Mohon tunggu...
Fatmi Sunarya
Fatmi Sunarya Mohon Tunggu... Penulis - Bukan Pujangga

Penulis Sederhana - Kompasianer Teraktif 2020-2021 "DILARANG MEMUAT ULANG ARTIKEL UNTUK TUJUAN KOMERSIAL 😑"

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Hikayat Sekuntum Lily

19 September 2022   08:38 Diperbarui: 19 September 2022   08:39 245 66 16
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi https://www.piqsels.com/id/public-domain-photo-ffdyv

Lily kecil baru bisa ciluk ba dan bertepuk tangan. Saat itu usianya delapan bulan. Dia melihat senyum manis bunda, derai tawa ayah. Ingatan selalu merekah.

Keluarga kecil yang bahagia. Liburan keluarga yang penuh tawa. Mereka melintasi jalan berkelok dengan jurang di kanan jalan. Di sisi kiri dinding tanah dengan warna coklat kemerahan.

Hati-hati Ayah, suara bunda kuatir. Ayah hanya tertawa, tawa terakhir. Lily kecil mendengar teriakan. Pelukan bunda erat dalam hempasan.

Lily hanya merasa tubuhnya jatuh melayang bersama bunda. Ayah? Entah di mana. Lily, air matanya tumpah. Kenapa bunda diam dan tubuhnya dibanjiri warna merah.

Sendiri merangkak. Bunda tak lagi menyanyikan lagu nina bobo, membisu tak bergerak. Lily ikut tertidur panjang. Kala bangun, seorang perempuan berbaju putih tersenyum memandanginya terbaring di ranjang.Β 

Sehelai foto, di belakangnya bertuliskan "Ayah, Bunda dan Lily" telah buluk. Menemani hari-hari tanpa peluk. Lily, putih beraroma manis. Telinga menyimpan kenang terngiang. Ayah dan Bunda, pensil hitam ini telah rapuh menggambar rindu meraba bayang.

SungePnoh, 19 September 2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan