Mohon tunggu...
Felucia Farren
Felucia Farren Mohon Tunggu... Lulu

drink alcohol save water

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Perasaan yang Tak Terungkap

19 November 2019   22:36 Diperbarui: 21 November 2019   08:10 0 1 0 Mohon Tunggu...

Hari ini, dimana aku akan mengungkapkan semua perasaanku yang seringkali membuatku berpikir dan bahkan mencoba hal bodoh untuk mengakhiri hidup yang singkat ini. Hanya untuk mencari sebuah tempat, seseorang yang dapat kuartikan sebagai "rumah", sebagai tempat dimana aku dapat bersandar. Hanya untuk merasakan kedamaian yang tidak akan pernah datang. Rasa itu datang dari sebuah pengalaman cinta yang awalnya kuanggap cinta yang bahagia.

Seorang perempuan yang bisa dibilang mempunyai sifat yang terlalu posesif ini adalah aku. Bukan berarti aku tidak percaya kepada pasanganku, aku hanya ingin dianggap berbeda, hanya ingin dianggap spesial. Seperti sudah beribu-ribu kali diriku ingin mencoba untuk berubah, namun rasanya berat untuk menjalankan hubungan dengan seseorang yang aku sayangi dengan tidak menjadi diriku sendiri. Setiap kali kami bertengkar, rasanya sangat sakit seperti ada yang menciut dalam hati, seperti ada sesuatu dalam diriku diambil dan direnggut olehnya. Setiap malam aku menangis, entah untuk apa. Aku hanya ingin bahagia, untuk sekali saja. Aku ingin bahagia tanpa kehilangan dirinya, tanpa harus berubah, hanya ingin bahagia untuk menjadi diriku sendiri. Namun rasanya mustahil meski sudah terus bertahan dan berusaha berkali-kali, hasilnya tetap saja sama bahkan semakin buruk.

Kalimat yang paling sering ia ucapkan kepadaku, "kamu tuh obsesi, bukan sayang." membuat diriku kehilangan harapan. Sampai aku berpikir, mungkin iya aku obesi, tapi sejujurnya aku hanya takut. Aku takut digantikan oleh orang lain. Semua usaha yang telah kulakukan tidak ada gunanya. Seperti jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah ini ialah harus berpisah, harus saling melepaskan. Hingga saat itu, aku memilih untuk berhenti dari semuanya, aku ingin berpisah dengan dirinya. 

Hanya karena cinta SMA ini, aku menjadi orang yang berbeda. Aku bukanlah aku lagi. Hal-hal lain menjadi tidak penting, bahkan diriku sendiri saja tidak penting. Tapi rupanya, hal itu tidak akan pernah terjadi kepadaku. Tetap saja aku yang minta untuk bersamanya, aku yang memohon-mohon kepadanya, pada akhirnya aku yang harus berubah lagi, dan akhirnya aku memilih untuk menutup semua perasaanku dan jalani saja.

Seiring waktu berjalan menyembunyikan perasaanku, arti bahagia seperti semakin jauh saja dariku. Rasanya, hatiku sudah tidak berfungsi lagi. Untuk menjadi diri sendiri dan ingin bahagia saja rupanya sangat sulit. Kalau bisa, aku juga ingin tidak menjadi pasangan yang posesif. Kalau bisa, aku juga ingin menjalankan hubungan yang sehat. Kalau bisa, aku ingin tidak mencintainya lagi. Kalau bisa, aku ingin memutar waktu agar hal ini tidak akan pernah terjadi. Kami sadar hubungan kami sangat dipaksakan. Hal-hal yang mustahil akan bertahan lama kami paksakan untuk bertahan lama. Hubungan kami hari makin harinya semakin hancur. Pagi hari diawali dengan bertengkar, siang hari juga, malam hari pun juga. Seperti bunga yang telah kami rawat susah payah langsung layu segampang itu. Hingga kami bersepakat untuk mengakhirinya dan berpisah untuk kebaikan kami masing-masing. Hal itu sangat tidak mudah bagiku, yang kurasakan hanyalah kehampaan hidup. Namun, dapat kupelajari untuk tidak hanya bergantung kepada satu orang dan lebih menyayangi diri sendiri. Lalu suatu saat, pada waktu yang tepat kebahagiaan akan datang kepadaku. Aku dapat menemukan seseorang yang lebih menghargai eksistensiku dalam hidupnya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x