Mohon tunggu...
Febi EstuWilujeng
Febi EstuWilujeng Mohon Tunggu... Administrasi

Bismillah

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Persepsi Masyarakat Indonesia tentang Kepustakawanan

20 Mei 2019   00:58 Diperbarui: 20 Mei 2019   01:17 0 2 0 Mohon Tunggu...
Persepsi Masyarakat Indonesia tentang Kepustakawanan
ilustrasi - peoplematters.in

Di era informasi saat ini, informasi telah menjadi bagian yang penting dan menentukan dalam segala kegiatan masyarakat., Pemanfaatannya telah merambah keseluruh aspek kehidupan tidak terkecuali di bidang perpustakaan. 

Lasa (1998, 65) mengemukakan bahwa perpustakaan sebagaimana yang ada dan berkembang sekarang telah dipergunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khasanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai layanan jasa lainnya.

Perpustakaan merupakan salah satu unsur penting dalam dunia pendidikan maupun dalam kehidupan masyarakat. Dari perpustakaan kita tak hanya dapat menjumpai buku yang berisi ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menemukan berbagai informasi dari berbagai sumber tekstual maupun non tekstual. 

Namun saat ini keberadaan perpustakaan mulai kurang diminati oleh masyarakat, dikarenakan sulitnya mencari pustakawan yang handal saat ini. Hal tersebut disebabkan sebagian besar pengelola perpustakaan bukanlah seorang pustakawan dengan latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi. 

Hal tersebut membuat perpustakaan yang mencakup profesi kepustakawanan dan informasi di dalamnya dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat.

Persepsi menurut Suwarno (2009, 52) dapat didefenisikan, "sebagai suatu proses membuat penilaian atau membangun kesan mengenai berbagai macam hal yang terdapat di dalam lapangan penginderaan seseorang". 

Sedangkan menurut Walgito (2002, 69), "Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera namun proses itu tidak berhenti begitu saja melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi". 

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui penilaian atau kesan seseorang terhadap suatu objek ataupun informasi yang diterima melalui panca inderanya, pada akhirnya dapat menentukan tindakan dari orang yang bersangkutan.

Persepsi seseorang tidak timbul begitu saja. Tentu ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan mengapa dua orang yang melihat sesuatu mungkin memberikan interprestasi yang berbeda tentang yang dilihatnya. 

Menurut Pareek seperti dikutip oleh Arisandy (2004, 26) terdapat empat faktor utama yang menyebabkan terjadinya perbedaan persepsi, antara lain:

  • Perhatian Terjadinya persepsi pertama kali diawali oleh adanya perhatian. Tidak semua stimulus yang ada di seitar kita dapat kita tangkap semuanya secara bersamaan. Perhatian kita hanya tertuju pada satu atau dua objek yang menarik bagi kita.
  • Kebutuhan Setiap orang mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, baik itu kebutuhan menetap maupun kebutuhan sesaat.
  • Kesediaan Adalah harapan seseorang terhadap suatu stimulus yang muncul, agar memberikan reaksi terhadap stimulus yang diterima lebih efisien sehingga akan lebih baik apabila orang tersebut telah siap terlebih dulu.
  • Sistem nilai 5 Sistem nilai yang berlaku dalam diri seseorang atau masyarakat akan berpengaruh terhadap persepsi seseorang.

Selain itu, Rakhmat (1994) yang dikutip oleh Sobur (2003, 23) menyebutkan, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang dapat dikategorikan sebagai berikut yaitu:

  • Faktor fungsional, dihasilkan dari kebutuhan, kegembiraan (suasana hati), pelayanan, dan pengalaman masa lalu seorang individu;
  • Faktor struktural, berarti bahwa faktor tersebut timbul atau dihasilkan dari bentuk stimuli dan efek-efek netral yang ditimbulkan dari sistem syaraf individu; 3. Faktor situasional. Faktor ini banyak berkaitan dengan bahasa non verbal;
  • Faktor personal, yang terdiri atas pengalaman, motivasi, kepribadian.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor dan faktor-faktor tersebut yang membuat persepsi setiap individu berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

Pengertian pustakawan dalam hal ini adalah seorang yang menyelenggarakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu yang dimiliki melalui pendidikan (Kode Etik Pustakawan, 1998:1).

Pustakawan profesional adalah orang yang bekerja pada suatu perpustakaan yang memiliki pendidikan sekurang-kurangnya sarjana strata satu (S1) dibidang ilmu perpustakaan dan melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas yang diberikan oleh lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan. 

Sedangkan profesionalisme pustakawan adalah pelaksanaan kegiatan perpustakaan yang didasarkan pada keahlian, rasa tanggung jawab, dan pengabdian. adapun mutu dari kinerja seorang pustakawan dengan latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan akan berbeda dengan mereka yang tidak menempuh pendidikan, dikarenakan pustakawan yang memiliki jiwa keprofesionalan terhadap pekerjaannya akan selalu mengembangkan kemampuan dan keahliannya untuk memberikan hasil kerja yang lebih bermutu dan akan selalu memberikan sumbangan yang besar kepada masyarakat pengguna perpustakaan.

Profesi pustakawan telah ditetapkan pemerintah sebagai jabatan fungsional, yaitu jabatan kehormatan dan pengakuan atas keahlian yang dimiliki seseorang. Bentuk penghormatan dan penghargaan ini antara lain berupa tunjangan fungsional, usia pensiun dapat diperpanjang pada jabatan tertentu, dapat naik pangkat/jabatan dua tahun sekali bila setelah memenuhi kriteria tertentu dan kenaikannya tidak dibatasi. 

Jabatan pustakawan telah diakui sebagai jabatan fungsional karena telah dilakukan kajian-kajian yang mendalam dan ternyata memenuhi syarat dan kriteria profesi antara lain:

  • Memiliki metodologi, teknis analisis dan prosedur kerja yang didasarkan pada disiplin ilmu pengetahuan dan atau pelatihan tertentu dan mendapatkan sertifikasi.
  • Memiliki etika profesi yang diterapkan oleh organisasi profesi (dalam hal ini adalahIkatan Pustakawan Indonesia/IPI).
  • Dapat disusun dalam suatu jenjang jabatan berdasarkan tingkat keahlian bagi jabatanfungsional keahlian dan tingkat ketrampilan bagi jabatan fungsional keterampilan.
  • Dalam melaksanakan tugas dapat dilakukan secara mandiri.
  • Jabatan fungsional pustakawan ternyata diperlukan dalam pelaksanaan tugas pokok danfungsi organsisasi.
  • Telah memiliki pendidikan tinggi keperpustakaan dan berbagai jenjang studi sejak D2,D3, S1, sampai pada S3. Kiranya setiap profesi memiliki fungsi dan karakteristik bidang masing-masing, misalnya dokter bergerak di bidang kesehatan, hakim berkecimpung dalam bidang keadilan, guru bergerak dalam bidang pendidikan, dan lainnya. Pustakawan melakukan aktivitasnya dalam bidang perbukuan (dalam arti luas) dan perinformasian. Oleh karena itu pustakawan memiliki fungsi strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan informasi Ilmiah. Fungsi dan tugas pustakawan yang berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan itu adalah:
  • Menyimpan, mengatur, dan mengawetkan kekayaan intelektual dan artistik manusiadalam berbagai bentuk.
  • Mempermudah pemanfaatan sumber informasi dengan tetap menjaga keselamatandan keamanan koleksi.
  • Mengkomunikasikan informasi yang dimiliki atau yang diketahui kepadamasyarakat yang memerlukannya.
  • Berfungsi sebagai elemen masyarakat ilmiah.
  • Membantu pembentukan dan pengembangan masyarakat belajar/learning society. Pembinaan ini dapat dimulai dari pemasyarakatan masyarakat baca/reading society lewat jalur pendidikan formal, keluarga, tempat ibadah, maupun pusat kegiatan.
  • Mencarikan informasi yang diperlukan pemakai ke berbagai perpustakaan, pusat informasi, pusat dokumentasi, maupun ke media internal, dan lainnya.

Perpustakaan merupakan suatu tempat yang sudah dikenal oleh masyarakat sejak lama. Keberadaannya pun saat ini sudah sangat menjamur, mulai dari perpustakaan di lingkungan sekolah dasar hingga menengah, di kantor-kantor, hingga mulai maraknya perpustakaan umum baik di tingkat Kabupaten/Kota sampai ke tingkat Desa/Kelurahan. 

Akan tetapi meskipun perpustakaan merupakan hal yang sudah dikenal oleh masyarakat luas, masih banyak masyarakat yang memberikan definisi maupun persepsi yang kurang benar terhadap perpustakaan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3