Mohon tunggu...
Fendi Teguh Cahyono
Fendi Teguh Cahyono Mohon Tunggu...

JALANI AJA PASTI ADA JALAN DI TENGAH PERJALANAN. Saya seorang akademisi dan terkadang juga dijuluki oleh teman-teman sebagai seorang bloger.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Aktivis Mahasiswa; Antara Idealis dan Pragmatis

13 Februari 2015   20:33 Diperbarui: 17 Juni 2015   11:15 864 0 0 Mohon Tunggu...

Aktivis mahasiswa saat ini, berperan sebagai organ ekstra parlementer yang turut mengontrol negara. Tugas suci ini taklain dalam rangka merekayasa masa depan pemerintahan indonesia yang clean dari segala bentuk keculasan politik dan kepentingan. akibat dari ulah oknum-oknum yang tersebar di seluruh birokrasi di indonesia. Sehingga, negara ini sampai dinobatkan sebagai negara terkorup di dunia. Pada posisi saat ini, aktivis mahasiswa bukan sebagai underbown partai atau pola geraknya dikontrol oleh negara (pemerintah). Melainkan harus memberikan kontrol terhadap pemerintah yang sejatinya sebagai agent of social control.

Tolak ukur organisasi mahasiswa, baik intra maupun ekstra kampus, terletak pada sifat khas mahasiswa itu sendiri. Dalam bahasa NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) tempo hari, sifat khas mahasiswa itu berada pada kekuatan daya penalarannya. Dalam hal ini dapat dimaknai bahwa mahasiswa dalam kategori pekerja otak yang nantinya akan menduduki posisi strategis di dalam jaringan teknostruktur.

Di satu sisi, memang takaran tersebut terkesan ada benarnya. Tetapi jika itu dihadapkan pada hakekat mahasiswa sebagai elit terdidik yang harus mengabdikan dirinya kepada kepentingan masyarakat maka takaran tersebut baru kelihatan cacatnya. Sebab tatkala peran dan fungsi institusi-institusi pemerintahan menurun maka selanjutnya mahasiswa yang berperan penuh sebagai social control dalam memperbaiki pola kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kemudian, mahasiswa yang sadar akan hakikatnya (termasuk organisasi mahasiswa), tidak gampang terjebak pada aksi-aksi temporal tanpa konsepsi yang jelas menjangkau ke depan. Tidak mudah terjebak pada aktivitas yang berorientasi pada kekuasaan. Tetapi tetap teguh berpegang pada nilai-nilai kemahasiswaan dan kepemudaan-nya sendiri. Tidak henti-hentinya berpihak kepada masyarakat secara langsung demi tegaknya keadilan, kesejahteraan, kebenaran, kejujuran dan penegakan hak-hak asasi manusia. Inilah nilai-nilai kemahasiswaan yang harus diperjuangkan baik berangkat dari diri sendiri maupun kelompok, baik organisasi intra kampus maupun ekstra kampus.

Dengan berpedoman pada nilai-nilai dasar mahasiswa di atas maka menjadi mungkin untuk mengarah kepada proses pendewasaan berfikir serta naluri sosial yang lebih. Namun hal ini bisa dihianati dengan aktivitas mahasiswa (tak terkecuali aktivis mahasiswa) yang lalai terhadap perannya, tatkala sudah merasa nyaman sebagai birokrat kampus pada tataran mahasiswa. Dan itupun menjadi dosa besar ketika naluri kekuasaan seperti itu masih dipertahankan.

Naluri Kekuasaan, kesalahan dalam berfikir dan bertindak.

Ketika kita mengkaji pemikiran nicollo marcievelli, disebutkan dalam bukunya “Sang Penguasa” bahwa ketika seseorang sudah haus akan kekuasaan maka segala hal akan dilakukan untuk memperoleh jabatan tersebut dan jika seseorang sudah memegang kekuasaan maka segala hal akan dilakukan demi untuk mempertahankan jabatannya tersebut. Sifat dan perilaku seperti ini sudah menjadi hal yang biasa di tataran politik kenegaraan maupun politik kampus. Memang dengan dalih untuk memperbaiki sistem dan tatanan masyarakat tetapi itu menjadi permasalahan baru jika memperolah atau mempertahankan jabatan dengan menghalalkan segala cara. Serta setelah masuk pada ranah kekuasaan, akan lalai dengan tugas yang diembannya.

Jika kita lihat dikampus tercinta ini, prosesi pemilihan birokrat kampus pada tataran mahasiswa tak ubahnya prosesi pemilihan kepala negara sehingga naluri kekuasaan yang itu menjadi sifat dasar dari setiap individu untuk ikut berkompetisi, apalagi ada organisasi politik kemahasiswaan yang ikut berperan aktif dalam pencapaian utopia tersebut. Hemat penulis, posisi sebagai birokrat kampus menjadikan buta sehingga lupa akan tindakan relasional yang telah dilakukannya.

Memang ada benarnya jika kampus merupakan bentuk miniatur negara tetapi itu bukan berarti dijadikan alasan untuk mengaplikasikan politik busuknya serta dalih atas ekspresi seorang kesatria yang tidak pernah keluar dan tahu, bagaimana posisi itu diperebutkan dengan cara anggun dan elok sehingga terpancar sikap kenegaraan.

Proses pembelajaran politik seperti inilah, dalam dunia kampus yang seyogyanya dapat kita lihat sebagai proyeksikan dalam kehidupan perpolitikan negara kita saat ini. Anak muda sudah menjadikan kampusnya sebagai ajang mencari jati diri kekuasaan dalam otak busuknya bukan sebagai ajang proses pembelajaran politik yang baik. Disinilah kegelisahan penulis ketika menghadapi orang-orang yang haus akan kekuasaan.

Organisasi politik yang memanfaatkan mahasiswa

Sebentar lagi, di surabaya yang merupakan tempat dari kampus ini. Akan mengadakan pemilihan umum baik itu DPR RI, DPRD Tingkat I, DPRD Tingkat II, Presiden dan pemilihan Gubernur. Prosesi seperti ini marak memanfaatkan mahasiswa sebagai alat untuk mensukseskan calon yang diusung oleh organisasi politik (Partai) tersebut. Dengan kata lain, mahasiswa ikut berperan aktif dalam perpolitikan negara ini. Yang bermakna bahwa peran mahasiswa sudah mulai dikebiri dan dihilangkan konsentrasinya dalam dunia akademik.

Aktivis mahasiswa, yang seyogyanya menjadi tonggak dalam menentukan nasib bangsa kedepan menjadi terciderai ketika ikut berperan aktif dalam prosesi tersebut karena idealisme yang semestinya harus dipertahankan sebagai mahasiswa yang ideal akan menjadi lapuk dan diombang-ambingkan dengan aktivitas sporadis yang itu berpotensi terhadap penahlukan jati diri sebagai mahasiswa. Maka dengan alibi pembelajaran politik, semua akan dilakukan meskipun itu belajar politik di organisasi politik. Memang terkesan benar tetapi jika kita salah dalam mencari guru maka tidak menutup kemungkinan output yang dihasilkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan sebagai mahasiswa yang ideal. Karena organisasi politik yang itu sudah masuk pada politik praktis, yang ini lebih bertendensi terhadap sifat pragmatis maka nilai ini akan masuk di hati dan otak dari tiap individu mahasiswa, sehingga dengan naluri seperti ini. Idealisme mahasiswa sulit untuk dipertahankan.

Jika hal ini sudah terjadi, dan menjelma menjadi selimut hitam yang kapan saja bisa menutupi pola gerak mahasiswa maka peran awal mahasiswa yang sudah agak lapuk di masyarakat itu harus dimaksimalkan dan dijaga keasliannya tanpa ada kontaminasi dari politik pragmatis yang dibawa oleh organisasi politik. Memang terkenasan bahwa penulis menghiyakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kampus (BKK) diterapkannya kembali, tetapi sejatinya tidak, karena peran mahasiswa yang itu seharusnya berada di luar pemerintah untuk memperbaiki nasib bangsa kedepan disalah gunakan untuk terlibat aktif dalam prosesi pemilu dan itu menjadi tim pemenang, maka seharusnya tidak dilakukan oleh mahasiswa karena mencidrai mahasiswa itu sendiri.  

Sudah kita ketahui bersama bahwa, untuk masuk ke pos-pos strategis di struktural pemerintahan sebagian besar harus melalui organisasi politik, maka ini dapat dikonklusikan bahwa, jika sebagian oknum dari mahasiswa (aktivis mahasiswa) sudah menjadi anak dari organisasi politik maka dengan disadari atau tidak oknum tersebut sudah menghilangkan perannya sebagai agent of social control yang itu mengambil jalur ekstra parlementer.

Saham kita dari kampus

Didik dan bimbinglah kaum muda, karena mereka pewaris masa depan. Dalam sebuah perjuangan, kedudukan kaum muda sangatlah penting. Mereka akan mengarungi hidup dimasa yang akan datang, saat mana kita yang tua-tua sudah tidak ada lagi. (KH Hasyim Asy’ari).

Pesan yang ditinggalkan oleh beliau merupakan describsi dari urgentnya peran pemuda untuk membangun bangsa indonesia ini. Dengan kata lain, mahasiswa juga terlibat di dalamnya. Mahasiswa yang kuat idealismenya tidak akan tergoncang dengan godaan-godaan kenikmatan sporadis. Sehingga peran dari mahasiswa yang itu sudah menancap dan mengakar kuat akan tetap di junjung tinggi sampai darah juang penghabisan. Peran suci sebagai agent of cheng dan agent of sicial control harus dimaksimalkan kembali demi mempersiapkan masa depan bangsa indonesia. Bukan menjadi seorang anak yang mengikuti akhlak buruk dari orang tua-nya.





penulis adalah mahasiswa pasca sarjana UINSA Surabaya, sekaligus menjadi admin di www.rangkumanmakalah.com




VIDEO PILIHAN