuk rasa agar polisi melakukan tindakan yang mereka harapkan berakhir chaos. Unjuk rasa ini terjadi karena merasa tidak puas dengan hasil pilpres 2019. 

Polisi berusaha memukul mundur ke luar dari depan kantor Bawalu di Thamrin, demonstran bergerak mundur ke arah Tanah Abang dan jalan Wahid Hasyim. Sambil melempar bom molotov dan batu ke arah aparat mereka mundur sampai dengan pasar blok A Tanah Abang disanalah para pengunjuk rasa itu bertahan sambil melontarkan petasan dan kembang api kerah petugas. 

Petugas terus menekan posisi mereka dengan cara menembakan gas air mata. Batu berterbangan terus ke arah petugas gabungan antara Brimob dan TNI, akhirnya  mereka keluar dari wilayah Tanah Abang , melingkar keluar ke arah Slipi melalui jalan K.S.Tubun Petamburan. 

Kericuhan tidak berhenti mereka terus bergerak sambil meninggalkan kerusakan, kali ini asrama Brimob yang jadi sasaran sejumlah bangunan dan 11 kendaraan dinas milik Polri dan masyarakat hangus terbakar

Aparat terus melakukan pendekatan persuasif untuk melokalisasi situasi agar kericuhan ini tidak meluas. 

Akibat situasi ini banyak sekali kerusakan yang terjadi di sepanjang jalan mulai dari depan Kantor Bawaslu sampai dengan Petamburan. Batu-batu berserakan dimana-dimana, pecahan kaca, ada sejumlah mobil yang terbakar dan teronggok di pinggir jalan K.S.Tubun.

Kerugian materil pasti terjadi entah berapa nominalnya, kenapa sih harus terjadi lagi kerusuhan seperti ini. Belum lagi potensi kerugian yang terjadi, pasar Tanah Abang yang merupakan Pusat Gosir terbesar di Asia Tenggara harus terhenti denyutnya untuk sementara, apalagi hari-hari mendekati lebaran biasanya transaksi  berlipat omsetnya. Ekonomi di sekitar Petamburan pun otomatis berhenti, ini juga potensi kerugian lain.

Lebih luas lagi pasar efek berbagai instrumen di Bursa Efek Indonesia pun akan terpengaruh dengan situasi yang tidak kondusif seperti yang terjadi hari ini.

Apakah kerusahan ini yang diharapkan oleh kubu 02 dengan memprovokasi pendukungnya mulai dari jauh hari sebelum pemungutan suara tanggal 17 April 2019. Amin Rais  mulai menebar rasa takut dengan jargon "people power", kemudian saling bersahutan dengan sekondannya yang lain.Framing "02 hanya kalah kalu dicurangi" mencuat jauh jauh hari sebelum hari pencoblosan. 

Padahal main aja belum sudah teriak dicurangi. Ini aneh dan tidak salah juga kalau ada yang berpikir apabila kondisi hari ini merupakan kontijensi plan dari kubu 02 jika tidak memenangi pilpres.

Mungkin kericuhan hari ini tidak akan terjadi apabila pihak yang merasa dirugikan dalam pemilu 2019 bisa menyalurkan kekecewaannya secara elegan melalui jalur-jalur hukum yang telah disiapkan sesuai UU pemilu, bukan terus menerus menggoreng isu-isu ini di media sosial dan melalui statement-statement yang memprovokasi pendukungnya.

Sangat disayangkan elite yang seharusnya memberi pencerahan malah berperan dalam mengagitasi pendukungnya. 

Belum terlambat untuk meredam kisruh ini agar tidak terus terjadi. Jangan jadikan niat menyelesaikan ke Mahkamah Konstitusi hanya untuk mengulur waktu agar ruang untuk meluapkan frustasi politik  menjadi terbuka lebar. Sudahilah sirkus memuakan ini. Mulailah dengan memberikan imbauan-imbauan menyejukan agar kondisi ini tidak terus terjadi. Hidup ini bukan cuma pilpres, ingat keluarga, bangsa, dan negara ini butuh situasi yang kondusif buat tunbuh dan berkembang yang pada akhirnya rakyat akan sejahtera. 

Aparat harus lebih firm tapi tetap penuh perhitungan dalam menghadapi situasi ini.