Mohon tunggu...
Ferry Ardiyanto Kurniawan
Ferry Ardiyanto Kurniawan Mohon Tunggu... Menulis itu bebas

Pelantun doa dan pelaksana mimpi. Menulis untuk menguji kapasitas.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Mereka Pembawa Pesan Kehidupan (Bag. I)

29 Maret 2019   09:56 Diperbarui: 29 Maret 2019   11:28 0 0 0 Mohon Tunggu...
Mereka Pembawa Pesan Kehidupan (Bag. I)
Ilustrasi (Foto: Huffingtonpost.com)

Aku percaya, kehidupan selalu menawarkan pemandangan yang indah, bagi mereka yang mampu melihatnya tanpa kacamata hitam, dan kehidupan selalu berbisik syahdu kepada mereka yang mampu mendengarnya tanpa menghiraukan nada-nada sumbang yang berseliweran.

Begitu menyesal ketika aku menyadari bahwa mata dan telingaku tak menyediakan tempat untuk pemandangan itu berlabuh, pun ketika telinga tak aku pakai untuk mendengar suara syahdu kehidupan yang setiap saat selalu bersiul.

Aku terlalu mudah tersulut oleh nyala api yang kecil. Tanpa menghiraukan air dingin yang sudah tertampung sekian lamanya. Mengapa sangat mudah api kecil itu membakar sugestiku? Padahal sebenarnya ada air dingin yang setiap saat bisa aku percikan ke seluruh tubuh ini.

Apa mungkin sudah takdirnya bahwa kehidupan ada kalanya hangat, dan ada kalanya dingin? Aku tak perduli, di lembah kesadaran ini aku hanya ingin melihat dan mendengar gemercik air dingin tanpa ada api di sampingku.

Lantas, pemandangan air dingin dan suara gemercik air yang syahdu itu berasal dari mana? Aku baru menyadari bahwa itu semua tersedia di sekitarku, mereka, orang-orang yang lalu lalang di hadapanku selalu meninggalkan segelas air sejuk yang saat itu juga aku tuangkan ke dalam penampungan.

Hingga pada akhirnya, penampungan itu penuh dan aku lupa untuk memeriksanya. Dari mereka untuk diriku. Dan sekarang, aku ingin memeriksa pemberian mereka dalam setiap momen kehidupan ku, meski tercecer, aku berusaha menyusunnya sampai momen indah itu aku beri bingkai dan aku pajang di ruang tamu rumahku.

Teman Kecil Ku dengan Gerobak Dagangan Orangtuanya

Seorang temanku bernama Ardi yang masih belia merebahkan diri sepulang sekolah di sebuah gerobak. Ardi seorang anak dari keluarga kecil dan sederhana. Gaya hidupnya tak seperti teman-temanku yang lain, diantar-jemput pakai mobil, membawa bekal makan yang enak. Tapi Ardi sangat sederhana, semasa aku satu sekolah dengannya, aku mendapat banyak kesejukan darinya.

Setiap pagi, Ardi berangkat ke sekolah taman kanak-kanak, diantar oleh ayahnya. Sedang ibunya menyiapkan barang dagangan untuk seharian penuh lamanya. Temanku ini selalu menangis di sekolah kala ia ditinggal pergi oleh ayahnya untuk berdagang.

Awalnya aku mengira Ardi anak yang cengeng dan lemah, tapi ternyata dalam dirinya bersemayam kesabaran yang abadi. Waktu pulang sekolah tiba, teman-temanku yang lain tak terlambat untuk dijemput orangtuanya. Namun Ardi berbeda, setiap pulang sekolah, ia selalu menghampiri seorang tukang parkir di samping sekolahku. Ardi meminta kepada tukang parkir itu untuk menyeberangkannya.

Ardk berjalan kaki untuk mencapai tempat ayahnya berdagang. Kadang diantar oleh saudaranya yang tak jauh dari sekolah. Pulang sekolah ia lelah, tak ada kasur atau ranjang di tempat orangtuanya berdagang, hanya ada gerobak yang diberi ruang khusus di bagian bawahnya untuk menyimpan barang.

Saat berdagang barang itu dikeluarkan, lalu dibersihkan oleh orangtuanya agar anaknya dapat sekedar beristirahat. Siang Ardi tidur di gerobak itu, beralaskan kardus. Sorenya ia bermain di rumah temannya: karena rumah temannya tak jauh juga dari tempat jualan orangtuanya.

Malam tiba, Ardi tak mandi atau mengganti baju dengan piyama bergambarkan tokoh kartun. Ia kuat berlama-lama menemani orangtuanya berjualan. Hingga hari hampir tengah malam, Ardi tertidur di gerobak. Orangtuanya mendorong gerobak itu sampai di tempat biasa mereka menyimpannya.

Untuk pulang ke rumah, Ardi dibangunkan dan dipangku oleh ayahnya. Mereka naik angkutan umum hingga pada akhirnya sampai di istana mereka yang sederhana: walaupun istana itu statusnya sementara. Keadaan itu terus berulang. Aku bertanya kepada Ardi, jika libur sekolah apakah ia ikut orangtuanya berdagang atau tidak?

Ternyata orangtuanya selalu memberikan Ardi kesempatan untuk menghabiskan waktu libur di rumah. Bermain dengan teman-teman di kompleknya. Ardi tak pernah mengeluh melihat teman-temannya bermain menggunakan sepeda, sedangkan ia tidak, pun ketika temannya jajan, Ardi tidak tergiur sedikitpun, karena ia mengerti keadaan dirinya sendiri.

Ardi tak pernah meminta sesuatu yang muluk-muluk kepada orangtuanya. Tak pernah ia merengek meminta mainan agar dapat dipamerkan di hadapan teman-temannya. Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri, "mengapa Ardi mengerti makna keadaan?"

Ardi bukan anak yang cerdas atau berprestasi. Bukan pula anak yang diistimewakan oleh guru-gurunya. Ardi hanya dikenal karena ia sering menangis di kelas. Tapi aku yakin, perjuangannya saat itu lebih keras dibanding teman-teman yang lain. Saat waktu sekolah tiba, Ardi menjalankan rutinitas bersama keluarganya, berdagang, sedangkan Ardi tertidur di gerobak dagangan orangtuanya.

Kenangan tentang Ardi sangat tercecer, karna momen itu sangat jauh dari usiaku sekarang. Namun aku masih ingat, bagaimana Ardi menjalani bahtera kehidupan bersama keluarga kecilnya, tanpa tekanan dari luar dan tuntutan pekerjaan. Terkadang, aku salah menilai seseorang dari eksistensinya. Ardi memberikan pelajaran kepada ku. Bahwa ia tidak membutuhkan penilaian orang lain, karena mereka tak tahu bagaimana dirinya tidur di kolong gerobak.

[Bersambung]

KONTEN MENARIK LAINNYA
x