Mohon tunggu...
febi ratnasari
febi ratnasari Mohon Tunggu... seorang pengajar keperawatan dengan fokus keperawatan ibu hamil, bersalin, post partum, bayi dan balita serta usia subur dan pasangan

seorang pengajar di bidang keperawatan yang sedang melanjutkan studi Doktoral di Lincolin University, Malaysia

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Hubungan Seksual Saat Hamil, Aman Kah!

19 Februari 2021   11:36 Diperbarui: 19 Februari 2021   12:05 76 1 0 Mohon Tunggu...

Pada saat ini kita sering mendengar bahwasannya ketika Ibu sedang hamil, terutama hamil muda dan hamil tua tidak disarankan untuk berhubungan seksual. dikarenakan akan membuat bayi keguguran dan membuat bayi segera lahir. apakah benar?.

Orang tua si ibu hamil berkata, na kamu klo lagi hamil y libur dulu berhubungan suami istrinya, kasian janin mu bisa keluar nanti. atau mengatakan bahwa, jika kamu berhubungan seksual sampai orgasme kamu bisa lahir cepat loh!. terus jika begini bagaimana nasib sang ayah janin, atau suami si ibu hamil. 

Suami si Ibu hamil atau bapak si jabang janin apakah harus "libur" ketika masa ini? apakah tidak kasian dengan mereka? jangan sampai mereka melakukan tindakan yang menyebabkan dosa karena harus "libur". jadi bagaimana kah solusinya jika kita menemukan hal ini?. apakah benar apa yang disampaikan oleh orang orang bahkan orang tua kita mengenai hubungan seksual "bahaya" ketika dilakukan saat kehamilan?. mari kita bahas hal ini.


Respon seksual meliputi keinginan, gairah, orgasme dan kepuasan seksual (Rudge at al, 2009). Selama kehamilan ibu merasakan perubahan dengan seksualitasnya yang meliputi: perubahan respon seksual, frekuensi seksual dalam aktivitas seksualnya (Hapsari & Sudarmiati, 2011). Perubahan respon seksual dikarenakan adanya perubahan pada fisik, psikologi maupun emosional karena perubahan hormonal ditambah dengan adanya keyakinan tentang seks selama kehamilan (Reeder & Martin, 2011; Brown & McDaniel, 2008). Penelitian lain menyebutkan perubahan seksual pada ibu hamil dipengaruhi oleh adanya perubahan fisik, hormonal, psikologis, sosial dan budaya (Isajeva, Silkunas, Drasutiene & Bartkeviciene, 2012). Senada yang ditulis oleh Widyantoro & Sarwono (2002) dalam bukunya menyatakan keadaaan fisik seperti kehamilan, menyusui, menapouse dan kondisi penyakit tertentu dapat menjadi hambatan untuk aktivitas seksual yang nyaman, meskipun individu sedang sangat menginginkannya.


Respon seksual pada ibu hamil berbeda, ada yang mengalami peningkatan dan mengalami penurunan. Penurunan respon seksual terjadi pada hasrat, gairah, kepuasan, frekuensi hubungan seksual dan keintiman seksual dibandingkan dengan ibu tidak hamil (Olusegun & Ireti, 2011; Brown & McDaniel, 2008; Reiss, Birnbaum & Safir, 2012). Penurunan frekuensi dan respon seksual ini terjadi pada awal kehamilan dan pada akhir kehamilan. Faktor yang menyebabkan penurunan diawal kehamilan dan diakhir kehamilan adalah terjadi perubahan hormonal, peningkatan hormon estrogen dan progresteron menyebabkan mual dan muntah pada awal kehamilan, sedangkan diakhir kehamilan terjadi pembesaran pada perut, gambaran diri kurang menarik, susah tidur, dan memiliki mood yang kurang dan adanya kecemasan akan terjadinya keguguran pada kehamilannya. Senada dengan yang disampaikan oleh Brown et al. (2008), penurunan respon seksual pada perempuan hamil baik hasrat atau keinginan seksuali dan orgasme terjadi disebabkan karena adanya perubahan pada aspek fisik dan psikologis. Faktor fisik atau biologis meliputi ketidaknyamanan fisik (nyeri pelvis), dyspareunia (nyeri saat berhubungan), ketidaknyamanan uterus (kontraksi uterus dan pergerakan janin), ketidaknyamanan vagina (mukosa vagina kering) dan keletihan (Liu, Hsu & Chen, 2013).


Memasuki trimester kedua ibu hamil sudah dapat beradaptasi dengan perubahan hormonnya sehingga ibu bisa menyesuaikan diri dengan keadaan kehamilannya, sehingga minat untuk berhubungan seksual menjadi pulih kembali seperti sebelum kehamilan (Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013). Selain itu adanya pengurangan rasa ketidaknyamanan fisik dan pengurangan rasa takut melukai janin pada trimester pertama kehamilan, stabilitas emosional yang sudah baik, serta adanya peningkatan aliran darah vagina menyebabkan peningkatan orgasme ibu hamil (Santiago et al., 2013; Reeder & Martin, 2011). Senada dengan penelitian yang dilakukan Budiarti dkk, (2010) bahwa pada trimester kedua perasaan ketidaknyamanan sudah bisa dikendalikan sehingga pada trimester ini keinginan untuk melakukan hubungan seksual lebih tinggi.


Hubungan seksual selama kehamilan dianggap aman dan tidak mempengaruhi kelahiran prematur pada ibu hamil kecuali ada komplikasi pada ibu dan janin. Komplikasi pada ibu seperti plasenta previa, abrupsio plasenta, dan ketuban pecah dini selama kehamilan, serta komplikasi pada janin adalah janin gemeli dan riwayat kelahiran premature dan keguguran. Adanya komplikasi ini membuat aktivitas seksual ibu dibatasi, selain itu aktivitas seksual pada ibu hamil juga dibatasi karena adanya kelelahan, ketidaknyamanan serta adanya rasa takut dapat membahayakan janin (Brachmann, Stren, & Ramos, 2008)


Perubahan respon seksual juga dialami oleh pasangan ibu hamil. Penurunan respon seksual dialami pasangan ibu hamil Nigeria mulai dari penurunan keinginan sampai dengan penurunan kepuasan seksual, bahkan adanya pasangan perempuan hamil yang menghindari untuk melakukan aktivitas seksual selama kehamilan. Hal ini terjadi karena adanya perasaan takut melukai bayi dan adanya penurunan keaktifan pada istrinya saat hamil (Bello et al., 2011). Penelitian lain menyatakan adanya kepercayaan bahwa hubungan seksual selama kehamilan dapat membuat keguguran sehingga hubungan seksual harus dikurangi (Onah et al., 2002 dalam Afshar et al., 2012)


Hasil penelitian yang dilakukan oleh Widiasmoko, 2000 menyatakan libido suami yang pasangannya sedang hamil mengalami penurunan seiring dengan bertambah besarnya kehamilan, namun terjadi peningkatan aktivitas masturbasi. Penurunan libido, dan frekuensi hubungan seksual juga dialami oleh laki-laki Nigeria yang pasangannya sedang mengalami kehamilan (Jamali & Mosalanejad, 2013).  Penelitian yang dilakukan Cedli dkk. (2012) mengatakan bahwa terdapatnya penurunan fungsi seksual pada sebagian besar suami yang istrinya sedang hamil, seperti adanya penurunan frekuensi, dorongan seksual dan ereksi, sedangkan untuk kepuasan hubungan seksual tidak mengalami masalah dan merasa puas. Kepuasan hubungan dirasakan tidak berubah terjadi karena adanya perasaan pada suami yang dapat membuktikan sebagai pria sesuangguhnya dimana dapat memperhatiakan istri selama kehamilannya sehingga menjadi kebanggan tersendiri (Cedli dkk., 2012).


Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan Brown, Bradford & Ling (2008) yang menyatakan bahwa perilaku seksual pada suami istri tidak hanya perilaku yang mengarah pada aktivitas seksual (sexual activity) namun ada juga aktivitas bukan hubungan seksual (noncoital behavior). Noncoital behavior dapat berupa perhatian/ kepedulian yang diberikan suami terhadap kondisi istri, pemenuhan nutrisi, memanjakan istri, memberikan sentuhan mesra, mengantar periksa kehamilan dan membantu dalam urusan rumah tangga (Budiarti dkk, 2010).


KESIMPULAN:

Hubungan seksual akan mempengaruhi kehamilan jika ibu hamil mengalami komplikasi saat kehamilannya, namun jika selama kehamilan kondisi ibu dan jani sehat maka tidak masalah untuk berhubungan seksual. dan untuk aktivitas seksual tidak hanya dalam bentuk berhubungan seksual namun bisa juga dalam bentuk perhatian / kepedulian terhadap istri yang sedang hamil.


SEMOGA SEMUA IBU HAMIL SEHAT & PARA SUAMI DAPAT SELALU MENJADI SUAMI SIAGA. AAMIIN

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x