Felix Limanta
Felix Limanta Mahasiswa

Peminat ilmu komputer, IPTEK, perfilman, dan karya fiksi

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Animasi Bukan Sekadar Hiburan untuk Anak-anak

14 April 2018   17:41 Diperbarui: 15 April 2018   19:08 1992 4 0
Animasi Bukan Sekadar Hiburan untuk Anak-anak
Grave of the Fireflies adalah drama animasi pasca-perang yang ditujukan lebih untuk orang dewasa dibandingkan anak-anak

"Kamu gak terlalu tua buat nonton film kartun?"

Semua orang yang telah menginjak masa remaja atau lebih tua pasti pernah ditanya pertanyaan seperti ini. Biasanya, orang dewasa, seperti orangtua atau guru, tetaapi kadang juga teman sekelas, rekan kerja, atau kenalan lain yang berusia tua dapat bertanya seperti ini.

Pertanyaan tadi rasanya memiliki nada meremehkan dan menghakimi. Untuk berbagai alasan, sebagian orang tidak tahu apa yang menarik dari animasi, lalu memutuskan untuk menghakimi dan merendahkan orang lain yang menyukainya.

Pola pikir ini, meskipun tidak secara eksplisit seperti pada pertanyaan di atas, sangat mudah ditemui pada penonton casual: orang yang pengalamannya dengan media animasi terbatas pada kartun setiap Minggu pagi dan film animasi Hollywood. Lebih parah lagi, pola pikir ini juga tidak jarang ditemukan pada kritikus film, yang seharusnya tahu lebih baik. 

Animasi diacuhkan sebagai kekanak-kanakan, meskipun terdapat animasi yang berhak dihargai sama dengan film live-action dengan kualitas yang mirip.

Meskipun, anggapan orang lain, animasi tidak hanya untuk anak-anak; animasi dapat dinikmati orang dewasa sebanyak animasi dapat dinikmati anak-anak karena animasi bukan hanya sebuah genre, melainkan sebuah medium yang memungkinkan derajat kebebasan yang tak terbatas untuk mengekspresikan kebebasan bercerita.

Mengapa Animasi Dianggap Semata-mata Hiburan Anak-anak

Anggapan umum bahwa animasi adalah media untuk hiburan anak-anak merupakan asosiasi yang berasal lebih dari kebetulan dibandingkan sebuah alasan logis.

Hingga akhir 1800an, seni sekuensial dua dimensi tidak sepenuhnya dianggap untuk anak-anak. Komik konvensional paling awal adalah sindiran politik untuk orang dewasa. Sampai sekarang, surat kabar di seluruh dunia mencetak ilustrasi kartun yang mengandung komentar sosial atau politik.

Muncul pada akhir abad ke-19, film sinematik digunakan sebagai media hiburan karena kemampuannya menangkap gambar bergerak dari kehidupan nyata dan orang nyata. Namun, hampir secara kebetulan, sebagian besar film animasi awal-awal ditujukan untuk anak-anak.

Film animasi cenderung lebih sederhana dibandingkan film live-action, yang membuatnya lebih menarik bagi anak-anak, yang kemudian mendorong pembuat film animasi untuk membuatnya untuk anak-anak, dan seterusnya.

Terlebih lagi, kebebasan yang diperbolehkan animasi memungkinkan animator, bahkan pada saat itu, untuk berkreasi sebebas mungkin dan membuat karya-karya fantastis yang lebih menarik anak-anak dibandingkan orang dewasa yang letih, lelah, dan lesu dengan dunia.

Bahkan pada saat itu, film seperti Gertie the Dinosaur (1914) lebih ditujukan pada anak-anak ketimbang orang dewasa.
Bahkan pada saat itu, film seperti Gertie the Dinosaur (1914) lebih ditujukan pada anak-anak ketimbang orang dewasa.

Felix the Cat, pertama muncul pada tahun 1919, segera dikaitkan dengan anak-anak. Walt dan Roy Disney mendirikan Disney Brothers Cartoon Studio pada tahun 1923 untuk menciptakan hiburan animasi untuk anak-anak.

Popularitas dan kesuksesa film-film Disney diekspor ke seluruh dunia dan memaksa para animator di seluruh dunia untuk memproduksi film animasi anak-anak untuk bersaing. Animator Amerika Max Fleischer menciptakan Betty Boop pada tahun 1930 dan meluncurkan Popeye the Sailor pada tahun 1932. 

Angkatan Laut Jepang menugaskan studio Geijutsu Eigasha pada tahun 1943 untuk memproduksi film propaganda perang Momotar no Umiwashi (Elang Laut Momotaro), berdasarkan sebuah dongeng tradisional Jepang.

Kemudian era anime modern dimulai pada tahun 1958 ketika Toei Animation merilis film anime warna pertama, Hakujaden. Didasarkan dongeng klasik dari Cina, pengaruh Disney pada film ini dapat dilihat, misalnya pada adanya hewan-hewan menari. 

Meskipun animasi dewasa muncul di awal abad ke-20, seperti kartun animasi pornografi Eveready Harton in Buried Treasure pada tahun 1928 atau Chikara ke Onna no Yo no Nakapada tahun 1933 tentang perselingkuhan, sebagian besar film animasi awal di Jepang dan Amerika kebetulan ditargetkan pada anak-anak atau didasarkan pada cerita rakyat tradisional yang sebagian besar terkait dengan cerita anak-anak.

Mayoritas animasi pada tahun 1960-an dianggap sebagai hiburan anak-anak, termasuk judul yang paling berkesan pada dekade tersebut: Astro Boy di Jepang, dan The Flintstones dan Scooby-Doodi Amerika.

Fitur animasi Disney saat itu termasuk Snow White and the Seven Dwarves, Pinocchio, Bambi, Cinderella, dan The Jungle Book semakin mengokohkan asosiasi antara animasi dan hiburan anak-anak. 

Film animasi 1970-an Fritz the Cat dan Kanashimi no Belladona, yang mencoba menceritakan kisah dewasa dengan animasi, dianggap melawan kebudayaan saat itu dan provokatif. Karena mayoritas film animasi dunia dari awal sinema hingga 1960-an adalah film anak-anak atau, pada tahun 1970-an, animasi di seluruh dunia terkait erat dengan hiburan anak-anak.

Hal ini semakin diperburuk oleh asumsi Hollywood bahwa animasi adalah sebuagh genre, bukan sebuah medium. Film animasi terbaru seperti Minions dan The Boss Baby serupa karena mereka menargetkan penonton yang sama: anak-anak.

Pada saat tersebut, film-film animasi Hollywood sangat mirip satu sama lain karena sebagian besar cerita pada film-film tersebut ditargetkan untuk penonton yang lebih muda. 

Tidak masalah seberapa sering tema "orang tua datang untuk berdamai dengan kematian" yang muncul pada Up atau bagaimana Kung Fu Panda 2 menggunakan pembantaian satu kelompok etnis sebagai alur cerita, film-film animasi Amerika masih secara khusus ditujukan pada anak-anak yang lebih muda dan dibuat sedemikan rupa sehingga mereka mengapel demografi tersebut.

“Terlalu homogen. Terlalu banyak sama. Film-film itu tidak benar-benar berbeda dari yang lain. Despicable Mebisa dibuat Pixar, oleh DreamWorks. Ini bukan waktu yang tepat untuk animasi fitur jika Anda ingin melakukan sesuatu bahkan hanya sedikit di luar formula.” Henry Selick, sutradara Coraline

Film-film tersebut mungkin memiliki alur cerita yang berbeda atau tema yang berbeda, tetapi dari sudut pandang finansial, mereka punya tujuan yang sama: membuat anak-anak tertawa sambil, jika bisa, menghibur orang tua mereka, dengan tujuan sampingan untuk menjual mainan atau merchandise lainnya.

Secara bawah sadar, manusia mengasosiasikan realisme dengan rasionalisme dewasa dan ilustrasi artistik sebagai impresionisme anak kecil yang tidak dapat membedakan nuansa dan nilai-nilai yang tersirat.

Meskipun, seseorang secara sadar menyadari bahwa animasi merupakan media artistik yang sama mampunya dengan media lain untuk mengekspresikan narasi kompleks, pikiran bawah sadar kita memberitahu kita bahwa ilustrasi lebih 'tidak nyata' dari fotografi.

Akibatnya, animasi, dari jati dirinya, lebih tidak 'nyata' dibandingkan fotografi, sehingga lebih tidak cerdas, tidak rasional, dan tidak serius. Terlebih lagi, apa yang tidak cerdas, rasional, dan serius adalah dangkal, irasional, dan kekanan-kanakan. 

Bahkan animasi yang ditujukan khusus untuk orang dewasa (mis. Patlabor atau Akira) rasanya lebih kekanak-kanakan dibandingkan apapun yang ditayangkan sebagai live-action.

Penggemar animasi dan ahli film berupaya untuk menolak asosiasi bawah sadar untuk menerima gagasan bahwa animasi adalah media yang setara, tetapi berbeda dengan live-actionuntuk menyampaikan cerita, tetapi orang awam yang tidak membuat upaya tersebut akan mengasosiasikan animasi dengan bayang-bayangan masa kecil dan kesan ketidakrasionalan dan ketidaknyataan yang tidak dewasa.

Mengapa Animasi Tidak Seharusnya Dianggap Semata-mata Hiburan Anak-anak

Ada banyak alasan untuk menikmati animasi, tetapi di atas semuanya adalah kebebasan yang diperbolehkan animasi. Dalam animasi, kebebasan sang pencipta untuk berkreasi tidak terbatas.

Animasi dapat menjelajahi ruang angkasa sejauh-jauhnya dan dunia fantasi sefantastis-fantastisnya sama mudahnya dengan animasi mengikuti kehidupan sehari-hari seorang anak sekolah di sebuah kota kecil.

Bukan hanya ruang lingkup yang hanya dibatasi oleh imajinasi sang pencipta, media ini juga secara umum lebih fleksibel dari live-action

Misalnya, animasi memungkinkan sudut kamera yang hampir mustahil dilakukan untuk media live-action.Terlebih dari itu, animasi bebas untuk menjadi aneh dalam cara yang tidak mungkin atau terlalu asing untuk live-action. Contoh dapat ditemukan pada karya-karya seperti FLCL dan Aqua Teen Hunger Force, yang sangat tidak konvensional, namun menghibur dan penuh komentar sosial pada dunia.

FLCL adalah contoh animasi yang berada di luar norma kebiasaan kita, tetapi penuh dengan komentar sosial pada dunia.
FLCL adalah contoh animasi yang berada di luar norma kebiasaan kita, tetapi penuh dengan komentar sosial pada dunia.

Suatu kebebasan lain yang dapat ditemukan dalam animasi datang dari sifatnya sebagai bentuk seni, yang berarti seniman yang berbeda akan menghasilkan animasi yang berbeda pula. Perbedaan visual seperti ini terlihat jelas antara animasi Jepang dan Amerika.

Bahkan di antara animasi Amerika, perbedaan gaya langsung terlihat, misalnya pada garis tebal dan seni semi-realistis dari Archer dan hampir tidak adanya garis dan melimpahnya lingkaran pada South Park

Archer dan South Park adalah dua contoh dari perbedaan gaya seni yang ditemukan dalam animasi.
Archer dan South Park adalah dua contoh dari perbedaan gaya seni yang ditemukan dalam animasi.

Apapun itu, hanya karena kartun tidak dipajang di museum (meskipun banyak animasi ditampilkan di museum) bukan berarti sebuah cerita animasi bukan seni. Meskipun tidak semua cerita akan setara Shakespeare dan tidak semua seni setara Mona Lisa, cerita dan seni tersebut masih dapat dinikmati.

Jika seseorang mencari suatu tontonan yang dapat dinikmati baik oleh orang dewasa maupun anak-anak secara bersama-sama, kemungkinan besar tontonan tersebut animasi. Ini juga alasan lain mengapa orang dewasa harus menonton animasi: untuk lebih baik berhubungan dengan generasi selanjutnya.

Ada banyak kesulitan untuk membuat seorang anak membuka diri dan berbicara dengan orang dewasa, tetapi hanya sedikit cara bekerja lebih baik dibandingkan membahas episode terbaru SpongeBob SquarePantsyang baru saja ditonton bersama.

Animasi, terlepas dari itu ditujukan untuk penonton yang lebih muda, dapat juga memberi pencerahan bagi orang dewasa. Banyak kartun menampilkan cerita dengan konflik yang sama dengan apa yang dihadapi anak-anak dalam kehidupan mereka sehari-harinya.

Animasi juga dapat memberikan pelajaran bagi mereka, yang memungkinkan orang dewasa untuk membungkus isu-isu yang sensitif dalam bentuk yang dapat dipahami mereka.

Bahkan jika interaksi seseorang dengan anak-anak minimal, animasi adalah cara yang baik untuk mengingatkan mereka bagaimana rasanya menjadi seorang anak. Nostalgia berperan besar, dan jarang ada orang keberatan untuk menonton ulang tontonan masa kecil mereka, namun menonton cerita animasi baru sebagai orang dewasa dapat bermanfaat jika, setidaknya selama setengah jam, mereka dibawa ke dunia tanpa tagihan, tugas, atau ujian yang menanti.

Meskipun TV live-action dapat menawarkan pelarian dari buruknya dunia nyata, animasi seringkali lebih baik karena animasi lebih terpisah dengan kenyataan daripada produksi live-action.

Cerita live-action, bahkan yang fokus pada karakter muda, biasanya memiliki masalah yang ingin dihindari penonton yang mencari pelarian, seperti kematian, narkoba, atau depresi. Komedi, yang seharusnya lebih santai, sering menyinggung masalah seperti cinta ditolak, kemiskinan, atau nilai buruk. Ini dapat membuat seseorang tertawa, tetapi juga membuatnya memikirkan masalah kehidupan nyata mereka.

Kartun, di sisi lain, jauh lebih ringan, dan bahkan saat kartun lebih berat, masalah disajikan dengan cara yang tidak akan membuat orang khawatir tentang masalah tersebut.

Salah satu masalah terbesar yang membuat kebanyakan orang tidak menyukai animasi adalah mereka jarang mengenal cerita untuk orang dewasa.

Meskipun mereka telah mengenalnya, penonton awam berpikir bahwa semua animasi dewasa Barat penuh dengan kekerasan grafis, lelucon seks, sumpah serapah, dan humor rendahan, sementara semua animasi dewasa Jepang adalah pornografi. Ini membuat orang berpikir animasi tetap "belum dewasa"—bahkan jika itu bukan untuk anak-anak—yang sama sekali tidak membantu.

Ini tentu saja tidak benar. Banyak film animasi untuk dewasa yang dapat ditemukan di luar industri film mainstream: film-film Jepang seperti Grave of the Fireflies, film-film animasi horor seperti Coraline, atau film asing bernuansa seksual seperti Chico & Rita.

Film yang biasanya dianggap untuk anak-anak, seperti karya-karya awal Walt Disney, sebenarnya tidak ditujukan untuk anak-anak. Bambi dianggap salah satu film paling menyedihkan sepanjang masa. Dumbo membuat pria dewasa menangis. Fantasia didasarkan sepenuhnya pada musik klasik.

Film pertama Walt Disney, Snow White and the Seven Dwarfs, ditayangkan diiringi tepuk tangan meriah dari raksasa Hollywood seperti Charlie Chaplin dan kemudian menjadi film terlaris sepanjang masa saat itu.

Memang, ada banyak film animasi berkualitas rendah yang ditujukan pada anak-anak, tetapi ada juga banyak film live-action berkualitas rendah yang ditujukan pada anak-anak. Kualitas dan isi animasi sama sekali tidak berkaitan dengan medium penyampaiannya.

Ini poin yang audiens massal belum dapat: animasi bukan genre, melainkan sebuah medium. Film tidak dapat diselotkan dengan rapi ke dalam genre-genre seperti action, romance, komedi, atau animasi; kebanyakan film adalah kombinasi dari banyak genre.

Pada tahun 2011, The Adventures of Tintin —disutradarai oleh salah satu sutradara paling tersohor sepanjang masa, Steven Spielberg—adalah film animasi action-adventure yang dengan layak dibandingkan dengan film live-action action-adventure Spielberg sebelumnya, Raiders of the Lost Ark

Itulah keindahan animasi: animasi dapat digunakan untuk meniru live-action(seperti Tintin), untuk menciptakan bentuk dan gerakan berlebihan yang hanya dapat direalisasikan sebagai animasi (seperti Hotel Transylvania), dapat mencampur aduk berbagai media (The LEGO Movie, Kubo and the Two Strings), dan untuk hampir semua hal karena animasi bukan genre, melainkan media.

Ringkasnya, animasi bukan genre anak-anak, melainkan media yang memungkinkan ekspresi kreatif tanpa batas dalam visual dan penyampaian cerita.

Karena visualnya yang sederhana (dibandingkan dengan produksi live-action), kebanyakan animasi lebih disukai oleh anak-anak daripada orang dewasa, sehingga mendorong Hollywood untuk membuat film kekanak-kanakan standar dan mengakibatkan rata-rata penonton bioskop menganggap animasi sebagai kekanak-kanakan.

Menghadapi stigma ini, ada beberapa alasan yang dapat diberikan pada orang yang sok menghakimi. Pertama, animasi memungkinkan kebebasan yang tak terbatas, baik dalam bercerita maupun dalam gaya artistik.

Kedua, animasi merupakan cara efektif untuk berkomunikasi dengan anak-anak atau untuk mengingat masa kecil seseorang.  

Ketiga, animasi menawarkan pelarian yang lebih baik daripada produksi live-action. Dan,terakhir, di bawah semua tawaran Hollywood, ada tambang emas animasi yang menawarkan pengalaman yang sebanding dengan rekan live-action mereka.

Animasi adalah salah satu media pembuatan film yang paling fleksibel, dan animasi layak mendapat lebih banyak penghargaan dan lebih banyak pengakuan daripada dianggap semata-mata hiburan anak-anak. *** (FL)