Mohon tunggu...
Febroni Purba
Febroni Purba Mohon Tunggu... Konsultan - Bergiat di konservasi ayam asli Indonesia

Nama saya, Febroni Purba. Lahir, di Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Menempuh pendidikan SD hingga SMA di Kota Medan. Melanjutkan kuliah ke jurusan ilmu Peternakan Universitas Andalas. Kini sedang menempuh pendidikan jurusan Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Pernah menjadi jurnalis di majalah Poultry Indonesia selama tiga tahun. Majalah yang berdiri sejak tahun 1970 ini fokus pada isu-isu ekonomi, bisnis, dan teknik perunggasan. Di sana ia berkenalan dengan banyak orang, mengakses beragam informasi seputar perunggasan Tanah Air dan internasional. Samapai kini ia masih rajin menulis, wawancara dan memotret serta berinteraksi dengan banyak pihak di bidang peternakan. Saat ini dia bergabung di salah satu pusat konservasi dan pembibitan peternakan terpadu ayam asli Indonesia. Dia begitu jatuh cinta pada plasma nutfah ayam asli Indonesia. Penulis bisa dihubungi via surel febronipoultry@gmail.com. atau FB: Febroni Purba dan Instagram: febronipurba. (*) Share this:

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Enam Butir Konferensi Rakyat Asia Afrika

20 April 2015   08:22 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:54 95
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
14294942641183242936

Enam puluh tahun lalu Bung Karno menggelar Konferensi Asia Afrika di gedung Merdeka Bandung, 1955.

KAA dilatarbelakangi atas dasar keprihatinan terhadap banyak negara Asia Afrika yang berupaya keluar dari penjajahan kolonialisme Barat. Bentuk penjajahan bukan sekadar perang senjata atau fisik melainkan dalam bentuk penguasaan ekonomi (kapitalisme).

Hari ini, bentuk penguasaan ekonomi masif dilakukan oleh asing yang ada di negara Asia Afrika, termasuk Indonesia.

Maka benarlah pidato Bung Karno bahwa kolonialisme belum mati. Kolonialisme memakai baju modern dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektual, penguasaan materil yang nyata dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengah rakyat.

Menjelang seremonial KAA tanggal 19-24 April 2015 di Bandung, berbagai lembaga sosial masyarakat (LSM) tak melewatkan kesempatan ini. Maka kemarin pagi hingga sore diadakan Konferensi Rakyat Asia Afrika (KRAA) 2015 bertajuk Relevansi dan Reaktualisasi Semangat Asia Afrika dalam Dunia yang Multi-Polar Abad 21 di Galeri Nasional (18/4), Jakarta.

KRAA ini merumuskan enam deklarasi yang dibacakan oleh Ketua KRAA 2015 Muhammad Reza. Berikut bunyi enam deklarasi itu.

Pertama, kami rakyat Asia Afrika, masyarakat sipil Asia Afrika, perempuan dan laki-laki Asia Afrika, kelompok dan komunitas Asia Afrika mendeklarasikan bahwa rakyat harus mendesak kembali kontrol diri dan peran atas pengembalian keputusan publik perihal urusan negara regional dan dunia saat ini baik melaui hak-hak konstitusional dan melaui advakosi hak asasi manusia yang lebih luas di regional dan lintas dunia.

Kedua, mendeklarasikan bahwa rakyat Asia Afrika menjadi inti rekapasitas negara dengan penuh pemahaman bahwa peran tersebut sangat mendasar dalam mewujudkan dasar-dasar etik kemerdekaan bangsa-bangsa dan dengan penuh tekad bahwa peran negara seharusnya mengambil kontrol dalam keputusan ekonomi. Di mana saat ini korporasi sering kali memaksakan kontrol mereka khususnya dalam urusan pelayanan publik dan sumber daya publik.

Ketiga, mendeklarasikan bahwa rakyat Asia Afrika berjuang untuk mnjawab perihal pengrusakan sumber daya alam dan menuntut pertanggungjawaban yang relevan dan menuntut pertanggungjawaban korporasi atas pengrusakan tersebut.

Keempat, mendeklarasikan bahwa rakyat Asia Afrika menjadi wujud dari pemenuhan dan perindungan HAM dan hak mendasar. Hak mendasar ini berlaku ketika pada masa damai maupun perang.

Kelima, mendeklarasikan bahwa rakyat Asia Afrika menyerukan upaya-upaya internasional untuk menjawab adanya tantangan konflik bersenjata dan dampaknya (pengungsian, pembunuhan, kelaparan, kemiskinan).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun