Mohon tunggu...
F Daus AR
F Daus AR Mohon Tunggu... Blogger dan Penerbitan Indie

Penggerutu

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Tentang Cerpen yang Melangkahi Waktu (Bagian 4)

18 Januari 2020   10:04 Diperbarui: 25 Januari 2020   21:30 3 0 0 Mohon Tunggu...
Tentang Cerpen yang Melangkahi Waktu (Bagian 4)
Dok. Pribadi (2020)

Jika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Adagium yang begitu melekat pada Seno Gumira Adjidarma (SGA). Perangkat yang digunakan SGA begitu lengkap dan beragam. Ia bisa diingat dengan intensitas mumpuni di setiap karya yang digarapnya.

Senja menjadi satu peristiwa alam yang melekat di sejumah cerpen SGA. Dari banyak kumcernya, saya hanya mengoleksi tiga saja. Saksi Mata (Bentang: 2016), Iblis Tidak Pernah Mati (Galang Pres: 2004. Cet. Ketiga), dan Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (Jb Publisher: 2017. Cet. Keempat).

Kekuatan cerpen SGA terletak pada peristiwa yang diakibatkan dari politik. Ia mengisahkan ulang dengan pendekatan satiris, humor, dan magis. Sejauh ini, dari sejumlah cerpen yang saya baca, belum ada yang mendekati kemahiran SGA meramu dampak kebijakan negara yang menindas secemerlang dirinya.

Saya tidak bisa memilih sejudul cerpen, masing-masing dari tiga kumcer tersebut saya memilih Pelajaran Sejarah (Saksi Mata), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi di kumcer dengan judul yang sama, dan Kematian Paman Gober (Iblis Tidak Pernah Mati).

_

Di harian Kompas edisi Minggu, saya menjumpai cerpen berjudul Ulat Bulu dan Syekh Daun Jati, di awal tahun ini cerpen itu saya jumpai kembali di kumcer Cerita Buat Para Kekasih (GPU: 2017. Cet. Kedua). Matinya Seorang Demonstran, cerpen yang didedikasikan buat Eka Kurniawan yang awalnya saya baca di Kompas juga terangkum di sini.

Agus Noor produktif sekali mempublikasikan cerpennya di Kompas, kumcer ini, sayang tidak dilengkapi riwayat publikasi sehingga pembaca memiliki pengantar ingatan. Agus Noor, saya kira, jika menghayati kecenderungan muatan cerpennya ada kemiripan dengan upaya SGA dalam mengelaborasi peristiwa sosial akibat dampak politik. Tentu saja Agus melakukan pendekatan yang lain dengan proses kreatifnya.

Di cerpen Kunang-Kunang di Langit Jakarta bisa menjadi contoh. Sejak Umar Kayam melalui cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, saya kira tidak ada lagi pengarang Indonesia yang mencoba berebut tempat agar diingat dengan frasa kunang-kunang itu. Dari yang sedikit atau, malah sama sekali tidak ada selain Agus Noor. Ia mampu merebut ruang itu di benak pembaca. Kunang-kunang sangat familiar sebagai penggubah cerpen.

Jika nanti ada pertanyaan, siapakah cerpenis Indonesia yang lekat dengan kunang-kunang, jawabnya ya dua nama itu.

Kita sampai pada cerpen yang bertutur begitu rapi. Pengalaman membaca saya, Budi Darma merupakan pengarang yang tidak begitu canggih menuliskan cerita. Sejumlah cerpennya lurus-lurus saja mengurai peristiwa dengan penokohan yang kuat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x