Mohon tunggu...
Ferdi Rosman Feizal
Ferdi Rosman Feizal Mohon Tunggu...

Idealisme dan Nasionalisme untuk dasar kemajuan Bangsa dan Negara

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Dilema PJU Solar Cell, Antara Penghematan dan Mahalnya Biaya Pemasangan

7 Februari 2017   16:08 Diperbarui: 7 Februari 2017   20:41 8485 2 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dilema PJU Solar Cell, Antara Penghematan dan Mahalnya Biaya Pemasangan
Dilema PJU Solar Cell, Antara Penghematan dan Mahalnya biaya Pemasangan

Sudah menjadi rahasia umum pada instalasi Penerangan Jalan Umum (PJU) yang menggunakan panel surya (solar cell) selalu saja lampunya mati bahkan dibeberapa tempat lampu PJU nya malah mati beberapa hari setelah pemasangan/instalasi dan tak pernah hidup lagi (https://t.co/u70YctuEX7) yang menjadikan kawasan tersebut gelap gulita membuat masyarakat komplain akibat tidak adanya penerangan dimalam hari yang rawan kecelakaan dan mengundang tindak kriminalitas terutama dijalanan yang sepi.

Penggantian Lampu PJU dari catuan listrik PLN menjadi solar cell adalah upaya Pemda dalam penggunaan Energi Baru Terbarukan yang tak pernah habis yang ramah lingkungan disamping untuk penghematan biaya yang dikutip dari masyarakat melalui rekening listrik PLN yang selanjutnya dimanfaatkan Pemda untuk pembangunan sektor lainnya.

Selain penggunaan energi baru terbarukan dan penghematan biaya PJU yang harus dibayar Pemda ke PLN, maraknya penggunaan lampu PJU solar cell seiring dengan semakin murahnya harga panel solar cell di pasaran yang berkisar antara Rp. 550.000,- hingga Rp.750.000,- per-panel untuk panel solar cell kapasitas 50 WP (Watt Peak) 12 Volt dibanding pada tahun 2000-2005 yang mencapai kisaran harga Rp.3.000.000,- hingga Rp.3.500.000,- per-panelnya untuk kapasitas yang sama serta banyaknya pengusaha penjual barang dan jasa pemasangan PJU lengkap dengan tiang dan lampu-lampu DC jenis LED yang diklaim lebih hemat energi dibanding lampu DC biasa serta usianya yang lebih panjang (lifetime) menjadi pilihan hampir seluruh Pemda di Indonesia.

Penggunaan Lampu-lampu PJU solar yang usia Panel Solar Cellnya bisa bertahan hingga 25 tahun ini selanjutnya akan membuat Pemda bisa menghemat jutaan bahkan milyaran rupiah jika dibandingkan dengan penggunaan Lampu PJU yang dicatu listrik PLN yang kemudian uangnya bisa digunakan untuk pembangunan sektor lainnya. Namun sangat disayangkan banyak lampu-lampu PJU solar cell yang mati. Dan mengapa banyak lampu PJU Solar Cell yang mati ?

Untuk Instalasi Solar Cell yang menggaransi beban (lampu) tetap menyala sesuai dengan beban yang dicatu, PT.LEN Industri Bandung merekomendasikan jumlah panel surya beserta baterainya adalah 4 kali lipat beban untuk mengantisipasi cuaca yang kurang bersahabat (mendung,hujan), artinya PT.LEN Industri Bandung hanya merekomendasikan 3 Jam Pengisian / penyinaran Effektif dari 12 jam setiap harinya.

Untuk panel perlu disediakan solar cell yang bisa menghasilkan daya sebanyak 36 AH setiap hari / 3 Jam = 12 Ampere yang bisa diperoleh dari 4 unit panel solar cell @ 50 WP yang memiliki spec Imp 3,0 A atau 2 unit Panel Solar Cell kapasitas 100 WP dengan spec 6,0 A disimpan pada batterydengan asumsi kapasitas 5 jam penyimpanan maksimum atau battery dengan kapastas 65 AH.  

Dari hasil pengamatan instalasi solar cell di beberapa tempat selama beberapa tahun belakangan ini diketahui bahwa terdapat selisih antara beban (lampu) dengan jumlah/kapasitas solar cell yang terpasang serta keterkaitan penggunaan Controller Solar Cell / BCU (Battery Control Unit) pada Instalasi PJU Solar Cell. 

Umumnya Vendor PJU Solar Cell menawarkan lampu PJU LED / Multi LED 30 Watt DC bahkan ada yang berani memasang lampu multi LED 36 Watt dengan Solar Cell Kapasitas 100 WP seperti di Terminal Seloaji Ponorogo yang didukung oleh Battery untuk penyimpanan daya (accumulator) sebesar 100AH bahkan ada yang 150AH seperti di Karimunjawa serta ditambahkan BCU (Battery Control Unit) atau Controller Solar Cell untuk menjaga keawetan battery dengan menjaga batas atas dan batas bawah charge/discharge Aki secara otomatis.

Pengamatan yang dilakukan selama beberapa tahun pada Instalasi solar cell di rumah di kawasan Semarang yang menggunakan lampu LED 9 Watt DC dengan Solar Cell 20WP didukung oleh battery VRLA 7,2AH dengan BCU/Controller 20 Ampere maksimum hanya bisa menghidupkan Lampu LED 9W DC paling lama 3 Jam saja ( 9 Watt x 3 Jam = 27 WH) dengan voltage awal diatas 13,8 volt (sore hari jelang malam) dan tersisa sebesar 11,70 volt (malam hari ketika lampu diputus secara otomatis oleh Controller). 

Dari perhitungan, solar cell kapasitas 20 wp dengan Imp=1,16 Ampere (spec yang tertera dibelakang panel) hanya dapat menyimpan daya pada aki sebesar 2,25 AH atau effektif penyinaran selama 2 jam. Idealnya dengan penyinaran matahari selama 3 jam (Rekomendasi PT.LEN Industri Bandung), panel solar cell kapasitas 20 WP diatas dapat menghasilkan daya sebesar 1,16 Ampere x 3 Jam = 3,48 AH atau sebesar 3,48 AH x 12 volt = 41,76 WH yang seharusnya bisa menghidupkan lampu LED 9 Watt DC selama ± 4,6 jam, namun belum pernah terjadi seperti halnya dengan lampu-lampu PJU solar cell yang banyak dipasang hanya bisa menyala beberapa hari setelah pemasangan dan kemudian mati.

Kalau dibypass secara manual, tegangan battery sebesar 11,70 volt yang diputus secara otomatis oleh system controller sebenarnya masih bisa dimanfaatkan untuk menyalakan lampu beberapa jam lagi, tetapi resikonya battery akan kosong dan usia battery akan lebih cepat rusak, kecuali kita bisa menurunkan ambang bawah pada system controller / BCU pada batas aman. Untuk disain seperti ini kita harus memesan khusus ke pabrikan pembuat controller/BCU seperti di LIK Gedebage Bandung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN