Digital

Perkembangan Teknologi Digital Terhadap Media Komunikasi

5 Desember 2018   20:43 Diperbarui: 5 Desember 2018   20:57 215 0 0

Literasi media adalah tempat pertukaran pesan dan literasi. Literasi media merujuk kemampuan khalayak yang melek terhadap media dan pesan media massa dalam konteks komunikasi massa. Menurut Paul Messaris mendefinisikan literasi media yaitu pengetahuan mengenai bagaimana media berfungsi dalam masyarakat.definisi dari literasi media adalah pemahaman sumber dan teknologi dari komunikasi, kode yang digunakan, pesan yang diproduksi dan pemilihan, penafsiran, serta dampak dari pesan tersebut. Sedangkan Christ & James mendefinisikan literasi media sebagai dampak yang ditimbulkan pesan media.

 

Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media menjadi sadar tentang cara media dibuat dan diakses.

 

Perubahan zaman membuat era ini semuanya serba digital, dengan adanya sistem digital ini tenaga manusia bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi pada era ini. Tidak sampai 20 tahun yang lalu, terjadi pergeseran paradigma media yang bersifat global dan sangat fundamental. Pergeseran itu menyangkut produksi, penyimpanan dan penyebaran informasi digital secara global melalui jaringan online (internet). Melalui jaringan ini, setiap computer atau gawai lainnya dapat menerima dan mengirimkan teks, gambar, audio dan video dengan cepat dan murah.

 

Industri yang pertama kali menggunakan teknologi digital adalah industry permainan computer. Kesuksesan industri games ini menarik perhatian industry media tradisional (cetak dan elektronik) untuk mulai mengembangkan isi dan distribusi dalam format digital. Di sisi lain, muncul tuntutan-tuntutan baru terhadap industry media dari pihak khalayak, yang mengendaki informasi yang semakin spesifik dalam isinya dan dalam cara dan waktu untuk mengaksesnya.

 

Seiring pergantian zaman, semua serba digital. Banyak orang yang menggunakan media sosial sebagai sarana menyiarkan berita, namun berita-berita yang disiarkan melalui media sosial belum tentu benar faktanya. Banyak sekali berita-berita palsu atau disebut juga berita hoax. Bagi sebagian orang, jawaban atas pertanyaan tersebut adalah dengan melakukan periksa fakta, fenomena yang berkembang di berbagai negara seiring dengan perkembangan hoaks itu sendiri. Asumsinya, dengan melakukan periksa fakta, informasi-informasi yang terbukti bohong bisa dipatahkan dengan sendirinya. Orang yang awalnya membaca informasi palsu kemudian akan disadarkan setelah membaca informasi yang sebenarnya.

Namun nyatanya tidak mudah untuk memberantas informasi hoax. Pada dasarnya masalah utama tidak terletak pada informasi palsu itu sendiri, melainkan pada apa yang diyakini oleh masyarakat atau khalayak. Keyakinan dengan dasar apapun seperti Politik, Agama, Kultur kerap membuat orang mengedepankan prasangkah alih-alih fakta. Informasi yang faktual dengan data-data yang bisa di tanggungjawabkan cenderung akan diabaikan kalau tidak sesuai dengan keyakinan. Sebaliknya, setidak masuk akal apapun sebuah informasi palsu, ia akan dipercaya sebagai sebuah kebeneran jika berada di garis keyakinan yang sama dengan pengakses informasi.

 

Fenomena ini menjelaskan mengapa bahkan orang yang intelek sekalipun dengan mudah bisa percaya dengan informasi palsu. Dengan kata lain, informasi-informasi palsu diibaratkan dengan bensin yang disiramkan ke api. Atau memperkeruh suasana dengan menyebarluaskan berita-berita palsu atau hoax ini.

Ada beberapa bentuk dari berita-berita hoax sebagai berikut:

  • Merupakan pesan berantai dan beredar vua Whatsapp, BBM, SMS
  • Tautan website dan beredar via media sosial popular seperti Facebook, Twitter. Biasanya disebar menggunakan judul yang sensasional dan kontroversial.
  • Foto atau video yang beredar via Instagram, YouTube, Facebook. Modusnya dengan merekayasa foto/video atau asli namun dengan caption yang tidak sesuai dan provokatif.

Cara menyikapi berita-berita hoax sebagai berikut:

  • Selalu mengecek sumber dari berita tersebut, lakukan konfirmasi dengan pihak terkait atau kunjungi website resmi mereka
  • Memanfaatkan fitur Google Imagesuntuk memastikan keaslian foto
  • Selalu lakukan pencarian di berbagai media terpercaya untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda.

Pada titik ini, relevan untuk mendiskusikan literasi media sebagai salah satu upaya untuk melawan banjir informasi palsu yang pelan-pelan merusak kehidupan demokrasi kita. Perlu dicatat, sebagai salah satu upaya, tentu ia masih membutuhkan faktor-faktor lain jika ingin menekan bahkan memberantas informasi palsu. Artikel pendek ini tidak akan membahas faktor-faktor lain tersebut dan hanya membatasi pada literasi media.

Literasi media sendiri tidak sekadar kemampuan untuk membedakan mana informasi yang benar dan bohong. Lebih dari itu, literasi media memberi perhatian pada kemampuan berpikir kritis dalam membaca pesan-pesan media atau informasi. Dalam konteks ini, ia menjadi perangkat pengetahuan yang membuat orang bisa membaca sebuah informasi between the lines atau mengambil kesimpulan.

 

Sebagai contoh, dalam membaca informasi sebuah media kita tidak bisa menelan mentah-mentah begitu saja. Literasi media memungkinkan upaya pembacaan atas sebuah berita menjadi lebih jauh dari apa yang tampak dalam teks berita. Sebuah berita media adalah produk dari berbagai kontestasi kepentingan. Setiap media digerakkan oleh kepentingan ekonomi politik masing-masing. 

 

Begitu pula dengan informasi palsu yang beredar di media sosial. Ia digerakkan oleh “tangan-tangan tak terlihat” yang punya kepentingan tertentu dengan menyebarkan informasi palsu. Kita bisa ambil contoh dari pengalaman Amerika dan Inggris tahun 2016. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat diwarnai ledakan informasi palsu dalam periode pemilihan umum. Ledakan yang sedikit banyak memiliki peran dalam terpilihnya Trump. Sementara di Inggris, referendum yang memutuskan negara tersebut keluar dari Uni Eropa juga diwarnai dengan informasi palsu yang membuat banyak warga memilih tanpa basis fakta dan data yang memadai. Keputusannya lebih didorong dan digerakkan oleh prasangka sebagai konsekuensi dari gempuran informasi-informasi palsu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2