Mohon tunggu...
Fauzan Fajari
Fauzan Fajari Mohon Tunggu... Biasa Dipanggil Uzan, Ojan, Zan, dan Fauzan

Seorang Pemuda Gemar Membaca, Nonton Film dan Jalan-Jalan. Pengen Jadi Penulis, Sutradara dan Pengusaha.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Alasan

7 Juni 2021   11:45 Diperbarui: 7 Juni 2021   12:01 74 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Alasan
(Ilustrasi Orang Yang Ketahuan Makan Di Bulan Puasa/Oleh Fauzan Fajari, dari foto temannya yang sedang makan gorengan)

.

.

.

Afwan namanya, mahasiswa yang baru balik dari demo hari buruh yang dilaksanakan siang tadi di kantor gubernur. Afwan, Afwan, capek-capek teriak-teriak, gubernur sedang dalam agenda safari ramadan. Afwan jadi tak habis pikir, kalau saja ia tahu gubernur tidak ada, mungkin tidak ikut demo, melainkan di kos nonton film. Tak lupa bajakan, tentunya.

Kini ia sudah di kos yang lumayan besar ukurannya. Ada sebuah jendela yang syukurlah selalu mendapat cahaya matahari pagi di samping pintu masuk. Di dalamnya ada sebuah lemari dua pintu dan dipan setinggi lutut, serta sebuah meja dan kursi yang kini tengah diduduki Afwan. Di sebelah kosnya ada kos satunya lagi dan tepat di depan kos Afwan itu adalah belakang rumah Pak Kos.

Kini badannya capek-capek, kaki pegal, kerongkongan kering, dan sekarang ia tengah berpuasa. Setengah jam yang lalu, di perjalanan pulang dari kantor gubernur, perutnya bergetar seperti ponsel yang dimatikan nada dering. Semula tak ia gubris, dalam hati katanya ia masih kuat dan sanggup puasa penuh.

Sayangnya, saat sendiri di kos begini, kata hatinya sedikit demi sedikit ke luar posisi. Bertunas pula gagasan baru dalam hatinya, "Minum sajalah, tidak ada siapa-siapa di sini. Pak Kos sedang tidur di kursi goyang teras rumah. Tetangga sebelah, si pemalas bangun sahur juga tidak di kosannya, ketahuan pun ia akan maklum. Teman-teman juga tidak akan ke sini sebelum mereka membuat janji."

Mulut mahasiswa kribo itu bungkam. Hati dan pikirannya beradu pendapat, seperti kampanye, atau mungkin debat presiden, tapi tanpa teks. Kata si Hati, lebih baik tidak usah saja minum, karena hari sudah pukul setengah lima, tanggung kalau dibatalkan. Sedangkan si Pikiran bilang, langsung saja, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan, mana ada orang yang bersembunyi dari dirinya sendiri. Ah, Afwan bimbang sekarang. Matanya melihat ke dapur kosan, lebih tepatnya ke wadah plastik Polypropilene, alias Galon. Uh, galon itu nampak berpeluh di sisi dalamnya.

Ada sekitar sepuluh menit termenung dan berpikir mengenai langkah yang akan ia pilih, akhirnya Afwan mencoblos pilihan kedua, minum sajalah. Segeralah Afwan berdiri, terdengar bunyi sendi-sendinya yang kaku karena saking lamanya diam terpaku. Sampai di depan wadah Polypropilene, Afwan segera mengambil gelas Bakelit, lalu meniupnya barang sejenak, kemudian mematik keluaran air galon dan menampung tumpahannya.
Twiiissshh..... Gledak... Gleduk...

Gelas bakelit Afwan penuh. Afwan mendengar bisik bujuk rayu, "Jangan, jangan! Sudah hampir buka, tunggu sajalah dulu!" Cepat-cepat dibantah Pikiran, "Minum! Sudah di depan mata. Tidak ada lagi mata siapa-siapa selain hanya engkau dan yang satu. Yang satu itu Maha Pengampun, apa yang perlu disesalkan? Takut durhaka?! Yang satu itu juga Maha Penyayang, dia tidak akan menbenci dan mendendam, malahan selalu melimpahkan kasih dan sayangnya kepada hambanya yang durhaka sekalipun seperti Fir'aun."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN