Mohon tunggu...
Fernanda Skw
Fernanda Skw Mohon Tunggu... Pelintas Alam | Mountaineering | Peracik Kopi | Mahasiwa.

Uang bisa dicari, Kala waktu takkan kembali!

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Mendaki Gunung untuk Refleksi atau Ajang Eksistensi Diri?

26 November 2020   05:06 Diperbarui: 26 November 2020   05:07 62 11 1 Mohon Tunggu...

Pada suatu saat di  kedai angkringan, saya iseng mengobrol dengan seorang kawan pendaki yang sudah lama terjun didunia pendakian yang sudah tidak saya diragukan lagi pengalamannnya. 

"Belakangan ini mendaki gunung udah ngga seasik dulu, Kebanyakan pendaki sekarang yang aku temui di perjalanan, kalo ngobrol biasanya cuma sibuk membangga-banggakan daftar gunung mana saja yang sudah dia taklukkan." Tuturnya.

Sebuah rentetan kalimat sederhana tersebut berhasil mencuri atensi saya. Yang menarik perhatian bukan tentang dunia pendakian yang menurut dia sudah tak menyenangkan lagi, melainkan tentang para pendaki yang sering membanggakan diri atas pencapaian-pencapaian yang ia anggap sebuah prestasi setelah berhasil menapakkan kaki di gunung-gunung tertinggi. 

Seperti halnya manusia biasa yang sulit untuk langsung melihat cacat yang ada pada dirinya sendiri, saat itu yang pertama terlintas di kepala saya malah tentang pemikiran serupa dari banyak teman dan beberapa pendaki yang yang pernah saya temui di perjalanan. Dari daftar tersebut, cukup banyak juga yang sering bercerita dan membangga-banggakan daftar gunung yang mereka anggap sudah mereka taklukkan.

Padahal, Jika begitu pola yang kita pilih, saya pikir pendakian yang dilakukan akan sedikit kurang bermakna dan malah memunculkan efek negatif berbentuk tambahan kesombongan dalam diri seseorang.

Secara sederhananya, seorang yang pergi mendaki dengan niat untuk bersenang-senang dan banyak melakukan swafoto untuk dokumentasi diri yang kemudian akan dipublikasikan di sosial media pribadinya mungkin hanya akan mendapatkan hasil yang tak jauh dari niatan yang telah ia tekadkan di awal perjalanan. 

Di sepanjang perjalanan, ia pastinya akan fokus mencari spot yang menarik untuk dijadikan latar berswafoto, hingga melewatkan banyak momen-momen kecil yang bisa saja mengandung nilai pejalaran yang lebih berharga dari sekadar foto diri. Memang, ada peluang juga ia akan mendapat nilai tambah berupa pelajaran dan pengalaman dari kejadian-kejadian dalam perjalanan tersebut, namun kemungkinan besar, nilainya tak akan sebanyak jumlah foto yang sudah ia dokumentasikan di kamera pribadinya.

Atau contoh lain seorang petualang yang pergi dengan niat awal untuk menaklukkan gunung dalam rangka melengkapi daftar kebanggaan dan prestasi dirinya. Sepanjang perjalanan, ia akan mengabaikan banyak hal dan hanya terfokus untuk secepat mungkin bisa segera mencapai puncak. Akhirnya perjalanan jadi tak dinikmati sebagaimana adanya.

dokpri
dokpri
Namun, tetap ada golongan orang-orang yang pergi mendaki dengan niat untuk sepenuhnya menikmati perjalanan secara apa adanya dan berusaha untuk menyerap sebanyak mungkin pelajaran dari setiap detil yang ia alami dalam perjalanan tersebut. Setiap momen perjalanan dari sejak berangkat dari rumah, mulai menapaki jalur pendakian, hingga menjajal tanjakan-tanjakan terjal menuju puncak akan ia nikmati dengan sederhana dan apa adanya, sambil memetik makna dan pelajaran yang terselip dalam setiap momen tersebut.

Pelajaran berharga yang ia dapat mungkin akan jauh lebih besar dan akan dapat merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Tak instan memang, tapi berproses.

Setelah melewati proses panjang dan perenungan, saya rasa, mendaki gunung adalah sebuah kesempatan berharga untuk sarana kontemplasi dan refleksi diri dalam rangka proses pendewasaan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bukan sekadar ajang untuk mengagungkan eksistensi dan kebanggaan semata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x