Mohon tunggu...
Fathnan.id
Fathnan.id Mohon Tunggu... Blogger, Web Design & Freelancer. Kenali saya lebih dekat di: https://fathnan.id/tentang-saya/

Pria kelahiran Tuban Jawa Timur. Seorang santri yang pernah nyantri di beberapa pesantren dan sempat menjadi idola santri putri pada saat itu.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Gelenggang Senyum (7)

7 Oktober 2019   23:44 Diperbarui: 11 Oktober 2019   08:59 27 0 0 Mohon Tunggu...

Tidak ada yang memungkiri soal kecerdasan Saja. Sejak TK hingga kuliah, selalu ia menggondol juara. Juga tidak ada yang mampu menyangkal soal kecantikannya. Bangun tidur saja, nilai cantiknya masih berada di atas para pemenang kecantikan dunia. Tidak heran, jika Saja diperebutkan banyak pria sejak dulu di kampungnya, hingga kini di kota. Mulai dari teman sekelasnya, sekampusnya, hingga dosen-dosen pengajarnya, baik yang masih perjaka maupun yang telah beristri.

Hilma, teman satu kost Saja, sering menjadi sasaran "kirim salam" orang-orang itu. Tidak ada yang menarik untuk ditemui Saja dari semua list pengirim salam kecuali satu, saat Saja sudah hampir menyelesaikan kuliahnya.

Saja sudah berhenti bekerja di kafe, dan ingin konsentrasi dengan tugas akhir kuliahnya. Tabungannya, mungkin hanya cukup untuk kebutuhan sehari-harinya, dan bukan termasuk biaya yang akan banyak dikeluarkan di semester terakhir kuliahnya. Barangkali itu sebabnya, ia ingin segera menemui orang yang akan menjadi tulang punggungnya, yang memberi kehangatan di saat ia kedinginan, dan memberi kesejukan saat ia kepanasan.

Mereka bertemu di sebuah kafe saat mega merah hendak menyelam di ufuk magrib, kafe yang belum lama ia berhenti di tempat itu. Seakan-akan, di Jakarta hanya satu kafe itu. Dan ia memang belum pernah ke kafe lain. Saja yakin betul, di kafe itu ia akan menemukan jodohnya. Dan, mungkin yang akan ditemuinya itu, dialah jodohnya.

Saja memesan es teh. Sementara lelaki rupawan di hadapannya memesan secangkir kopi.

"Tidak sekalian pesan makanan?" Lelaki itu bertanya.

"Aku tidak makan malam dengan orang yang belum aku kenal."

"Apakah kamu akan menerima bunga di malam hari oleh orang yang akan kamu kenal?" Lelaki itu menyodorkan seikat bunga.

Saja seperti pernah mengalami malam ini. Ya, dalam mimpi. Saja selalu gagal mengingat rupa lelaki misterius dalam mimpinya itu. Tetapi berhadapan dengan lelaki yang kini berada di hadapannya, ia yakin, dialah lelakinya.

"Aku tidak menerima bunga dari laki-laki yang hanya ingin bermain-main denganku."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x