Mohon tunggu...
Fathnan.id
Fathnan.id Mohon Tunggu... Blogger, Web Design & Freelancer. Kenali saya lebih dekat di: https://fathnan.id/tentang-saya/

Pria kelahiran Tuban Jawa Timur. Seorang santri yang pernah nyantri di beberapa pesantren dan sempat menjadi idola santri putri pada saat itu.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Gelenggang Senyum II

1 Oktober 2019   20:45 Diperbarui: 3 Oktober 2019   08:36 0 2 0 Mohon Tunggu...
Gelenggang Senyum II
Gelenggang Senyum II |

Tidak makan dan minum kecuali air susu ibunya selama dua tahun, menjadikan tulang-tulangnya begitu kuat. Otot-otot kaki dan tangannya juga keras dan kencang. Memang, baru di usia lima tahun ia mampu berdiri, tetapi ia berdiri dengan sangat tegak.

Jika berjalan, dadanya membidang dan arah wajahnya lurus ke depan, dan langkahnya begitu mewibawa dan berirama, seperti orang yang sudah berusia dua puluh lima. Pakaiannya sangat rapi dan bersih, tanpa ada satu pun bagian yang lungset atau bernoda.

Hari ini adalah hari pertamanya bersekolah. Ia mendapat duduk di bangku paling belakang, di samping anak-anak yang petakilan. Anak ini bukan saja pendiam, tetapi juga tak pernah, atau lebih tepatnya memang tidak bisa berekspresi. Ia diam saja saat ada yang menjahili.

Pandangannya selalu ke papan tulis saat guru mengajarkan, dan ternyata itu tak membuatnya pintar. Di akhir tahun pelajaran, saat pengambilan rapot sekolah, Kardi dan Mardiah menangis, sebab anaknya memiliki nilai merah semua.

"Dia selalu memerhatikan saat pelajaran berlangsung. Saya benar-benar tidak menyangka, ternyata anak Anda setolol itu. Tetapi berkat keaktifannya belajar, walau dia sangat tolol, kami akan tetap mengusahakan agar dia bisa naik kelas.

Tetapi saya berharap, di kelas selanjutnya, anak Anda bisa berhenti dari ketololannya." Wali kelas itu tidak menyadari, bahwa setiap ia bilang "tolol", hati Kardi dan Mardiah seperti ditusuk oleh linggis yang terbuat dari api neraka.

"Itu karena mereka menempatkanku di bangku belakang, Pak, Bu," kilah Bassam, saat Kardi memukuli tangan dan kakinya dengan ikat pinggang.
Ikat pinggang adalah satu-satunya opsi hukuman yang terpikir oleh Kardi. Karena ia pernah memukul dengan tangan, tangannya sendiri yang sakit. Saat ia memukul dengan gagang sapu, gagang sapunya yang patah.

"Kalau tahun depan kau masih berada di peringkat terakhir, kau bukan anakku lagi, Bassam." Kardi memungkasi kemarahannya.

"Apakah itu berarti kau bukan lagi ayahku?" tanggap Bassam dengan wajahnya yang imut nan datar serta menjengkelkan itu.
"Dia benar-benar anakmu, Kard. Pandai bersilat lidah," sahut Mardiah.
"Di usianya, aku belum sepandai itu, Mard."

Di kelas berikutnya, Bassam duduk paling depan. Dan itu sama sekali tidak membuatnya terentas dari kedunguannya menerima pelajaran. Di tengah pelajaran, saat guru bertanya, Bassam tidak pernah menjawab.

Sekali menjawab, ia hanya menjawab dengan "a", "e", atau "o". Itu membuatnya menjadi korban bully teman-temannya. Dan ketika itu, ia mendapat julukan baru: si Bisu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
KONTEN MENARIK LAINNYA
x