Mohon tunggu...
achmad fauzi
achmad fauzi Mohon Tunggu...

iam a student in UMS, depertement of teaching and english education.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pakaianku Mencerminkan Kayanya Alamku

19 November 2013   18:33 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:56 1292 3 0 Mohon Tunggu...

Indonesia adalah Negara kepulauan yang memiliki berbagai macam penduduk yang unik-unik salah satunya yaitu Papua, keunikan ini menjadi penyebab keterkebelakangannya Papua karena dianggap sebagai daerah yang masih primitif yang mana masih terdapat berbagai macam suku–suku asli papua.

Banyaknya suku-suku asli papua mencerminkan bahwa Papua memiliki berjuta keragaman didalamnya baik itu terdapat di alam sekitar mereka maupun dalam diri mereka sendiri. salah satu keragaman unik yang terdapat di papua adalah pakain adat mereka yang memiliki banyak arti dan tujuan.

Pakaian atau baju adat tradisional Papua sangat melekat pada masyarakatnya. Berikut ini sebagian penjelasan danpengetahuan tentang apa saja makna yang terkandung di dalam pakaian adat tradisional Papua.




Pakaian Adat Papua

Pakaian adat Papua adalah salah satu pakaian adat yang unik dan menarik, jika biasanya didaerah lain pakaian adat berupa kain-kain lembut atau sejenisnya, namun pakian adat papua sangat berbeda. Sesuai dengan daerah tempat tinggal mereka yaitu daerah pegunungan sehingga pakian adat mereka adalah pakian yang terbuat dari alam sekitar mereka.

Pakian adat papua baik laki-laki maupun perempuan hampir sama, hanya menggunakansebuah bawahan berupa rok yang terbuat dari alang-alang yang dibuat rapi sehingga serupa dengan rok yang biasa yang di pakai oleh perempuan. Tidak hanya itu keunikan pakaian adat Papua ini, karena bawahan yang digunakan hanya berupa rok saja, sehingga bagian badannya tidak tertutupi, jadi orang papua membuat suatu kreatifitas dengan, melukis seluruh badan mereka sehingga tidak relihat terlalu jelas, bahkan bagian muka pun tidak terlewatkan dari bagian lukisan mereka. Namun, ada sebagian masyarakat perempuan yang menutup bagian dada mereka dengan menggunakan alang-alang yang telah di buat sedemikan rupa sehingga bisa menutup bagian dada mereka.

Pakaian adat pria dan wanita di Papua hampir sama bentuknya. Mereka memakai baju dan penutup badan bagian bawah dengan model yang sama. Aksesoris yang biasa digunakan pun sangat lah unik seperti sebuah topi yang biasa di pakai hanya terbuat dari serabut serabut pohon yang biasa dijadikan bahan membuat sapu, dan ditambahkan dengan pernak pernik berupa cangkang binatang laut. Mereka juga sama-sama memakai berbagai macam hiasan-hiasan yang sama seperti hiasan-hiasan kepala burung cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki. Bentuk pakaian yang terlukis disini merupakan model atau ciptaan baru penduduk setempat. Biasanya juga mereka tak lupa memegang tombak atau panah-panah dan perisai yang dipegang laki-laki agar menambah kesan betapa kayanya adat Papua.





Pakaian Adat Pernikahan

Pakaian adat pernikahan yang dikenakan oleh kedua mempelai adalah busana putih-putih, merah-kecoklatan. Orang papua memang menyukai dan menyayangi warna putih dalam berbusana, hal ini merupakan suatu perkembangan yang verjalan dengan seiringan waktu.

Meski mereka tetap menyukai warna-warna meriah dan corak khas Papua, seperti manik-manik atau hiasan bulu cendrawasih. Kombinasi warna yang dipakai disimbolkan oleh corak warna bulu burung cendrawasih karna mengingat bahwa burung cendrawasih adalah burung khas papua yang mencerminkan budaya mereka.

Masyarakat setempat yang menjadi pengiring mempelai biasanya mengenakan pakaian biasa atau baju terbaik mereka. Atau bila tidak, pada umumnya mengenakan sarung tenunan lokal dengan atasan baju biasa atau baju berwarna putih yang menandakan kesucian.

Pakaian Tetua Adat dan Agama

Pakaian yang dikenakan oleh para Tetua adat dan Agama adalah pakain yang berbeda. Tetua Adat biasanya menggunakan pakaian adat Papua tradisionil, yang diambil dari bagian tubuh hewan khas papua atau hewan ternak mereka seperti dari bulu burung cendrawasih dan hiasan taring babi. Sedangkan pakaian Tetua Agama mengenakan jubah kuning flannel yang seragam dan senada.

Koteka (Pakaian adat penutup kemaluan)

Koteka merupakan suatu keterampilan buah tangan masyarakat asli Papua yang unik dan sangat menarik, dan hanya dimiliki oleh suku pedalaman masyarakat di Papua, dimana Koteka merupakan pakaian adat yang digunakan hanya untuk menutupi kemaluan pria pada saat belum dikenalnya Celana. Namun hingga saat ini Koteka masih banyak digunakan oleh kaum pria yang masih berada di daerah pedalaman Papua.

Asal Usul Koteka

Koteka terbuat dari kulit Labu Air yang ditanam didaerah mereka. Kata Koteka secara harfiah yaitu bermakna pakaian yang berasal dari salah satu bahasa suku di pedalaman Kabupaten Paniai. Sebagian suku di pegunungan Jayawijaya menyebutnya hilom atau horim.

Koteka adalah penutup kemaluan yang digunakan kaum lelaki. Koteka terbuat dari buah seperti buah labu yang berbentuk panjang mengerucut kedepan. Buah tersebut digunakan apabila telah dikeringkan, cara pembuatannya cukup sederhana. Petik buah labu tersebut yang telah tua sehingga lebih keras, kemuadian keluarkan isi didalam buah tersebut yaitu daging dan biji buah tersebut dan kemudian di jemur.

Setelah di keringkan hingga benar benar kering, biasanya sebelum dipakai koteka diukir terlebih dahulu, warga Papua adalah salah satu warga yang sangat kreatif, ukuran koteka yang dibuat biasanya disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilakukan. Koteka yang berukuran panjang digunakan pada saat menghadiri acara adat sedangkan koteka yang berukuran pendek digunakan untuk kegiatan sehari hari yaitu pada saat bekerja di ladang dan sebagainya. Pakaian adat papua adalah salah satu pakaian adat yang unik dan menrik untuk diketahui lebih jelas.

Banyak Suku yang dapat dikenali dengan cara mereka menggunakan koteka, untuk koteka yang pendek digunakan saat bekerja dan yang panjang dengan atribut hiasan, digunakan pada saat melaksanakan upacara adat, namun setiap suku memiliki perbedaan bentuk Koteka, misalnya Suku Yali, memiliki bentuk labu yang panjang, sedangkan masyarakat Tiom biasanya memakai dua labu.

Fungsi dan Filosofi Koteka

Di jaman modern ini, fungsi Koteka semakin tersisih, untuk itu patut untuk tetap di lestarikan dengan cara mengalih fungsikan Koteka tanpa meninggalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Koteka bisa digunakan sebagai media melukis dan juga souvenir atau buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke Papua.

Koteka adalah salah satu aset budaya bangsa yang sangat bernilai, sekalipun di era yang modern nanti Koteka telah memiliki fungsi lain, namun tetap menjadi bagian dari kebudayaan yang tak bisa dilupakan karena memiliki nilai-nilai leluhur yang sangat penting dan berharga di dalamnya. Selain itu, dengan melestarikan Koteka, artinya kita turut menghargai dan menjaga karya seni dan keterampilan masyarakat Papua.

BIODATA PENULIS








Achmad Fauzi, dengan nama panggilan Uji , lahir di Sorong tanggal 9 Maret 1989. Anak ke 4 dari 6 bersaudara. Mempunyai hobi main bola dan membaca tulisan-tulisan menarik. Profesi saat ini adalah seorang guru Olah Raga di salah satu Sekolah Dasar yang ada di Sorong ( Papua Barat ), dan juga sedang menjalani aktifitas sebagai seorang mahasiswa S1 di Universitas Muhammadiyah Sorong ( UMS ), fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Bahasa Inggris.

Pernah mengikuti beberapa ekstrakulikuler saat masih sekolah seperti khotbah bahasa Arab, Paskibra, Drum Band, Pecinta Alam, dll. Selain itu juga aktif di berbagai kegiatan kampus, seperti Senat dan juga seminar-seminar kampus. Sekilas profil tentang saya, jika ada yang ingin berbagi pengalaman dan cerita bisa kunjungi saya di E-mail fauzi.ahmeed@yahoo.co.id. Thankssssssssss ...

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x