Mohon tunggu...
Fathnan.id
Fathnan.id Mohon Tunggu... Blogger, Web Design & Freelancer. Kenali saya lebih dekat di: https://fathnan.id/tentang-saya/

Pria kelahiran Tuban Jawa Timur. Seorang santri yang pernah nyantri di beberapa pesantren dan sempat menjadi idola santri putri pada saat itu.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Gelenggang Senyum (4)

3 Oktober 2019   20:28 Diperbarui: 3 Oktober 2019   21:52 0 0 0 Mohon Tunggu...
Gelenggang Senyum (4)
pixabay.com

Termasuk beruntung bagi orang yang hanya memiliki ijazah Tsanawiyah bisa mengajar di sekolah formal. Bassam menjadi guru gambar di SD Gendakan. Sebuah sekolahan yang terletak di mulut hutan. Bangunannya sangat tua dan menyeramkan. Di belakangnya, ada kuburan Belanda. Setiap bulan, selalu ada korban kesurupan. Sudah pernah didatangkan orang pintar agar mengusir hantu-hatu di sana, tetapi alih-alih mengusir, tragedi kesurupan justru semakin sering.

Belakangan, si orang pintar ketahuan ternyata dukun palsu. Tidak ada silsilah perdukunan yang jelas, bukan juga ia seorang indigo atau wali atau apa pun. Ia hanya dukun amatir yang belajar dari buku-buku primbon murahan yang dibeli di pasaran.

Keseluruhan siswa di sekolah itu, dari kelas satu sampai kelas enam, tidak lebih dari tujuh belas anak. Sementara guru yang mengajar, totalnya sampai tiga puluh orang, dan semuanya digaji.

Di antara pengajar-pengajar lainnya, gaji Bassamlah yang paling kecil, meskipun jadwalnya yang paling padat. Selain karena mata pelajarannya yang dianggap hanya gitu-gitu saja, dia juga guru baru, dan satu-satunya guru yang belum bergelar sarjana, boro-boro sarjana, Aliyah saja tidak. Gajinya sebulan, hanya cukup untuk memenuhi asupan nikotin dan kafein selama dua puluh lima pagi. Lima pagi akhir bulan, minta sama kedua orang tuanya.


Selain menjadi guru gambar, Bassam juga menjadi guru ngaji di Langgar Penceng.  Guru ngaji adalah guru yang harus ikhlas. Betapapun pekerjaan itu telah merenggut banyak waktu, tetapi ia merupakan pekerjaan sakral.

Tidak boleh berharap gaji. Yang diajarkan adalah ayat suci. Meminta gaji, sama dengan menjual ayat suci. Gajinya bukan dari manusia, tetapi dari Tuhan Yang Maha Esa. Itu sebabnya, banyak yang enggan menjadi guru ngaji. Bukan karena mereka tidak percaya pahala, tetapi mereka butuh makan untuk mempertahankan hidupnya.

"Kamu tidak ganti kerja saja?" Mardiah bertanya.

"Mana ada yang mau terima bocah yang tidak memiliki ijazah, Bu?"

"Ya bercocok tanam, kan, ndak perlu ijazah."

"Keluarga kita harus bervariasi, Bu."

"Daripada jadi guru, gajinya kecil."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x