Mohon tunggu...
Fathurrahman Helmi
Fathurrahman Helmi Mohon Tunggu... Mahasiswa -

Menulislah seperti Kau Bernafas! | Kontak: Fathur99mbo@gmail.com atau @fathoerhelmi (twitter)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Atjeh Pungo Pisan? (Atjeh Gila Banget?)

9 Mei 2015   11:14 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:13 676 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
1431145588501188931

Warning!: Tulisan ini mengandung konten pribadi. Niatnya cuma sharing. Merasa tidak nyaman sok close saja. Opini sesuai pengetahuan dan pemikiran saya. Anda tidak senang tulisan saya, saya tidak membenci anda. Ini style saya sok urusin style sendiri. #NamanyaJugaHidup.


Saya dulu ketika SMP dan SMK sempat membaca buku berisi tulisan tentang Aceh dari Taufik Al Mubarak di perpustakaan pribadi punya orang tua di rumah ortu saya di banda aceh. Judul bukunya adalah Aceh Pungo (Aceh Gila). Saya tertarik karena memang judulnya provokatif apalagi menyangkut daerah dan entitas saya sebagai orang Aceh. Buku ini berisi opini Taufik Al Mubarak tentang sikap, perilaku hingga hal-hal yang dilakukan oleh orang Aceh yang terkesan gila dan tidak masuk akal. Sebenarnya orang Aceh kenapa disebut gila karena memang itu yang disematkan oleh Belanda pada jaman penjajahan dan kolonialisme sebelum kemerdekaan. Gekke Atjehsche  (orang Aceh gila) muncul karena memang saat 1910 – 1920 terjadi pembunuhan khas Aceh yang tidak lagi dalam sistem kelompok untuk berperang. Bahkan juga muncul di tahun selanjutnya sampai 1942.

Dikutip dari tulisan Pak Rusdi Sufi seorang sejarawan Aceh di Atjehcyber.net : Salah seorang perwira Belanda yang menjadi korban akibat pembunuhan khas Aceh ini ialah Kapten CE Schmid, komandan Divisi 5 Korp Marsose di Lhoksukon pada tanggal 10 Juli 1933, yang dilakukan oleh Amat Lepon. Sementara pada akhir bulan Nopember 1933 dua orang anak-anak Belanda yang sedang bermain di Taman Sari Kutaradja (sekarang Banda Aceh) juga menjadi korban pembunuhan khas Aceh ini.

Sampai banyak yang bertanya kenapa bisa seorang aceh cuma membawa sebilah rencong dibalik bajunya bisa melakukan pembunuhan terhadap petinggi belanda yang sangatlah membuat belanda mengeluarkan kata Aceh Pungo.

Itu sekelumit cerita kenapa Aceh identik dengan istilah Pungo atau gila. Salah satu tulisan Taufik Al Mubarak di dalam bukunya adalah tentang Cangkoi (Cangkul) yang memang punya prinsip mencangkul apapun tapi tanah sisa cangkulnya dibuang ke belakang yang memang sering terjadi di dalam orang Aceh lebih gila harta dan untuk kepentingan sendiri sementara orang lain hanya kena kotornya saja.

Salah satu tulisannya juga adalah tentang orang Aceh yang gila sama perang. Iya orang aceh apa aja diajak perang dan dari jaman Iskandar Muda hingga Gerakan Aceh Merdeka mereka tetap melakukan perang sebagai bagian dari penyelesaian sebuah konflik. Hebatnya lagi orang Aceh tidak pernah kalah dalam berperang. Tercatat masa kerajaan Aceh saat di awal kemerdekaan Aceh kerajaannya tidak pernah runtuh yang ada malah bergabung dengan Indonesia dengan Syarat Syariat Islam. Bagaimana dengan DI/TII nya Tengku Daud Beureueh? memang ditumpas tapi tetap saja Aceh mendapatkan hak membuat provinsi sendiri dengan sebutan daerah istimewa seperti janji Jakarta dulu. Bagaimana dengan GAM? GAM bisa disebut tidak kalah. Mereka hanya berdamai dengan RI tapi mereka malah menang. Menang dalam hal apa? GAM berhasil menyelipkan UUPA sebagai syarat untuk damai mulai dari Wali Nanggroe yang merupakan tradisi GAM hingga Bendera Daerah yang masih diperdebatkan karena menyerupai bendera GAM. UUPA adalah Undang-Undang Pemerintah Aceh yang mana Aceh bisa mengurusi beberapa aspek dalam kehidupannya sebagai bagian dari Indonesia. Aceh menurut saya sudah seperti Hong Kong maupun China Taipei.

Madzhab Hana Fee merupakan tulisan Taufik Al Mubarak dalam buku tersebut juga memplesetkan Madzhab Hanafi dalam konteks kata nya saja tapi jika kita artikan Hana Fee yang dalam bahasa Indonesia adalah tidak ada uang. Orang Aceh tidak akan kerja kalau tidak ada uang. Memang itulah yang memunculkan istilah gila harta di buku Aceh Pungo tersebut. Mungkin itu juga yang juga sampai menyerempet kenapa mahar perempuan aceh dan meminang mereka sangat mahal katanya. Bahkan bisa menempati nomor 3 atau 4 dalam pernikahan dan mahar termahal se Indonesia. WOW!

Oke saya sudah jelasin kenapa Aceh sering disebut Pungo. Bukan hanya orang luar bahkan orang Aceh juga sering menyebut orang Aceh sendiri gila. Era saat ini mungkin kegilaan orang Aceh muncul dari Qanun (undang-undang di aceh) yang terlalu mendetail hingga ke privasi orang-orang. Baru saja saya membaca berita berjudul "Ketika Manekin Telanjang Dianggap Undang Birahi di Aceh (Baca: http://www.tempo.co/read/news/2015/05/09/058664824/Ketika-Manekin-Telanjang-Dianggap-Undang-Birahi-di-Aceh )

Sedikit saya cuplik dari berita tersebut:

Yang menggelikan, qanun juga melarang penjual pakaian memasang baju pada patung (manekin) perempuan. Tanpa rujukan yang bisa dipercaya, pembuat qanun beralasan manekin yang “seksi” bisa menggugah berahi kaum lelaki. Padahal, sejatinya, pikiran mesum itu bercokol pada “otak” seseorang, bukan pada sehelai baju atau sepotong tubuh patung yang dia lihat. Wajar saja bila pasal manekin ini paling banyak diolok-olok di media sosial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan