Mohon tunggu...
Coretan Maba
Coretan Maba Mohon Tunggu... Maba 2020

No one can read this message.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Sisi Lain: Batak di Tengah-Tengah Jawa

2 April 2021   03:29 Diperbarui: 2 April 2021   03:52 93 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sisi Lain: Batak di Tengah-Tengah Jawa
Sumber gambar: 123RF via https://www.femina.co.id

Setiap tulisan memiliki cita rasa..

Assalamualaikum wr wb.

                                     

Salam sehat selalu untuk semua terutama bagi readers blog ini. Di tengah pandemi virus Covid -- 19 yang melanda dunia saat ini semoga kita selalu diberi kelimpahan kesehatan oleh Allah SWT, Sang Maha Kuasa. Topik yang akan kita bahas kali ini adalah mengenai minoritas. Minoritas sudah sangat umum terjadi di Indonesia, mengingat tanah air kita memiliki miliyaran keberagaman yang bervariasi dari ujung Sabang hingga Merauke. Sebenarnya apa sih minoritas itu?

Menurut wikipedia, Minoritas ialah kelompok sosial yang tak menyusun mayoritas populasi total dari voting dominan secara politis dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Minoritas dapat pula merujuk ke kelompok bawahan maupun marginal. Jadi kesimpulannya, minoritas merupakan sekumpulan orang atau seseorang yang menempati suatu wiliyah tertentu namun tidak mendominasi wilayah tersebut. Dari literatur yang saya dapat, Komnas HAM berpendapat ada 5 (lima) kelompok minoritas yang perlu dijamin oleh negara perlindungannya. 5 (lima) kelompok minoritas tersebut mencakup etnis, ras, agama, disabilitas, dan seksual.

Namun di zaman yang sedang kita jajaki kali ini, saya rasa deskriminasi atau pembullyan terhadap minoritas sudah berkurang, tetap ada namun tidak banyak. Memang hal-hal baik seperti inilah yang harus tumbuh subur di Indonesia. Perbedaan kadang kala dibutuhkan untuk menjadi kokoh, bersatu tanpa pandang bulu dan latar belakangnya. Saya memiliki seorang teman yang tak mau disebut namanya, seseorang yang berdarah Batak namun menjalani sebagian besar kehidupannya di tanah Jawa. Apa yang ia alami mungkin tidak semenyedihkan kisah minoritas orang lain, namun dari sebuah kisah pasti selalu memiliki sisi unik dan pesan moral yang dapat dipetik dan bermanfaat bagi orang lain.

Singkat cerita, kami pindah ke sebuah komplek perumahan yang sama di daerah Gresik, Jawa Timur. Kami seumuran, pada saat itu usia kami masih terbilang sangat muda, sembilan tahun. Dia tidak datang dari Sumatera Utara, melainkan dari Kalimantan Timur, namun ia merupakan seorang Batak sejati. Sejak ia kecil, ayahnya memang beberapa kali mengalami perpindahan tempat kerja. Namun, ia menetap di Kalimantan Timur hanya untuk beberapa bulan kemudian pindah ke Jawa hingga saat ini.

Latar belakangnya adalah Batak asli, lahir di Medan, Sumatera Utara, dengan ayah dan ibu yang juga memiliki tempat kelahiran yang sama. Jelas sudah logat nada Bataknya sangat kental dan menyatu dengannya apalagi ia besar di lingkungan yang sedemikian rupa.

Ia mengaku pada saya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya ketika pertama kali menjajakkan kakinya di Gresik, dirinya merasa seperti orang bodoh dan dungu ketika teman sekitar rumahnya bercakap-cakap dengan Bahasa Jawa. Ia hanya bisa terdiam dan ikut tertawa ketika teman-temannya tertawa, meski ia tidak paham apa yang sedang teman-temannya bicarakan. Proses adaptasi itu berlangsung selama satu bulan lebih, tak hanya di lingkungan rumah, ia juga harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah barunya. Hal tersulit yang ia alami selama adaptasi adalah dari polah perilaku sosial anak-anak Gresik dan bahasanya.

Adaptasi terhadap bahasa dan pergaulan berlangsung hingga ia mengerti benar apa yang baik dan buruk untuknya. Ia berada di lingkungan sekolah yang bisa dibilang comfy dan memiliki vibes positif, sehingga teman-temannya justru merasa bangga dengan kehadirannya yang datang dari tanah Batak. Perbedaan antara daerah asal dengan lingkungannya saat ini yang paling ia rasakan adalah tutur kata dan logatnya. Ia berkata "Di Medan itu orangnya keras-keras nada bicaranya". Ia sering terbawa logat aslinya yang memiliki istilah "ngegas" ketika berbincang dengan temannya, sehingga teman-temannya berpikir bahwa ia sedang marah atau kesal meski ia sedang sesang merasa baik-baik saja.

Tak terasa hampir dua belas tahun dia menjadi teman saya, menurut saya pribadi, pembawaan logat Bataknya hingga kini masih sangat terlihat. Tak merasa sedih karena berbeda, ia justru bangga karena merasa ter-highligth. "Perbedaan budaya kalau udah bisa menyatu itu jadi asik banget, bisa saling mengerti logat dan gaya masing-masing daerah. Ini dari luar pulau nadanya gini, ini dari suku itu logatnya gini, dari daerah itu nadanya khas kaya gitu", ujarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN