Risuma Lolok
Risuma Lolok

find me on facebook " risuma lolok"....follow me on twitter "@risumalolok"

Selanjutnya

Tutup

Novel

Biji Hingga Moka (Bab 1)

10 Januari 2018   08:28 Diperbarui: 10 Januari 2018   08:59 325 2 0

Note : Novel ini berlatar belakang pro kontra Upacara Rambu Solo (pemakaman) dalam adat Suku Toraja dari sudut pandang seorang remaja yang selalu ingin tahu tentang sukunya sendiri. 

SATU

Saat warnanya merekah, saat itulah dia dipetik.

Suster Feli bertanya apa aku baik-baik saja setelah mendengar semuanya. Tak hanya pukulan dan rasa lapar yang membuat orang lemas, kabar burukpun bisa. Tapi aku berusaha bertahan dan tidak lunglai di kursi itu. Aku menarik punggungku dari sandaran agar terlihat tegak, "Sa[1] tidak apa-apa suster," jawabku sambil memikirkan kamar mandi. Suster Felicitas minta maaf karena baru memberitahuku sekarang, padahal si pembawa kabar datang seminggu lalu. Suster memilih hari libur, hari yang santai.

"Papa meninggal karena apa?" bibir bawahnya bergerak lalu mengatup lagi, dia meraih tanganku lalu meminta maaf sekali lagi karena dia lupa menanyakan hal itu. Tidak masuk akal, tapi aku membiarkannya berbohong karena aku juga belum siap mengetahui penyebab kematiannya."Tak apa Suster..." aku memutar badanku ingin segera ke kamar mandi tapi Suster Feli menahan bahuku lalu menekanku ke kursi.

"Matari, orang itu membawa barang-barang Ayahmu." Suster Feli membuka lemari lalu menyodorkan sebuah box berukuran sedang. Mataku dan mata ayahku bertemu saat aku membuka kotak itu. Aku mengangkat lembar fotonya metapnya lekat-lekat. Suster Feli berjalan ke belakangku menatap foto itu juga sabil mengusap-usap bahuku. Aku menahan air mataku sebisa mungkin. Aku kuat, tak akan kubiarkan diriku tumbang oleh apapun. Kalau aku bisa menghentikan pengasuh dan kakak kelas melakukan penindasan kepadaku, maka aku juga bisa mengatasi kenyataan ini. Ayah sudah meninggal, dan dia tidak akan datang lagi ke sini, harapan yang kusimpan bertahun lamanya tak akan pernah terjadi.

 Suster Feli mengusap-usap bahuku, "Simpanlah foto ini, Nak. Pandanglah mereka jika kamu rindu. Suster tahu mereka akan selalu ada di sini," Suster Feli menekan dada kiriku. Aku keluar dari ruang kerja Suster Feli, berjalan gontai ke kamar mandi sambil membawah kotak itu. Jiwa dan pikiranku direbut suasana. Sosok-sosok yang kulewati sepanjang koridor panti tampak seperti bayangan berwarna pudar di sudut mataku. Memang mengherankan melihat sesorang berjalan ke kamar mandi sambil membawa kotak, bukannya handuk atau gayung. Tapi apa peduliku?

Aku bertumpuh pada pintu kamar mandi menepuk pipiku sekali, dua kali, agar aku makin sadar kalau ini kenyataan bukan mimpi buruk. Aku tidak memiliki Ayah lagi, dan aku harus berhenti mengharapkan kedatangan Ayah untuk mengeluarkanku dari sini. Delapan tahun, aku sudah menghabiskan lebih dari separuh hidupku di sini, dalam penantian yang sia-sia, menolak siapapun yang akan mengadopsiku karena aku akan dijemput suatu hari nanti.

"Tari, Ko lagi apa?" itu suara Goretty. Teman terdekatku di panti ini. Dia sangat baik dan manis, tapi sedikit gila urusan.

"Lagi mandi!"

"Kenapa tak bawa handuk? Ini handuknya."Aku membuka kamar mandi lalu menarik handuk yang dibawa Goretty. Dia menanyakan kotakku.

"Bukan apa-apa! Pergi!" bentakku.Goretty membuatku kesal. Walaupun dia mengerti aku dalam masalah tapi aku butuh sendiri, dia tidak perlu merasa wajib menemaniku karena aku tidak suka membicarakan apa-apa dengan oranglain jika sesuatu bisa selesai di dalam kepalaku.

Foto Ayah, sepucuk surat yang ditulis pada tahun 2000, karcis di sebuah taman bermain delapan tahun silam dan balon karet berwarna-warni. Ingatanku sudah lumayan ketika hal-hal yang melibatkan benda-benada ini terjadi . Aku memeras habis air mataku selama bermenit-menit lalu membenamkan kepalaku ke dalam bak mandi, mengusapkan shampo murahan beraroma kelapa ke rambutku. Kebetulan mataku memerah setiap kali keramas. Seisi panti tidak perlu bertanya penyebabnya, rambut basah dan mata merahku bagaikan gunung merapi dan kawahnya. Mereka tidak akan curiga kalau aku menangis.

Secara mengejutkan wajah Goretty muncul setelah aku menutup loker 23 milikku dan kotak Ayah sudah tersimpan di dalamnya. Dasar gila urusan! Aku benar-benar tidak butuh belas kasihan, simpati atau apapun itu. Aku memalingkan muka menaiki tangga ranjang susun lalu meringkuk di tempat kasur kapuk memejamkan mataku rapat-rapat. Ranjang bergoyang maju mundur. Aku hapal gerakan rangkaian besi ini saat seseorang baru saja membaringkan badannya di kasur bawah.

"Tari, kamu ada masalah?" Tanya Goretty. Tak ada jawaban. Mataku sedang memejam seperti orang yang tertidur lelap. "Tari, nanti sore kita nonton Everlasting Love yuk?" Everlasting Love, serial korea favorit seisi panti. "Tari? Tariii??" Goretty mengerluarkan badannya mencengram besi yang membentang di belakang ubun-ubunku, aku merasakan napas yang dihela di atas kepalaku. Goretty turun dan lalu beranjak pergi. Aku menunggu beberapa saat lalu pelan-pelan membuka surat Ayah, membacanya baris demi baris.

Matari Jemimah Maega yang terkasih,

Semoga surat ini sampai kepadamu saat kau sudah cukup dewasa untuk mengerti dan cukup dewasa untuk memaafkan Papa. Kita tidak akan bertemu lagi, Nak. Tapi aku mencintaimu dan semua yang kulakukan adalah yang terbaik untukmu.

Dunia di luar sana kadang tidak berpihak kepada keadilan dan begitu banyak dusta yang beredar di luar sana. Yang perlu kau lakukan adalah menjaga dirimu baik-baik. Semoga kamu ingat saat Papa membiarkanmu jatuh di taman bermain yang meninggalkan bekas luka di lututmu. Itu cukup mengajarimu untuk tidak percaya kepada siapapun di dunia ini termasuk orangtuamu. Dan saat kau mengatakan kalau kau melihat balon berwarna-warni terbang ke udara tapi kau tak bisa membuktikannya sampai kita sama-sama melihat balon itu tersangkut di pohon. Jika kita tak bisa membuktikan apa-apa orang-orang akan menganggap itu omong kosong semata.

Jaga dirimu baik-baik anakku. Semoga kau tumbuh menjadi perempuan tangguh seperti para leluhurmu. Berjuanglah untuk masa depanmu, jangan menoleh ke belakang, jangan mencari-cari yang sudah hilang.

Ayah salah. Aku belum mengerti tentang semua ini. Aku merabah bekas luka di lututku yang lebih parah dari luka cacar. Ingatanku masih cukup jelas tentang luka ini.

Surat ini ditulis pada 20 April 2000 dua hari sebelum kematiannya. Aku mulai bertanya-tanya bagaimana Ayahku meninggal. Bunuh dirikah? Karena aku tidak membayangkan tubuh kurus kering yang digerogoti penyakit melainkan wajah senduh setiap saat yang bahkan masih terlihat saat dia berusaha tersenyum atau tertawa. Walau waktu itu aku masih kecil tapi aku tahu dia memuja ibuku yang  meninggal lebih dulu darinya.

Ingatan masa kecilku bersama Ibu dan Ayah seperti potongan-potongan puzzle yang berhamburan. Ayah hanya menyuruhku mengingat pesan pentingnya, untuk hidupku selanjutnya. Dalam suratnya dia tidak menyinggung kematian ibu. Aku mempunyai versi lain tentang kronologi kematian Ibu. Berbeda dengan versi yang diyakini semua orang. Tidak ada yang mempercayaiku, termasuk Ayah dan seorang wanita yang baik hati, kurasa dia pengasuhku.

Potongan ingatan lain yang menonjol adalah ketika terdengar ketukan keras di pintu kamar yang kami sewah, Ayah menarikku ke tempat aman agar yang mengetuk tidak melihat kami di lubang kunci. Ayah membekap mulutku. Aku tak tahu sipa si pengetuk dan mengapa Ayah menghindar. Aku tak mengerti apa kejadian-kejadian itu berhubungan tapi sepertinya ada kesimpulan yang perlu ditarik.

Kudengar derit pintu yang didorong hingga menghantam tembok yang ada di belakangnya. Aku tersentak, bunyinya begitu keras. Eli, pengasuh panti yang galak, mendongak sambil memelototiku. Sudah bertahun-tahun aku ada di bawah penindasannya, tapi sekarang aku menjadi pembangkang yang berani melawannya.

"Siapa yang suruh kamu tidur pagi-pagi, Putri tidur? Turun tidak? Ko[2] harus bantu-bantu di dapur. Dasar pemalas!!" Adrenalinku terpacu. Beberapa anak perempuan dan pengasuh yang menggendong batita menyusul masuk unit untuk melihat aku dan Eli berantam untuk kesekian kalinya. Sepertinya cairan dophamin di otak mereka bekerja dengan baik. Aku memberinya tatapan miris nan memojokkan."Pantas saja Pak Aloy tidak suka sama Ibu, kelakuan Ibu begini sih. Masak Pak Aloy mau pacaran sama Mak lampir!"  Semua tertawa mendengar ucapanku yang berani . Eli meminta mereka agar diam namun tidak ada yang menghiraukannya.

"Memangnya saya naksir Aloy?!! Haumm?!!" gigi atas dan gigi bawahnya saling menekan. Ucapannya dan ekspresi wajahnya sangat lucu. . Pak Aloy adalah guru les Bahasa Inggris panti yang mengunjungi kami dua kali seminggu. Tidak sulit membaca bahasa tubuh Eli terhadap Pak Aloy. Seisi panti tahu perasaanya. Dalam suasana yang heboh ini, tanpa sengaja aku melihat keluar jendela, suster Feli berjalan terburu-buru menyusuri koridor ke arah unit. Tawa keras mereka yang mengundangnya kemar. Saat melirik keluar jendela mataku tidak segaja menatap pantulan matahari di atap seng menyilaukan mataku, kepalaku terasa berat. Aku lunglai.

"Tariiii? Tari!"

Kepalaku menghantam besi yang membentang di ujung tempat tidur dan aku tidak mendengar apa-apa lagi. Sesosok anak perempuan lima tahun dengan tas kepala singa di punggungnya sedang meniti titian yang cukup tinggi untuk ukurannya. Seorang laki-laki jangkung memegang tangan kanannya mengingatkan gadis kecil itu untuk menjaga keseimbangan. Perlahan laki-laki jangkung itu melepas tangan si gadis membiarkannya meniti sendiri lalu berdiri menunggu si gadis di ujung titian. "Lompat saja, Papa akan tangkap!" ucap si lelaki jangkung.Seikat balon warna-warni terbang ke udara melewati jendela kamar. Gadis kecil itu histeris mencari-cari Ayahnya untuk memberi tahu hal yang tak biasa itu.

"Ada balon Pa...ada balon!"

Gadis kecil itu adalah aku dan lelaki jangkung itu adalah Ayahku.

Aku membuka mata dan lagi-lagi aku melihat muka Goretty. Dia memegang kepalaku yang terasa dingin. Aku menepikan tangannya."Apa-apaan ini!" aku menarik kain basah diatas kepalaku. Aku meringis, kepalaku serasa dicengkram.

"Tari, kamu demam. Tadi kamu pingsan."

"Oh..." ucapku kebingungan.

Dengan sabar Goretty mengambil kain basa yang tadi kusingkirkan dan menaruhnya kembali ke kepalaku."Tidak perlu Retty, sayang! Tidak usah repot-repot! Aku cuma butuh obat penurun panas dan waktu tidur dua jam."

"Tapi kata suster Feli, Tari harus makan sedikit baru minum obat!"

"Mana makanannya?"

Goretty turun mengambil makanan yang disiapkan. Aku meraih nampan makananku sebelum Goretty menyuapiku. Makanan itu habis dalam hitungan menit. Sepertinya Goretty tidak berkedip melihat cara makanku yanmg terlalu cepat. "Obatnya?"Goretty menyodorkannya, pil dalam sekali tenggak pil itu masuk ke perutku. Aku mengucapkan terima kasih pada Goretty lalu meringkuk memunggunginya.

"Suster Feli kemana?"

"Ke Santa Monika, lihat pengumuman kenaikan kelas."

Aku ber-oh lalu berusaha tidur lagi, rasanya aku tidak ingin bangun sampai berhari-hari. Santa Monika 1 adalah sekolah favorit dan aku bersekolah di sana. Panti Lima Roti dan Dua Ikan berada dibawah naungan yayasan yang sama dengan SMP Santa Monika 1, Yayasan Biji Sesawi. Setiap tahun Panti mengirim dua pasang anak laki-laki dan perempuan untuk bersekolah di Santa Monika 1. Tentu saja yang paling cerdas, aku dan Goretty dari asrama putri dan dua orang anak laki-laki dari asrama putra.

Tahun lalu, di hari Santa Monika 1 mengadakan tes, aku dan Goretty balapan sepeda ke sana, dengan semangat menggebu mengikuti ujian masuk ke sekolah itu. Kami sudah pasti akan sekolah di sana tapi kami butuh tes untuk penempatan kelas. Kelas VII-1 adalah kelas yang dianggap paling pintar. Ada lima kelas di setiap tingkatan, dan sebuah kelas akselerasi yang bisa dimasuki di tahun kedua bagi yang lolos. Suster kepala, Suster Feli dan guru-guru sedang bercengkrama di depan gerbang sekolah sambil memberi sapaan pada orangtua yang mengantar anaknya mengikuti ujian. Senyum mereka begitu manis. Seorang Guru berwajah sangat putih dan berbibir tebal menatap kami yang memarkir sepeda di deretan mobil dan sepeda motor.

"Jadi mereka anak pantinya?" Suster Feli kelihatan tidak nyaman mendengar ucapan Ibu Trice namun tetap mengiyakan dengan sopan."Iya Bu. Ini Matari dan Ini Goretty."

"Tari, kata gurunya sudah bisa mengerjakan aljabar rumit dan persamaan garis." Kata suster Feli bangga.

"Oya?" Mata suster kepala berbinar sambil tersenyum ke arahku. "Hebat sekali kamu..." sambungnya.

"Itu pelajaran kelas delapan semester dua. Wah! Boleh jadi tahun depan Tari masuk kelas akselasi." ucapan Ibu Trice, bernada menantang."Semoga saja. Kita doakan sama-sama ya, Bu. Ayo Nak, Suster tunjukin ruangannya!" Suster Feli merangkul bahu kami kiri-kanan memasuki area sekolahan. Tampaknya dia tidak ingin berlama-lama dengan Ibu Trice.

Suster Feli lebih antusias dengan hasil tes daripda kami. Aku sendiri yakin akan meraih skor tertinggi, karena aku mengerjakan soal-soal itu dengan sepenuh hati.

"Apa? Efraim Wijaya? Sisilia Tan?" Suster Feli mengangguk. Hasil tes menunjukkan kalau aku berada di peringkat ke-3. Aku tidak bisa menerimanya. Aku benci menjadi nomor dua apalagi nomor tiga. Aku dikalahkan seorang bernama Efraim dan Sisilia Tan anak pemilik kedai kue seberang jalan. "Tapi kamu masuk kelas VII-1 Tari. Dalam tujuh tahun terakhir belum ada anak utusan dari sini yang berhasil masuk kelas pintar. Tapi kamu masuk! Itu luar biasa, Nak!"

"Tapi harusnya aku yang menjadi juaranya, Suster. Aku yang harus juara 1. Pasti nilai matematikaku yang tertinggi. Mereka cuma menang di tes lain.Ya kan Suster?"Suster Feli menggeleng.

"Efraim yang tertinggi, kamu nomor 2."

Aku menghela napas, termenung sejenak.

"Mereka boleh menang sekarang. Ini baru permulaan, semester ini aku akan menjadi juaranya. semester dua aku masih akan menjadi juara. Aku akan menjadi kandidat terkuat untuk kelas akselerasi."Suster Feli mengulum senyum sambil mengangguk-angguk. Dia senang mendengar tekatku. Dia berjanji akan melakukan negosiasi dengan yayasan untuk memberiku bea siswa . Yang perlu kulakuan hanya berjuang untuk meraih bea siswa itu. Suster Feli memintaku pergi dan memanggil Goretty, dia masuk kelas VII-5 membuatnya sedikit terpukul. Tapi dia seorang penyabar bukan pemberontak.

***

Aku memperlakukan setiap barang secara sembrono, tapi tidak dengan kertas-kertas ulanganku. Mereka tersusun rapi dalam binder-binder yang semakin lama semakin menebal. Untuk sebuah nilai, aku menyukai angka sembilan puluh, memberi toleransi pada angka delapan puluh, dan mencintai angka seratus. Aku membuang angka tujuh puluh ke bawah. Mereka tak ada dalam binder-binder itu. Foto ibuku menempel di depan binder pertama. Sorot matanya tajam, rambutnya tergerai, duduk menyamping dari arah kamera.

Bibirnya yang tersenyum tipis memancarkan kasih yang bisa aku rasakan setiap saat dan matanya tegas seolah menuntut sesuatu. Aku menjermahkannya dalam nilai-nilai sekolah yang bagus, karena itulah yang diinginkan setiap orangtua. Makanya aku menaruhnya dalam binder  membiarkannya menikmati angka-angka kesukaanku dan menyembunyikan angka jelek darinya. Setiap kali melobangi kertas ulangan dan menguncinya dalam binder aku berusap lirih, Ma lihat, saya hebat kan?.Itulah yang kulakukan empat tahun tarakhir, saat usiaku sembilan tahun dan kerinduan akan sosoknya semakin menjadi-jadi.

Sering kubayangkan Ayah yang datang dari jauh dan semakin mendekat ke pintu panti. Mengajakku keluar dari sini lalu membawaku pergi ke bukit berbatu tempat ibuku berdiam selamanya. Aku akan meletakkan rangkaian bunga warna ungu tajam di depan pintu makam dan nilai-nilai ulanganku akan kuletakkan juga di situ bagai sebuah persembahan di mesbah. Biarlah angka-angka itu menjadi santapan lezat bagi jiwa ibuku di puya[3]. Dari sana dia akan tersenyum dan menyampaikan rasa senangnya lewat mimpi-mimpiku. Itu yang kuharapkan, namun belum pernah terjadi.

Lagi-lagi Goretty. Dia mengguncang tubuhku. Aku menguap sekali menyipitkan mata ke arah jendela. Ya Tuhan, matahari sudah beranjak ke lautan Pantai Losari, berapa lama aku tertidur?

"Aku malas nonton. Kau nonton saja sendiri!"

"Bukan! Suster Feli panggil kamu, katanya kamu masuk kelas akselerasi," katanya penuh semangat. "Ya tentu! Nilaiku yang tertinggi semester ini."

"Dan kamu juaranya. Namamu ada di urutan 1 hasil tes," aku bergeming. Tiba-tiba saja aku kehilangan selera pada prestasi. Kandidat kelas akselerasi adalah 50 siswa yang masuk sepuluh besar dari tiap kelas yang lagi-lagi menempuh sebuah test. Goretty juga menjadi kandidat dari kelas VII-5."Oya, hasilmu bagaimana, Ty?"

Dia menggeleng. Aku tidak menanyakan apa-apa lagi. Aku sebenarnya ingin tidur lagi tapi suster Feli memanggilku untuk yang kedua kalinya hari ini. Aku menegakkan punggungku lalu beranjak turun."Apa ini tari?" Goretty menunjuk sesuatu di tengah tempat tidur. Aku pikir dia melihat surat Ayahku.

"Bukan apa-a...." Aku terbelalak melihat sebuah noda pekat. Tarikan napasku menimbulkan bunyi keterkejutan. Apa ini?

"Tari kamu mens!"

Mukakku memerah. Suster Feli muncul sambil membawa file yang ditekan ke dada."Bukannya ke ruangan Suster malah asyk cerita. Ko masih sakit?"Goretty mengayunkan tangan ke arah Suster Feli agar mendekat. Aku jadi salah tingkah. Suster Feli jinjit untuk melihat dari balik terali sesuatu yang ditunjuk Goretty.

"Ooooooh....."

Mereka tertawa. Goretty sudah hampir setahun mengalami menstruasi. Dia sudah berumur tiga belas setengah tahun. "Kamu harus mandi, bersihkan semuah tubuhmu pakai sabun anti septik. Ingat ya, seluruh bagian tubuh. Pakaian kamu harus langsung dicuci. Habis itu pakai pembalut. Malam sebelum tidur pembalutnya harus diganti. Oya Retty, kamu bantu dia cuci seprainya."

"Suster, kalau Tari sudah mens artinya kami bisa pindah ke lantai dua kan?"

"Bisa toh. Kalian bukan anak-anak lagi. Minggu ini juga kalian bisa gabung dengan kakak-kakak kalian di lantai atas."Aku senang mendengarnya. Tinggal satu kamar dengan anak-anak SD membuatku teramat bosan. Minggu ini aku akan tinggal dalam sebuah sekat setinggi kurang dari dua meter berbentuk U dan menempel pada dinding utama ruangan. Memiliki pintu yang digembok, sebuah tempat tidur, meja belajar dan lemari. Sekat-sekat itu saling berhadapan dan dipisahkan oleh sebuah lorong. Aku harap kamarku berhadapan dengan kamar Goretty bukan besampingan agar kepalanya tidak sering muncul di atas sisi sekatku. Sebenarnya dia berhak meninggalkan bangsal tahun lalu tapi dia menungguku. Bicara soal hubungan pertemanan, Goretty agak mengistimewakanku karena kesamaan usia dan sekolah.

"Nanti kamar kita berseblahan kan?"

"Agar kamu bisa mengintip aku tidur-tiduran lalu melapor ke Eli?"

Goretty berhenti menyikat seprai, terperanjat dengan kata-kataku. Aku mengambil sikat dan seprai itu  lalu mengerjakannya sendiri. "Kau menuduhku, Tari?"

Aku tidak menggubris pertanyaannya. Sebuah pikiran negatif tentang dia muncul saat dia terus membuntutiku sampai akhirnya pergi dari bangsal lalu Eli datang menghardikku dengan kasar. Dia terisak, sebenarnya ada setitik perasaan menyesal yang muncul tapi aku mengabaikannya. Bukankah karena rasa ibah orang sering ditipu? Dia berlalu dari tempat cuci tanpa mengatakan apa-apa. Dia hanya pura-pura terluka, dia seorang penghianat, aku mencoba meyakinkan diriku.

Noda darah yang kutemui di celanaku dan seprai terasa lebih menyengat daripada bau telur pecah. Ada perasaan yang melebihi perasaan jijik setiap kali melihat darah. Aku melihat darah menggenang saat ibuku diangkat dari tanah dan ayahku membiarkan lututku berdarah di taman bermain. Semua kenangan tentang darah sangat tidak aku sukai dan kini aku harus berurusan dengan darah setiap bulan.Aku membilas seprai itu sebersih mungkin, aku tidak menyukai darah. Rasanya aneh merasakan tonjolan pembalut diantara tungkaiku, mengapa Tuhan menakdirkan hal ini pada wanita?

"Biasa saja jalannya, Tari," Suster Feli memperingatiku.

Aku menghempaskan bokongku di kursi depan mejanya lalu meniupkan udara dengan kencang dari mulutku, seperti orang yang habis memikul beban bepuluh-puluh kilo.

"Jadi bagaimana bea siswanya, Suster? Kata Retty skor saya yang paling bagus untuk tes kelas akselerasi dan semester ini saya peringkat satu juga."Suster Feli menggeleng dan tertawa geli.

" Sebelumnya selamat ya, Tari, kamu benar-benar hebat. Kamu membawa nama baik untuk panti....hmmm....Beasiswanya sudah ada!"Menarik laci lalu menyodorkan sebuah amplop.

"Suster kasih sedikit dulu ya, lainnya kita simpan untuk kebutuhanmu."

"Aku mau semuanya suster, 1 juta!"

"Buat apa uang sebanyak itu, Nak?"

"Saya butuh ponsel. Kalau ada perubahan tugas rumah, pemberitahuannya lewat sms. Saya sering kewalahan mengerjakan tugas dalam waktu singkat karena saya tidak tahu ada perubahan atau penambahan tugas rumah."Suster Feli menyandarkan punggungnya, berpikir sejenak.

"Baik, besok kita ke town square, kita cari sama-sama."

Suster Feli menarik amplop itu lagi tapi aku menekan tangannya.

"Ada apa lagi, Tari?"

"Boleh minta 150 ribu, Suster? Aku mau beli 2 kaos kembar untukku dan Retty."

Lagi-lagi Suster Feli menarik napas seperti orang kepayahan lalu mengeluarkan tiga lembar uang mengetukkan sisinnya ke meja lalu menyodorkannya padaku. Aku berterima kasih lalu pamit.

"Tari?"

"Ya"

"Ko baik-baik saja?"

"Masih butuh tidur, Suster. Izin tidak ikut doa malam, boleh?"

Suster Feli mengiyahkan. Aku meninggalkan ruangan dengan uang di genggamanku. Aku bertanya-tanya pada diriku mengapa keinginan untuk membeli dua kaos tiba-tiba muncul? Apa tanpa sadar aku mencari-cari cara untuk mengobati hati Retty? Dari jarak beberapa meter aku melihat bantalku lewat jendela bangsal yang terbuka. Betapa gampangnya melihat seseorang tertidur di atas sana. Eli melihatku tidur, bukan Goreety yang mengadukannya, suara lain menggema dalam kepalalu. Aku memejam. Perasaan bersalahku kian menjadi-jadi. Lalu aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku benar, namun tidak mudah menghilangkan perasaan aneh ini. Aku ingin tertidur lagi agar aku melupakan kabar tentang Ayah dan tidak mendengarkan suara hatiku yang berteriak-teriak bahwa Retty tidak mengaduhkanku. Sebelum tertidur aku mengeluarkan surat ayah dari balik bantalku lalu meringkuk lagi. Papa, aku bahkan tidak percaya pada suara hatiku sendiri.

Rasanya seperti dihimpit beban yang lebih berat dari karung beras, aku ingin tidur selama yang aku bisa, namun Goretty membangunkanku untuk makan malam. Baginya, masalah di tempat cuci telah selesai, tapi suara-suara yang membela Goretty masih berteriak-teriak kepadaku. Aku benci perasaan ini.

Setelah makan malam aku kembali ke tempat tidur. Goretty menemuiku lagi. "Tadi, saat doa malam kami mendoakan Ayahmu. Saya turut berduka cita ya, Tari." Ucapnya hati-hati.

***

Sekolah telah dimulai, aku sudah menempati kamar sempit yang berhadapan dengan kamar Goretty, memiliki sebuah ponsel dengan fitur standar dan sedikit uang saku di hari-hari pertama. Aku hanya mengbiskan delapan puluh ribu rupiah untuk 2 kaos dan mengantongi sisanya. Ponselku hanya 500 ribu rupiah harganya, berarti sisa simpananku di suster Feli masih ada 350 ribu. Punya uang sendiri itu menyenangkan. Retty menungguku di luar saat kelas usai. Dia membuka baju seragamnya meperlihatkan kaos ungu kami. Aku juga membuka seragamku, dan kini kami memakai baju yang sama. Menggelikan.

"Itu seragam Panti?" Sisilia bertanya tanpa menghentikan langkahnya dan sepertinya tidak menunggu jawaban. "Bukan!" aku setengah berteriak karena dia semakin menjauh, dia menoleh sejenak lalu terus berjalan. Aku menganggap itu hinaan. Aku mengajak Retty ke kantin untuk jajan. Aku menunjukkan kekesalan saat memberiku nasehat untuk menghemat uangku lalu menariknya ke kantin. Kami membeli beberapa molen yang dibungkus dalam kantung kertas dan dua minuman dingin dalam gelas plastik lalu memakannya di sebuah bangku di taman samping gerbang sekolah, melihat kendaraan satu per satu meninggalkan pelataran mengangkut teman-teman sekolah kami.  "Cara makanmu aneh deh!" Goretty mengomentariku yang memisahkan kulit molen lalu memakannya terlebih dahulu sebelum memakan pisangnya. Goretty menggigit kulit dan isi molen sekaligus. Aku melakukan hal yang sama untuk telur rebus. Bedanya, aku memakan putih telur dan membuang kuningnya. Entah kapan kebiasaan ini muncul, sepertinya sejak aku bisa makan sendiri.

"Rasanya lebih enak kalau makannya begini.."

"Hmmmmmm!!"

"Mau menungguku latihan judo?"

"Oh ya..." dia buru-buru menelan makananya lalu minum untuk menuntaskannya. "Jadawal kurikuler paduan suara pindah hari ini, jadi aku juga tinggal."

"Baguslah!"

Tiba-tiba aku teringat seorang gadis menjengkelkan bernama Orpha yang juga bergabung di kurikuler paduan suara. Aku bertanya pada Retty apakah Orpha masih sering mengganggunya. Dia pernah meletakkan tikus karet di laci Retty, kekagetan Retty menjadi bahan tertawaan seisi kelas. Nenek sihir itu juga pernah menarik ikat rambut Retty lalu melempar-lemparkannya ke udara, Retty susah payah merebutnya, dan masih banyak lagi keisengan lainnya. Dia bertindak semanah-menah pada kaumku, sesamaku.

"Sekali lagi dia mengganggumu akan kuberi pelajaran!"

"Jangan, kamu tau siapa dia kan? Dan siapa orangtuanya?"

"Yah lalu kenapa? Aku tidak takut." Aku sudah dua kali melihat orangtuanya saat pembagian raport sekaligus penggalangan dana yayasan. Nominal sumbangan orangtuanya diumumkan diiringi tepuk tangan orangtua siswa dan murid. Tapi tepuk tangan untukku saat prestasi-prestasiku dibacakan lebih keras dan durasinya lebih lama karena aku adalah warga panti dengan pencapaian bagus.

Orpha, anak yang berasal dari keluarga kaya raya. Dia dengan muda membuat siapapun patuh padanya dan siapapun yang berhasil dekat dengannya akan berusaha mencocokkan selera dengan Orpha. Jika Orpha menyukai boneka tasmania maka pengikutnya akan mengenakan aksesori berbau tasmanaia, jika orpha memakai bandana, maka pengikutnya juga akan memakai bandana, jika dia memakai cardigan di luar jam pelajaran maka pengikutnya juga akan memakai cardigan walau cuaca sangat panas, jika dia menganggap Goretty objek penderita maka pengikutnya akan tertawa saat Opha menjalankan aksi jahilnya.

Aku menahan dua detik tatapanku tepat di kedua biji mata Orpha saat aku melepas Goretty ke ruang paduan suara. Dia memutar bola matanya, lalu tersenyum remeh. Tatapanku membawah pesan bahwa aku tidak menyukainya. Saat aku melompati dua anak tangga terakhir untuk mempersingkat waktu menuju dojo[4], seseorang berteriak padaku,"Hei!"Aku menoleh keatas. Orpha menuruni tangga menuju arahku. "Aku mau bicara sebentar, emmmm...." dia menggoyang-goyangkan telunjuknya yang dilingkari cicin kepala Bugs Bunny, alisnya agak berkerut, ekspresi seseorang yang ingin mengingat sesuatu, "aku lupa namamu, Anak Panti!"

"Matari."

"Yah, Matari. Besok aku masuk kelas akselerasi. Kamu tahu kan aku nyaris masuk kelas itu, aku peringkat 21 sedangkan yang masuk hanya 20. Tapi Suster Kepala mengizinkanku bergabung di kelas aksel."

Aku kaget mendengarnya. Pasti orangtuanya sudah mengadakan negosiasi dengan Suster Kepala."Okee. Kamu mau ngasih tau kalau kita akan sekelas?"

"Ya. Aku lihat mejamu seblahan dengan meja Sisilia. Besok penjaga sekolah akan bawa meja dan kursi tambahan ke kelas aksel, jadi kamu duduk di belakang saja ya, Matari."

Mejaku berada di baris depan di ujung kelas berdekatan dengan jendela. Sisilia memang berseblahan denganku. "Maaf, meja itu punya saya, nama saya sudah di tempel di sana. Saya minta maaf ya, emm...." aku mengerutkan dahi sambil menggoyang-goyangkan telunjukku, "namamu siapa, Peringkat 21?"Sifat pura-puraku berhasil membuatnya jengkel seperti yang kuharapkan. Dia menarik napas sambil menatapku."Orpha Dermawan!! O-R-P-H-A!!!"

Dia seperti meneriaki pembantu tapi aku bergeming. Dia memutar badan meninggalkanku, rambut lurusnya ikut berputar. Emosinya terlihat pada langkahnya yang disentak membuat bahunya naik turun.

Saat kurikuler selesai pembicaraan tentang Orpha masih berlanjut, saat kami mengayuh sepeda dan sesaat sebelum aku dan Goretty tidur, tapi nama Orpha berganti menjadi Si Dua Satu.

"Kamu yakin Si Dua Satu tidak akan merebut kursimu?"

"Yakin Retty. Kamu kenal aku kan?"

Konsentrasi kelas agama terpecah pagi itu saat penjaga sekolah memikul meja persegi panjang bercat coklat dan tidak dialasi melamin seperti semua meja di kelas aksel. Dia minta izin dengan santun pada Pastor Boromeus lalu membawah meja itu ke belakang di samping Nadeth si kacamata bundar. Aku tidak akan mau duduk di meja itu. Meja coklat tak beralas melamin hanya cocok untuk Orpha yang berusaha memantaskan dirinya untuk masuk kelas ini.

Si penjaga sekolah menuju mejaku dan tanpa mengucapkan apa-apa dia mulai merabah lempengan plastik yang bertuliskan namaku lalu berusaha mencongkelnya. Dia hanya ingin menyelesiakan perintah dan tak menganggap keberadaanku. Aku menekan lempengan itu.

"Kenapa dicongkel, Pak?!!"

"Kamu duduk di belakang, Nak. Orpha mau duduk di meja ini."

"Ini meja saya, Pak..." seisi kelas diam menatapku. Kecuali Sisilia, dia menunduk menekuri bukunya, sepertinya tahu mengapa semua ini terjadi. Efraim yang duduk di sebelah Sisilia memiringkan kepala untuk melihatku, mulutnya menganga, dua gigi depannya menonjol. Aku menoleh ke Pastor Boromeus berharap penuh agar dia berpihak padaku.

"Pastor?"

Pastor Boromeus mengangguk-angguk lalu menghampiriku. Dia menepuk pundak penjaga sekolah meminta lempengan nama Orpha dan lem. Penjaga sekolah menyerahkannya lalu Pastor Boromeus berjalan ke arah belakang sambil melumumuri lempengan itu dengan lem. Semua memutar badan mengikuti Pastor Boromeus. Dia menium-niup lempengan itu lalu menempelkan di sudut kanan atas meja coklat tak bermelamin. Semua terperangah. Aku menarik napas lega.

"Sekarang Bapak bisa ambilkan kursi Orpha Dermawan dan taruh di depan meja ini."Si penjaga sekolah kelihatan patuh. Orpha datang setelah meja dan kursinya siap. Dia menatap heran kepadaku karena aku masih di mejaku.

"Selamat datang, Nona Cantik," Pastor Boromeus menyapa Orpha dengan rama, "silahkan itu meja kamu!" dia menunjuk meja Orpha, meja coklat tak bermelamin untuk Si Dua Satu yang sekarang berwajah merah padam.

***

Joshinta Van Clark, adalah sosok yang paling menarik di Santa Monika 1, menurut versiku. Tingginya lebih dari 170 cm berkaki kecil, berkulit putih, bermata besar, berhidung mancung, dan rambutnya diluruskan dengan amoniak. Kira-kira umurnya 25 tahun, lulusan psikologi yang memulai karirnya sebagai guru konseling di Santa Monika 1. Semua orang memandangnya saat dia menyusur koridor tapi cara berjalannya menunjukkan kalau dia sama sekali tidak menyadari tatapan-tatapan itu. Dia blasteran Belanda Ambon, lebih cocok memanggilnya kakak daripada ibu.

Kegelisahan Bu Trice berakhir saat Joshinta Van Clark muncul di pintu kelas. Konsentrasi kelas beralih pada sosoknya. "Yuhuuuu....." seorang anak laki-laki bersuara sambil melihat ke arah Miss Joshi, keriuhan kecil yang tak jelas terjadi saat dia muncul. "Miss Joshi, tanda tanganin baju aku dong..." pinta Jeremy sambill menarik-narik lengan bajunya. Miss Joshi menggoyang-goyangkan telunjuk sambil melotot ke arah Jeremy. Kedisiplinan dan cara berpakaian yang benar di sekolah ini adalah tanggung jawabnya.

Sesaat sebelum dia masuk Bu Trice memaparkan teori tentang energi. Aku sudah tahu bahwa energi itu kekal, tak dapat dihilangkan namun dapat diubah. Sudah sangat lazim, namun Bu Trice merasa perlu memaparkannya lagi. "Benar Bu, energi cuma bisa diubah tidak bisa dihilangkan. Misalnya energi listrik berubah menjadi energi gerak atau energi cahaya," Orpha penuh percaya diri memaparkan sesuatu yang sudah jelas tertulis dalam buku.

"Benar sekali, Orpha!" pujian Bu Trice terdengar sangat manis.

"Apa manusia menyimpan energi, Bu?"

"Benar, Tari."

"Lalu jika manusia sudah meninggal, energi dalam tubuhnya berubah menjadi apa?"

Kelas terdiam sejenak, tak ada jawaban, aku terpaksa mengatakan hipotesaku, "Apa berubah menjadi roh atau arwah, Bu?"

"Hiiiiiiii....serammmm..." Brigita merasa takut mendengarku. Namun sesaat kemudian terdengar gumam-gumam di seisi kelas. Beberapa anak mulai mendiskusikan roh dan arwah, hantu, penampakan, vodoo hingga jelangkung. Pendapatku patut dipikirkan. Bu Trice juga kelihatan berpikir.

"Ini kelas fisika, Matari, bukan kelas perdukunan!" Bu Trice mencari jalan pintas untuk memojokkanku sekaligus membuang jauh-jauh pertanyaanku. Aku tidak merasa ingin mendebatnya, aku hanya butuh penjelasan. Beberapa anak termasuk Sisilia dan Orpha tertawa, tapi tidak semuanya.

"Saya mau ketemu Matari, Bu, boleh saya ajak ke ruangan saya sebentar?" tentu saja Bu Trice mengizinkan karena dia merasa terganggu olehku. Aku meninggalkan kelas fisika mengikuti Miss Joshi. Benakku dipenuhi pertanyaan. Aku baru saja ingin menanyakan mengapa aku dipanggil, tapi komentar bunga-bunga angrek, mawar, dan dedaunan palem di sekeliling sekolah meluncur begitu saja dari mulut Miss Joshi. Apa iya aku dipanggil dari kelas fisika untuk menemaninya membicarakan bunga-bunga?

"Aku suka angrek ungu itu, Miss!" ya aku begitu suka dengan warna ungu. Miss Joshi kelihatan memikirkan sesuatu di tengah perbincangan ringan ini.

" Suka warna ungu ya? Bisa jadi kamu orang yang ambisius."

"Aku memang ambisius Miss."

"Masa?"

Aku mengangguk mantap.

"Bagaimana rasanya jadi juara umum semester dua lalu?"

"Hmmm....senang bisa bikin Suster Feli bangga!" sebenarnya suster Feli bukan motivasi utamaku, tapi Ayah dan Ibuku. Miss Joshi tersenyum lalu mengangguk-angguk.

"Tariiiii, kamu igin menjadi hits wonder atau one hit wonder?"

"Hits wonder!" Kami sudah di ruangan konseling, duduk berhadpan di meja utama.

"Kamu senang bertarung dengan Sisil dan Fraim?"

"Tentu Miss..." Miss Joshi menumpuhkan kedua sikunya di meja lalu menopang dagu dengan kedua punggung tangan yang bertaut.

"Apa belajarmu masih serius?" matanya penuh sedidik.

Aku terdiam sejenak dan mengangguk-angguk. Ada sedikit keraguan di situ.

"Masa? Kata guru-guru nilaimu biasa saja akhir-akhir ini. Terancam tidak menjadi yang terbaik semester ini. Ada masalah?"Aku tidak suka dibawah pada susasana serius yang mengarah pada masalah pribadiku. Aku menggeleng membentuk mimik yang sangat meyakinkan, "Aku cuma intens latihan judo akhir-akhir ini. Waktuku terbagi."

"Ooooh....ya ya!" dia percaya begitu saja, atau memutuskan untuk percaya? telunjuknya bolak-balik diatas botol-botol cat kuku di samping meja berseblahan dengan kalender. "Matari, nanti malam saya mau ke resepsi, ini bajunya," Miss Joshi menunjukkan sebuah gaun berwarna hijau toska di dalam ponselnya, "menurutmu warna yang cocok buat baju ini apa?"Rasanya aku salah dengar. Miss Joshi yang cantik dan menarik itu melibatkanku untuk sebuah momen yang cukup penting? Aku melambung dan merasa dihargai.

"Hmmmm....warnaaaaaa, pink!" kusentuh botol cat berwarna pink.

"Ah, katanya suka warna ungu?"

Aku tergelak. Benar juga, aku kan sangat menyukai warna ungu, mengapa aku tiba-tiba memilih pink? "Tidak apa-apa. Manusia sering berubah pilihan kalau dihadapkan pada macam-macam situasi," kata Miss Jhosi sembari meraih botol pink dan mulai mengecat kukunya. Sulit dipercaya, dia mengikuti saranku.

"Tarii, Miss percaya kamu memang ingin menjadi hits wonder. Setiap manusia pasti ingin menjadi yang utama, tapi petarung sejatilah yang menjadi juaranya. Ya kan?" dia bicara sambil menunduk mengurusi kukunya.

"Ya Miss."

"Kamu adalah salah satu aset terbaik sekolah ini!" katanya perlahan, meyakinkan, membuatku tersipu,"Apa kamu mau posisimu diganti orang lain?"

"Tidak mau."

"Baik, artinya kamu harus menyingkirkan apapun yang mengganggu pikiranmu dan kembali seperti kamu yang dulu, mencintai pelajaran-pelajaran sekolah dan selalu merasa haus informasi, itu Tari yang dulu aku lihat!"

Lihat? Padahal kami tidak sering bertemu secara intens. Tapi yang dikatakannya tentangku benar. Ah, dia kan seorang profesional, mungkin lima ratusan anak di sekolah ini tidak luput dari perhatiannya. Dia meniup jemari kirinya tanpa sedikitpun melihat ke arahku. Keadaan itu berlangsung sekitar setengah menit lalu Miss Joshi kembali menatapku serius.

"Ada yang menunggumu di taman samping gerbang sekolah."

"Apaa?"

"Seorang bapak, katanya dia ingin ketemu kamu. Tenang, dia orang baik, sana temui dia!"

"Siapa Bapak itu Miss?"

"Nanti kamu tau sendiri, ayo jangan buang-buang waktu."

Aku mengernyitkan dahi lalu berjalan menuju pintu,"Tari!" aku menoleh ke belakang, "hits wonder kan?"

"Ya..." kataku lalu memberinya senyum manis.

Seorang Bapak? Itu pasti Ayahku. Dia tidak meninggal, dia hanya menguji mentalku dengan mengirim kabar yang tidak-tidak. Aku menuruni tangga secepat mungkin, ingin terbang rasanya. Aku melewati satpam tanpa memberi sapaan. Lelaki itu mengenakan kemeja batik, kaca mata hitam, dan celana bahan. Aku bisa melihatnya dari samping mencari-cari kemiripan anatomi wajah Ayahku, tapi aku gagal! Dia melirik sekilas lalu kembali mengarahkan pandangannya ke parkiran, dia menyentak kepalanya ke arahku saat tersadar kalau akulah orang yang dia cari. Dia berdiri lalu melepas kacamatanya.

"Matari??? Wah...sekarang kamu cantik sekali."

Aku salah, dia bukan Ayah. Aku tertegun, kecewa. Lalu siapa dia?

"Oyah.." dia meraih kedua tanganku, " masih ingat Om? Ini Om Mael, yang satu kost dengan Tari dan Papa di Jakarta waktu kamu masih kecil, ingat?"Aku mencoba mengingatnya. Samar. Tapi Ayah memang memiliki teman dekat waktu itu. Aku mengangguk, "Ya, Tari ingat, Om. Apa kabar, Om....Mael?" aku berusaha memberi kesan akrab, seolah aku benar-benar mengenalnya dengan baik.

"Baik. Saya ada urusan bisnis di Makassar, makanya Om mampir kesini, ketemu kamu. Kamu sendiri bagaimana, Nak? Kata suster panti dan guru BK cantik itu, nilai sekolahmu luar biasa. Papamu pasti bangga, Tari."Aku tersenyum pahit lalu mengajaknya duduk lagi. Bisa ditebak kalau dialah yang datang ke panti memberi tahu Suster Feli tentang kematian ayahku."Mengapa Om baru memberi tahu kabar tentang Papa bulan lalu? Bertahun-tahun aku menunggu Papa, tapi ternyata Papa sudah meninggal setahun setelah mengantarku ke panti."Dia menghela napas, tersenyum kecut lalu menepuk-nepuk pahanya."Itu pesan Papamu, Tari. Dia meninggalkan surat untukku dan untukmu juga. Katanya, kamu harus diberitahu saat usiamu sudah 13 belas tahun."

Aku menarik napas lalu mengumpulkan keberanian untuk menanyakan sesuatu,"Sepertinya Papa tahu dia akan meninggal sampai dia meninggalkan surat. Papa meninggal karena apa, Om? Suster tidak memberitahuku."

"Iya. Sayalah yang harus memberitahumu soal itu, Nak! Papamu....." tertahan, "Tari, apa waktu kamu kecil, kamu ingat kalau Papa dipecat dari pekerjaannya?"Aku mengangguk. Seingatku, aku tinggal bersama Ibu dan beberapa orang di sebuah rumah besar, di pedesaan dan Ayah mengunjungi kami sesekali. Ibu sering menceritakan Ayah dan pekerjaannya yang hebat. Sebentar lagi dia menjemput kami dan kami akan menetap di kota. Ayah pulang memakamkan Ibu lalu membawaku pergi ke tempatnya, kami sempat menempati sebuah rumah baru tapi dalam hitungan hari Ayah mengemasi pakaiannya, menangis di pintu rumah itu lalu mengajakku tinggal dalam sebuah kamar. Dia kehilangan segalahnya. Pekerjaan dan rumah mungil yang dia bangun untuk kami.

" Apa kamu merasa dikejar-kejar?"

"Yah..."

Pintu kamar kami sering diketuk oleh seorang laki-laki bersuara keras dan garang. Saat itulah Ayah menarikku ke sudut dan memintaku diam. Ayah sering mengangkatku tiba-tiba saat kami sedang jalan-jalan di malam hari lalu berlari dengan kencang.

"Mereka adalah preman suruhan para rentenir, Tari. Ayahmu punya utang di seorang rentenir. Papamu...diaaaa...tidak sanggup membayar utang-utangnya. Preman-preman itu mengancam akan membunuhmu dan Papamu," aku menelan ludah, "karena itu aku menyarankan agar Papamu membawahmu pulang ke rumah kakek nenekmu agar kamu tidak terseret-seret masalah ini."

"Lalu?"

"Tapi ternyata Papamu menitipkanmu di Panti."

"Kenapa Papa tidak menitipkan aku di rumah kakek nenek saja?"

"Pertama mereka sudah tua, kedua...." dia menghela napas, "sulit dibicarakan Tari, tapi kamu harus paham maksud Papamu. Dia punya setumpuk utang karena harus memakamkan Mamamu. Pemakaman menurut adat kalian membutuhkan biaya yang gila-gilaan, apalagi mereka mempunyai status soasial yang tinggi. Jadi, begini......" Om Mael kelihatan bingung.

"Ya aku mengerti Om. Papa tidak ingin aku hidup dalam lingkaran adat."

"Yahaa..." Om mael sedikit tergelak mendengar diksiku yang tepat sasaran.

Mozaik kejadian itu terlintas di kepalaku. Langit mulai bercayaha sesaat setelah adzan subuh. Ayah menggandeng tanganku dan berjalan cepat. Aku terluntah-luntah mengikutinya. Dia menyuruhku duduk manis di depan sebuah kapel, meletakkan dengan rapi barang-barangku, sebuah tas pakaian dan map di lantai. Perasaan sedih tiba-tiba menyerangku, seolah tahu aku akan ditinggalkan di kapel itu.

"Matariii..."dia berlutut lalu memegang pundakku. Pantulan cahaya di matanya semakin tajam, sembab, "Papa harus pergi, Tari harus tinggal di sini, tapi tidak lama. Papa akan jemput Tari, Papa janji. Tari tinggal disini saja ya, jangan kemana-mana .Kalau ada yang ajak Tari keluar dari sini, bilang kalau Tari punya Papa, Tari menunggu Papa, oke?"Aku menggeleng-geleng sambil menangis, "ssstt...diam, jangan cengeng!". Seingatku dia memelukku erat sekali lalu memberiku kecupan di kening, aku memegang ujung bajunya, memohon agar dia tidak meninggalkanku tapi dia melepasnya dengan kasar. Ayah menghilang, aku sendirian di kapel itu menagis dan ketakutan berada di tempat yang asing. Sampai akhirnya pintu kapel terbuka saat ibadat pagi selesai dan suster-suster biara menemukanku, seorang anak kecil dan tas pakaiannya. Itulah hari terakhir aku melihat Ayah dan hari pertamaku dengan suster Feli serta panti asuhan Lima Roti Dua Ikan. Om Mael bertanya apakah aku membenci Ayahku, tentu saja tidak, aku sangat merindukannya, aku hanya kecewa karena dia tidak menepati janjinya.

"Lalu bagaimana Papa meninggal?" aku mengulang pertanyaanku. Begitu berat mengatakannya tapi dia sadar inilah saatnya. Cerita itu mengalir, Ayahku pikir dia bisa menyelesaikan semua, dia kembali ke Jakarta. Tapi semuanya tidak berjalan dengan mulus. Frustasi berat melandanya.Ditemukan botol racun dan surat-surat di meja kamarnya, dan dia berbaring sambil mendekap foto Ibu.

"Arrrhhhsssssss......"

Aku menutup kupingku. Wajahku memerah. Jangan menangis Matari, jangan menangis. Aku berkata pada diriku sendiri. "Tapi dia tidak terbunuh...." Ucap Om Mael. Aku tidak memberi komentar.

"Apa pihak gereja memakamkan Papa?"Om Mael menggeleng. Tak ada requiem bagi mereka yang bunuh diri. Masyarakat sekitar membungkus jenazah Ayahku lalu menguburkannya di TPU. Sesederhana itu, tidak seribet pemakaman Ibu. "Tak ada yang mendoakan Ayahmu waktu itu, Matari. Miris. Karena itu diam-diam saya membacakan doa di pusaranya, menurut agama saya. Tidak tahu itu salah atau benar, saya hanya mengikuti kata hati, manusia harus didoakan, masalahnya saya dan Papamu beda agama."

Kami sama-sama tertegun. "Om minta maaf Tari, mungkin itu salah."

"Tidak perlu minta maaf Om. Aku justru berterima kasih karena Om satu-satunya yang peduli."

Tiba-tiba aku teringat cerita alkitab tentang Orang Samaria yang baik hati. Om Mael memiliki hati yang sama.


[1] Saya

[2] Kamu

[3] Bahasa Toraja yang berarti surga

[4] Tempat latihan judo